Sony Corp's President and Chief Executive Officer Hirai presents a new Sony Xperia Z1 smartphone during it's world premier at the IFA consumer electronics fair in BerlinHonami atau Sony Xperia Z1 adalah model smartphone terbaru Sony Corp. yang dikenalkan secara serentak di ajang IFA, Berlin, 2013 dan Kuala Lumpur, Malaysia, pada Kamis (5/9) silam. Ponsel tersebut diharapkan dapat memuluskan target Sony untuk menjadi pabrikan smartphone terbesar ketiga dunia setelah Samsung dan Apple. ”Xperia Z1 adalah ekstrak terbaik Sony,” ujar CEO Sony Kazuo Hirai.

Xperia Z1 sekilas memiliki fitur yang tak jauh berbeda dengan Xperia Z. Layarnya berukuran 5 inci (beresolusi 1.920 x 1080 piksel) dengan panel Triluminos milik Xperia Z Ultra. Di dalamnya ada prosesor Qualcomm Snapdragon 800 2,2 GHz, RAM 2 GB, memori internal 16 GB, dan microSD 64 GB. Smartphone tersebut juga memiliki sertifikasi ketahanan air dan debu.

Namun, fitur rahasia smartphone tersebut ada pada sisi kameranya yang disebut-sebut bersaing dengan Nokia Lumia 1020 dan Samsung Galaxy S4 Zoom. Ketiga smartphone tersebut memiliki sensor gambar lebih besar dari 15 megapiksel.

Kamera utama Xperia Z1 beresolusi 20,7 megapiksel. Sensor Exmor RS 1/2.3 inci (70% lebih besar dari rata-rata smartphone saat ini), prosesor Bionz, dan aperture F/2.0 adalah spesifikasi yang biasa ditemukan di kamera digital. Karena itu, pihak Sony mengklaim bahwa Xperia Z1 yang dirilis global mulai September 2013 tersebut mampu menghasilkan foto hebat di pencahayaan minim.

Fitur lain yang menarik adalah fitur Info-Eye dimana kamera dapat melakukan pencarian menggunakan gambar (mirip Google Goggles), augmented reality, kemampuan merekam 61 gambar sekaligus dalam 2 detik, serta dukungan layanan cloud PlayMemories.

Tapi yang istimewa adalah ketika Sony mengenalkan keluarga lensa Cyber-shot QX khusus kamera, QX100 dan QX10. Lensa tersebut memiliki prosesor, lensa, serta teknologi NFC. QX100 memiliki sensor Exmor R 1 inci dengan resolusi 20,2 MP F/1.8 ZEISS Vario-Sonar, dan optical zoom perbesaran 3,6 kali, serta penyetabil gambar. Sementara QX10 lebih compact dengan optical zoom 10 kali, lensa Sony tipe G, dan sensor 1/2.3 inci 18.2 megapiksel Exmor R.

Kedua lensa tersebut mampu merekam 1.440x1080p video di 30 fps, memotret 230 frame dan 55-65 menit video sekali charge. Kedua lensa tersebut dapat bekerja tanpa harus terkoneksi di smartphone. Meski demikian, harganya cukup tinggi, yakni USD500 (Rp5 juta) untuk QX100 dan USD250 (Rp2,5 juta) untuk QX10.

Andalkan Mobile Phone

Tahun lalu, Kazuo Hirai menegaskan bahwa kategori perangkat mobile, game, dan digital imaging adalah inti dari upaya rebound yang dilakukan Sony di kategori perangkat elektronik. Selama lebih dari satu dekade terakhir, perusahaan pionir dari MP3 player dan CD tersebut terus menderita kerugian. Pada tahun fiskal 2011/2012, misalnya, total kerugian mereka mencapai USD5,74 miliar (Rp57 triliun).

Dan dari ketiga kategori tersebut, perangkat mobile seperti smartphone dan tablet adalah prioritas utama Sony.

Karena itu, tugas berat menanti. Sebab, hingga kuartal kedua 2013 firma riset Gartner menyebut bahwa Sony tidak masuk ke dalam lima besar vendor smartphone dunia. Saat ini Sony ada di posisi 9 besar dengan 2,2 persen market share, naik dari hanya 1,7 persen tahun sebelumnya.

Nasib Sony sedikit banyak mirip dengan apa yang dialami Nokia. Saat ini Nokia memang masih menjadi vendor ponsel terbesar kedua dunia, namun kesulitan dalam menjual produk smartphone mereka (yang tentu saja mendatangkan untung lebih besar).

Baik Nokia maupun Sony sama-sama terdesak oleh Samsung Electronics dan Apple Inc yang jika digabungkan penjualan produk keduanya mencapai 50 persen dari penjualan smartphone secara global.

Yang pasti, untuk mencapai posisi tiga besar, Sony harus mengalahkan dulu kompetitor terdekat mereka seperti Huawei Technologies dan ZTE Corp dari China serta LG Electronics asal Korea.

Kesempatan itu tentu masih terbuka. Firma riset IDC menilai pengapalan smartphone pada 2013 akan tumbuh 32,7% ke angka 958,8 juta unit dibandingkan 722,5 juta unit tahun lalu. Untuk pertama kalinya pula tahun ini pengapalan smartphone sudah melampaui feature phone.

Di Indonesia, meski tertinggal dari Samsung yang mengklaim memiliki 80 persen market share smartphone Android di pasar lokal, selama 2011-2012 silam secara nilai dan kuantitas mereka tumbuh lebih dari 50 persen (data GfK Indonesia). Tahun ini Sony juga berniat meraih posisi tiga di pasar smartphone dengan pertumbuhan yang juga lebih dari 50 persen.

Iklan