nokia_comes_with_music_laptopKapan terakhir kali Anda mendengarkan lagu grup musik favorit melalui CD? Apakah melalui perangkat audio di rumah? Ataukah lewat CD player yang ada di mobil? Atau malah Anda sudah lupa kapan terakhir kali memutar CD?

Jika memang jawaban Anda adalah sudah lupa terakhir memutar CD, maka Anda tidak sendirian. Perubahan perilaku untuk mendengarkan CD ini sangat wajar. Mengapa? Karena lingkungan di sekitar Anda mempermudah Anda untuk mengakses musik digital.

Ketika Anda adalah pengguna smartphone atau tablet, tak pelak koleksi lagu favorit yang ada di komputer sebagian besar akan dipindah ke kedua perangkat tersebut untuk di dengarkan di jalan.
Kalaupun smartphone atau tablet Anda hanya digunakan untuk bekerja, biasanya Anda memiliki satu perangkat lagi seperti iPod atau pemutar musik digital untuk mendengarkan lagu.

Di mobil pun, saat ini dengan mudahnya menghubungkan iPhone ataupun smartphone lainnya ke perangkat audio mobil untuk memainkan lagu-lagu yang ada di ponsel Anda.

Dunia telah berubah. Berlahan tapi pasti, musik digital mulai menggantikan musik fisik yang dijual dalam bentuk CD. Berlahan tapi pasti, konsumen musik fisik tidak lagi menawarkan keuntungan besar bagi konsumen.

Dan ini bukan prediksi tanpa dasar. Siemer Ventures, lembaga investasi dari bank Siemer & Associates LLC menilai, penjualan musik digital akan mengungguli penjualan musik fisik pada 2017 mendatang.

Bisnis musik digital jangan hanya diartikan sebagai membeli musik dari toko digital tertentu seperti iTunes Store atau lainnya. Dalam beberapa tahun kedepan—seiring dengan pertumbuhan pengguna internet—bisnis yang sangat menjanjikan bagi musik digital adalah ini: streaming.

Di Indonesia, layanan streaming memang masih jauh dari minat konsumen mengingat koneksi internet yang masih belum merata. Tapi, di negara maju seperti Amerika, layanan streaming musik menjadi model bisnis yang sangat menjanjikan.

Pemainnya sangat banyak. Ada Pandora, iHeartRadio lewat Clear Channel, Spotify, Rdio, MOG, bahkan termasuk perusahaan seperti YouTube dan Vevo. Pendapatan dari layanan streaming musik online tumbuh 40% ke angka Rp1,1 miliar (Rp10 triliun) pada 2012.

Perusahaan digital raksasa seperti Google Inc. dan Apple beberapa pekan terakhir juga menyatakan bahwa mereka siap untuk terjun ke bisnis model itu. ”Dalam beberapa tahun kedepan, layanan streaming akan berkembang tidak hanya melalui perangkat bergerak seperti smartphone, tapi juga di kendaraan,” ujar John Rudolph, senior advisor dari Siemer.

Dalam tiga tahun kedepan, pendapatan dari layanan download dan streaming lagu diperkirakan bakal tumbuh 12% per tahun ke angka 11,6 miliar (Rp111 triliun). Sedangkan pasar industri musik global secara keseluruhan bakal menyusut ke USD26,5 miliar (Rp260 triliun) pada 2016 atau turun 8% dari 2012.

Jumlah pengguna musik digital juga terus mengalami pertumbuhan. Dibandingkan tahun lalu, konsumen musik digital tumbuh 9% ke angka 1,2 miliar orang dan diprediksi akan terus tumbuh hingga 1,8 miliar pada tiga tahun mendatang. Peningkatannya mencapai 10% setiap tahun.
Mengaca pada data diatas, maka dapat disimpulkan bahwa musik digital adalah masa depan. Cara orang membeli, mendengarkan, dan mengonsumsi musik sudah berubah.

Iklan