rift2Pencipta teknologi Virtual Reality (VR) yang akan merubah pengalaman bermain game selamanya adalah pemuda berusia 20 tahun yang drop out dari kuliah.

Ternyata bukan PlayStation 4 atau Xbox One yang membawa perubahan besar pada industri game tahun ini. Disrupt atau perubahan itu justru datang dari perangkat virtual reality yang didanai secara swadaya bernama Oculus Rift.

Mengawinkan teknologi virtual reality dengan mesin game menjadi impian para gamer sejak bertahun-tahun lalu.

Kualitas grafis, gameplay, maupun cerita sebuah game dalam beberapa tahun terakhir ini memang berkembang jauh lebih baik dibanding 5 sampai 10 tahun lalu. Namun, belum ada perangkat yang benar-benar mampu mendobrak batasan bagaimana sebuah game dimainkan, dialami, dan dinikmati.

Terobosan teknologi itu lahir dari seorang remaja berusia 20 tahun bernama Palmer Luckey yang juga dropout dari California State University Long Beach jurusan jurnalisme (mulanya ia ingin menjadi wartawan teknologi).

OculusRift1Oculus Rift dikategorikan sebagai head-mounted display (HMD) 3D. Perangkat tersebut dikenakan di kepala (seperti kacamata). Namun, di dalamnya ada layar selebar 7 inci.

Layar tersebut memberikan pengguna pengalaman stereoskopik (3D), memberi kesan ruang. Mata kiri melihat area lebih di kiri, dan begitupun sebaliknya. Alhasil, kedua mata tidak saling overlapping sehingga dampak vertigo, pusing, atau mual dapat diminimalisir.

Kendati kontrol masih dilakukan lewat joystick, namun Oculus dapat mendeteksi gerakan kepala. Perangkat tersebut merespon ketika pengguna menoleh ke kanan, kiri, atau atas, memungkinkan user melihat 90 derajat horizontal dan 110 derajat diagonal.

”Sebagian besar hidup saya dihabiskan untuk mempelajari virtual reality,” kata Palmer. Bahkan, Palmer disebut-sebut sebagai kolektor perangkat virtual reality paling fanatik di dunia. Lewat koleksinya itu ia membuat sendiri prototip desain Oculus.

Itu mungkin terjadi karena Palmer sendiri memiliki hobi mengutak-atik perangkat elektronik. Bahkan, pada usia 15 ia membuat komunitas yang disebut ModRetro. ModRetro adalah salah satu forum modifikasi konsol game terbesar di internet.

Prototip pertama Oculus dikembangkan tak lama setelah Palmer masuk kuliah. Maka, ia nekad dropout untuk berkonsentrasi total mengembangkan Oculus dan membuat startup-nya sendiri. Saat itu lah Brendan Iribe dan Mike Antonov bergabung sebagai chief software architect dan CEO.

Semua startup tentu butuh dana untuk mengembangkan produk mereka lebih jauh, atau setidaknya membawa produk tersebut ke tahap produksi.

oculus3Maka Palmer menggunakan situs crowd founding Kickstarter.com untuk mencari dana sekaligus mengetes respon pasar terhadap Oculus Rift. Hasilnya, luar biasa. Oculus Rift mendapat pendanaan hingga USD2.5 juta (Rp25 miliar). Tak hanya itu, tambahan USD16 juta (Rp160 miliar) di dapat dari investor.

”Akhirnya kami memiliki sumber daya untuk memperkuat tim dengan menyewa orang-orang terbaik di industri. Investasi ini membuat kami dapat membuat consumer product kelas dunia,” katanya.

Prototip Oculus developer kit seharga USD300 (Rp3 juta)—beserta application programming interface (API)— sudah disebar ke developer untuk di uji coba. Antusiasme yang mereka dapat luar biasa. Oculus menjadi viral lewat komunitas online.

”Oculus adalah pembaruan dalam industri game selama bertahun-tahun dan tidak ada alasan bagi kami untuk tidak terlibat di dalamnya,” ujar Pavel Kulikov, pengembang game perang massively multiplayer online (MMO) War Thunder dari Gaijin Entertainment. War Thunder memiliki 2 juta pemain yang terdaftar online.

Dan Pavel tidak sendirian, Berbagai developer game sudah sangat antusias untuk membuat game mereka bisa digunakan oleh Oculus.

url”Saya rasa Oculus tidak akan eksis tanpa forum online. Disanalah orang dari seluruh penjuru dunia dengan ketertarikan spesifik (niche) berkolaborasi untuk membuat sesuatu,” katanya.

Oculus Rift memang belum sempurna. Salah satunya adalah screen door effect, yakni efek bayangan atau garis yang cukup mengganggu. “Kami sedang mencari cara untuk menghilangkan efek tersebut tanpa harus mengganti display yang lebih mahal,” katanya.

Di YouTube atau Reddit, terlihat bagaimana serunya Oculus digunakan untuk memainkan game-game dengan kualitas grafis tinggi seperti Team Fortress 2, Skyrim, Battlefield 3, Halflife 2 hingga Minecraft.

Tapi, ternyata Oculus Rift tidak hanya menargetkan sinergi dengan konsol Xbox One atau Sony PS4 saja. Pada 2014 nanti, Oculus Rift 2.0 akan menggunakan resolusi 1080p, tracking kepala lebih baik, tracking senjata, dan bahkan dukungan nirkabel.

Namun, lebih dari itu, fokus mereka juga menyasar pengguna perangkat mobile seperti Samsung Galaxy ataupun Apple iPhone. ”Saya suka konsol. Tapi, sebenarnya kami lebih antusias untuk melihat bagaimana Oculus bisa dibenamkan di smartphone,” kata Palmer. ”Sebab, smartphone adalah masa depan,” tambahnya.

Mereka juga berusaha untuk menjaga agar harga perangkat tersebut tidak lebih dari USD300 (Rp3 jutaan). ”Semakin terjangkau, semakin besar pula pangsa pasarnya. Itu yang jadi tujuan kami,” paparnya.

Bahkan di masa depan mereka berharap suatu saat ini nanti bisa mensubsidi Oculus hingga konsumen bisa mendapatkannya secara cuma-cuma. Danang arradian

Virtuix Omni

virtuix-omni-002Popularitas Oculus Rift menginspirasi perusahaan lain untuk membawa lebih jauh eksperiens virtual reality (VR). Salah satunya Omni, yang di desain oleh Virtuix. Omni—dipasangkan dengan Oculus—akan membuat pengguna benar-benar berada dalam sebuah game.

Omni adalah hardware semacam treadmill. Pemain game bisa berjalan atau berlari diatasnya. Permukaannya di desain khusus dengan bentuk octagonal. Sedangkan pengguna memakai sepatu dengan sensor. Ada sabuk yang menjaga agar pengguna tidak terjatuh saat bergerak dan tetap stabil.

Untuk menjaga harganya tetap murah, Omni tidak memiliki komponen bergerak. Dan ketika tidak digunakan, perangkat tersebut bisa dipakai dibongkar dan disimpan seperti alat fitness pada umumnya. Ketika di program, pemain dapat berlari, berjalan, berbelok, bahkan loncat.

Di Kickstarter.com, Omni mampu menggalang dana hingga USD970.000 dari target awal USD150.000.

Di pameran game E3, demo Omni ditunjukkan dengan Oculus Rift, game Half Life 2, dan perangkat senjata yang kompatibel dengan game tersebut. Hasilnya, pemain seolah-olah berada dalam medan perang.

Tapi, Omni ternyata tidak hanya menargetkan game. Dikombinasikan dengan perangkat VR yang tepat, di masa depan Omni bisa menjadi media untuk latihan, simulasi, fitness, virtual tourism, virtual tradeshows, event, multi-person adventures, virtual workplaces, museum, arsitektur VR, konser VR. Kemungkinannya tidak terbatas.

oculus rift

Iklan