File photo of Lei Jun, founder and CEO of Xiaomi, speaking at a launch ceremony of Xiaomi Phone 2 in BeijingVendor ponsel asal China yang mampu menjual 100 ribu unit smartphone hanya dalam waktu 90 detik ini adalah Xiaomi. Mereka menyebut bisnis mereka sebagai gabungan dari Apple, Amazon, dan Google.

Melihat gayanya yang ”slengean”, tak heran jika media di China melabeli CEO Xiaomi Tech Lei Jun sebagai Steve Jobs-nya Asia. Lei Jun sama sekali tidak keberatan dengan sebutan itu. Namun, ia bisa marah jika Xiaomi dibanding-bandingkan dengan Apple. Sebab, menurut Lei Jun, bisnis Xiaomi dan Apple berbeda 180 derajat. ”Xiaomi bukanlah perusahaan hardware,” ujar Jun, yang kerap muncul di hadapan publik hanya mengenakan kaos, celana jins, dan sneakers itu.

Sejak beberapa bulan terakhir ini Xiaomi memang banyak diperbincangkan. Bukan hanya media di China saja, namun juga di seluruh dunia. Ini karena perusahaan yang baru berjualan smartphone sejak 2010 itu secara tiba-tiba mampu menjual ponsel lebih banyak daripada Apple di China, negara yang memiliki pasar smartphone terbesar di dunia itu.

Pada kuartal kedua 2013, market share Xiaomi telah menggeser Apple, mampu membuat khawatir merek-merek yang telah mendunia seperti Huawei, ZTE, Lenovo, dan Samsung. Hongmi, salah satu model smartphone terlaris Xiaomi, terjual 100.000 unit hanya dalam waktu 90 detik!

Hongmi yang berarti kacang merah itu memiliki layar beresolusi 4,7 inci (720 x 1280) dan kepadatan 312 piksel per inci (ppi), sudah menggunakan prosesor 1.5 GHz, RAM 1 GB, kamera utama 8 MP, dan memori internal 4 GB (dapat ditambah hingga 32 GB dengan microSD). Banderol harga ponsel yang mendukung TD-SCDMA 3G (hanya bisa digunakan di China) itu cuma Rp1,3 juta.

Dan bukan cuma Hongmi yang jadi kisah sukses dari Xiaomi. Model flagship (terbaik) mereka, Mi 2S, adalah smartphone dengan penjualan terbesar di China. Tipe lama, Mi 2, menurut situs TechCrunch telah terjual hingga 7,19 juta unit. Menurut benchmark dari Antutu, Mi 2 bahkan memiliki skor lebih tinggi dari HTC One dan Samsung Galaxy S4.

Padahal, harga Mi 2S hanya USD276 (Rp2,7 juta) jika dibandingkan dengan Galaxy S4 yang mencapai Rp7,5 juta saat awal dirilisnya. Sekitar 200 ribu unit Mi 2S ludes hanya dalam waktu 45 detik.

Pertanyaannya kemudian adalah ini: bagaimana Xiaomi mampu menjual smartphone dengan harga yang begitu terjangkau dan spesifikasi begitu tinggi?

Menjawab pertanyaan itu, CEO Lei Jun menjelaskan soal bisnis model Xiaomi yang memang unik. ”Smartphone Xiaomi hanya bertindak sebagai carrier. Sama seperti Microsoft menjual Windows di dalam CD. CD hanya sebagai carrier, produk sebenarnya ada di software,” katanya. ”Terkadang orang sulit mengerti seperti apa Xiaomi,” ia menambahkan.

Menjual hardware memang bukan jadi sumber pendapatan utama Xiaomi. Tujuan utama mereka ada pada software. Terutama e-commerce dan game. Yang mereka sasar adalah ini: bisnis internet di China yang tahun lalu bernilai USD9 miliar (Rp90 triliun) dan pada 2015 mendatang diperkirakan bakal menembus USD30 miliar (Rp300 triliun).

Karena itu, Jun mendefinisikan perusahaannya ”sepintas mirip Apple, tapi sebenarnya lebih condong ke Amazon serta memilki beberapa elemen Google,”.

Bahkan, saat ini pria berusia 43 tahun itu sudah siap merubah arah perusahaan. Mereka ingin disebut kompetitor dari rakasasa IT China yang telah mendunia: Alibaba Group Holding, Baidu Inc, serta Tencent Holdings Ltd.

Saat ini, pendapatan perbulan Xiaomi adalah USD3,72 juta (Rp37,2 miliar) yang di dapat dari platform mobile internet mereka seperti game center, online marketplace, serta layanan social messaging yang bersaing langsung dengan WeChat.

Jun percaya bahwa pendapatan Xiaomi dari ketiga bidang itu akan terus meningkat seiring waktu. Bahkan, pada akhir 2014 mendatang mereka menargetkan bisa meraih pendapatan USD21 juta-USD24 juta (Rp210 miliar-Rp240 miliar) per bulan. ”Saat itu ekosistem software dari Xiaomi sudah sempurna,” katanya.

Dengan kata lain, apa yang dilakukan Xiaomi mirip dengan apa yang dilakukan Amazon dengan Kindle. Yakni, memangkas harga hardware semurah mungkin agar semakin banyak penggunanya. Setelah itu, proses monetisasi dilakukan dengan pemilik tablet yang berbelanja di toko online Amazon.

Ambisi Jun memang besar. Tapi, sebagai pemain baru, sebagian analis melihat strategi Jun dengan pesimistis. Mengapa? Karena rival-rival Xiaomi dianggap terlalu besar, dan memiliki layanan mobile internet yang sudah terlampau matang.

Dan mungkin masalah terbesar adalah ini: kebiasaan pengguna di China yang kurang lebih serupa dengan di Indonesia, yakni sudah terbiasa dengan sesuatu yang gratis dan enggan membayar untuk software/peranti lunak.

”Apple memiliki ekosistem yang paling hebat. Ekosistem itu yang membuat orang tetap menggunakan iPhone atau iPad, bukan sebaliknya,” ungkap Michael Clendenin, konsultan RedTech Advisors di Shanghai.

Saat ini, Xiaomi ditaksir bernilai USD10 miliar (Rp100 triliun), sedangkan perusahaan internet terbesar di China, Tencent, memiliki kapitalisasi pasar senilai USD88,6 miliar (Rp880 triliun). Sementara itu, pemilik mesin pencari terbesar di China, Baidu, bernilai USD49,5 miliar (Rp490 triliun), dan Alibaba sendiri bernilai USD100 miliar (Rp1000 triliun).

WeChat, aplikasi chatting Tencent yang belakangan aktif melebarkan sayap ke Asia itu digunakan oleh 50 persen dari pengguna smartphone di China. Sedangkan Taobao milik Alibaba adalah situs belanja online terbesar di China dan bahkan masuk dalam 20 besar situs yang paling banyak dikunjungi di seluruh dunia. Begitupun Weibo milik Sina Corp yang menjadi platform microblogging terpopuler di China.

Lawan-lawan yang teramat tangguh inilah yang disebut Michael Clendenin sangat sulit untuk ditaklukkan oleh Xiaomi. ”Jika Jun berpikir ia menjual smartphone canggih dengan harga murah untuk bisa menggeser para penguasa pasar itu, maka ia akan mendapat perlawanan yang sangat berat kedepannya,” paparnya.

Apapun itu, Xiaomi akan terus melangkah kedepan. Baru-baru ini, misalnya, perusahaan tersebut mampu meyakinkan Hugo Barra, VP yang bertugas mengembangkan produk Android milik Google untuk bergabung. Barra kini menjabat sebagai Vice President of Xiaomi Global, menegaskan bahwa perusahaan tersebut tidak hanya akan mengincar China. Tapi juga negara-negara lain di dunia. Termasuk Indonesia? Kenapa tidak. danang arradian

Tentang Xiaomi
– Xiaomi saat ini menjadi perusahaan e-commerce terbesar ketiga di China.
– Pendapatan Xiaomi dari layanan mobile internet mereka sudah mencapai USD3,2 juta (Rp32 miliar) perbulan dan ditargetkan tembus USD24 juta (Rp240 miliar perbulan) pada akhir 2014.
– Xiaomi memiliki game center sendiri di sistem operasi Android yang telah dimodifikasi dengan sangat berbeda. OS modifikasi itu disebut MIUI (dibaca Me You I).
– Bisnis model Xiaomi kebalikan dari Apple. Jika Apple mendapat untung dari hardware, Xiaomi justru menjual hardware murah dengan harapan penggunanya bisa “berbelanja” di software dan layanan yang telah disediakan.
– Xiaomi memiliki 5 persen market share smartphone di China, melampaui Apple di angka 4,8 persen. Yang terbesar masih Samsung dengan 17,6 persen. Namun, Xiaomi hanya butuh waktu 2 tahun untuk bisa menyalip Apple di China. Market share smartphone di China adalah sepertiga dari total pasar smartphone dunia.
– Pada 2013, Xiaomi memperkirakan mampu menjual 20 juta unit smartphone (dua kali lipat dari 2012).
– Xiaomi sangat selektif dalam memilih karyawannya, dengan eksekutif jebolan dari perusahaan seperti Microsoft, Motorola, hingga Google.
– Selain China, ponsel Xiaomi juga dijual di Taiwan. Kabarnya, perusahaan tersebut juga mengincar Indonesia.

Iklan