Google Glass sangat potensial untuk dijadikan media mengakses pornografi.
Google Glass sangat potensial untuk dijadikan media mengakses pornografi.
Sampai awal tahun depan Google Glass akan terus di eksplorasi. Baik pemanfaatannya, maupun fungsi guna utamanya. “Wearable device” itu rencananya memang akan dijual resmi ke publik pada akhir tahun ini atau awal 2014. Dan saat ini para developer dan sebagian pengguna pertama Google Glass terus memberikan input kepada Google.

Ternyata, dalam pemanfaatannya itu, Google Glass memang tidak bisa mengelakkan pornografi. Tak lama setelah perangkat tersebut disebar terbatas, aplikasi pornografi pertama Google Glass pun muncul. Judulnya Tits and Glass, dikembangkan oleh MiKandi. MiKandi adalah salah satu pengembang aplikasi pornografi terbesar di dunia. Mereka telah mengembangkan 7.000 aplikasi/channel pornografi dengan lebih dari 4 juta pengguna di seluruh dunia.

Dengan aplikasi Tits and Glass, pengguna Google Glass dapat melihat foto maupun video dewasa menggunakan layar kecil yang ada di Google Glass, memaksimalkan sudut pandang orang pertama (point of view/POV) yang jadi keunggulan kacamata futuristik itu. Aplikasi tersebut menampilkan gambar-gambar dewasa, memungkinkan pengguna memberi rating dan berkomentar, juga mengunggah dan berbagi gambar.

Kehadiran aplikasi tersebut langsung menimbulkan reaksi dari Google, yang ternyata sejak awal melarang adanya aplikasi dengan konten dewasa di Google Glass. ”Kami melarang konten yang berbau SARA, pornografi, kekerasan, dan judi. Konten-konten tersebut akan kami blok dari Google Glass,” beber juru bicara Google.

CEO MiKandi Jesse Adams di blognya mengatakan, lebih dari 10 ribu orang telah mengunjungi aplikasi Tits and Glass dan sudah banyak sekali yang mendaftar. Menurut MiKandi, pihaknya sudah memastikan mengikuti peraturan yang dibuat Google saat mengembangkan aplikasi tersebut. Sayangnya, Google merubah peraturan tak lama setelah aplikasi tersebut diluncurkan.

Tampilan aplikasi Tits and Glass
Tampilan aplikasi Tits and Glass
Menurut Jesse, MiKandi mengaku akan merilis aplikasi baru yang tidak akan melanggar “peraturan” Google. ”Meski saat ini aplikasi itu tetap bisa berjalan dan digunakan, tapi kami akan membuat perubahan, patuh dengan aturan Google,” katanya.

Bagi Google, menjaga agar Google Glass tetap “bersih” memang penting. Mereka tidak ingin perangkat tersebut diidentikkan dengan pornografi. Karena, manfaat positif yang bisa didapatkan oleh Google Glass tentu sangat banyak (dan belum tereksplorasi secara maksimal!).

Beberapa pekan terakhir ini, misalnya, Google Glass sudah menuai kecaman soal etika penggunaannya. Terutama di tempat-tempat umum, ruang pribadi, klab malam, hingga perjudian. Kekhawatiran muncul karena Google Glass bisa merekam gambar dan video secara diam-diam.

Tapi, di satu sisi, industri pornografi (di Amerika) adalah industri dengan perkembangan yang luar biasa. Bahkan, saat ini ada 8.000 aplikasi pornografi di Android Market. Dan para pengembang memfavoritkan Google Glass karena menjadi cara baru dalam menikmati konten pornografi: lebih natural, mudah digunakan, intim, dan kesan POV yang belum ada sebelumnya.

Iklan