BlackBerry Q10 hanya mengandalkan kibor dan OS BB10.
BlackBerry Q10 hanya mengandalkan kibor dan OS BB10.
Jika Anda termasuk orang yang heran terhadap mahalnya banderol harga BlackBerry Q10, ada baiknya Anda berkaca pada fakta ini: dari 80-an juta pengguna BlackBerry di seluruh dunia, hampir 73 juta diantaranya menggunakan handset dengan kibor fisik.

Ini menunjukkan betapa lekatnya kibor QWERTY dengan merek BlackBerry itu sendiri. Bahkan ketika BlackBerry Z10 baru saja dirilis, pertanyaan yang banyak muncul adalah ini: kapan model BlackBerry dengan OS BB10 dan kibor QWERTY akan diluncurkan?

Bisa jadi, BlackBerry Q10 memang di desain untuk pasar ini: para pengguna fanatik BlackBerry yang belum bisa ”move on” ke layar sentuh penuh. Mereka masih merasa nyaman mengetik dengan kibor QWERTY, namun di lain sisi enggan disebut ketinggalan zaman lantaran tidak terbiasa menavigasikan menu dengan sentuhan.

Jadilah BlackBerry Q10 seolah punya paket komplet: memiliki kibor yang sangat enak dan empuk (bahkan untuk pemilik jari besar), memiliki layar yang bisa disentuh-sentuh, juga memiliki sistem operasi yang bisa bersaing dengan iOS maupun Android.

Di Indonesia, BlackBerry Q10 yang dikenalkan di Hotel Hilton, Bandung, pada Selasa (4/5) silam itu baru akan tersedia secara resmi di toko ritel pada 27 Juni 2013 mendatang. Namun, sejak 5 Juni lalu pengguna sudah dapat dapat melakukan pemesanan awal (pre-order) melalui operator Telkomsel, Indosat, XL Axiata, dan Axis.

Kendati operator seperti Axis memberikan potongan harga selama sesi pre-order (hingga 16 Juni 2013) dengan bande rol harga Rp6.699.000, namun harga resmi dari BlackBerry Q10 sendiri adalah Rp7,5 juta.

Dengan harga tersebut, maka Q10 yang di distribusikan oleh PT TAM , PT Comtech Celluar, dan PT SCM itu berkompetisi langsung dengan smartphone premium seperti Samsung Galaxy S4, HTC One, Sony Xperia Z, hingga Apple iPhone 5.

Memang, seperti yang sudah disebutkan diatas, alasan orang untuk membeli smartphone tidak semata-mata melihat spesifikasinya saja. Tapi juga melihat alasan lain seperti fungsi dan kebutuhan. Namun, di atas kertas, spesifikasi BlackBerry Q10 jauh tertinggal dibandingkan kompetitornya. Ibarat petinju kelas bantam bertanding di kelas berat.

Q10 mengusung layar sentuh 3,1 inci (720 x 720 piksel) dengan kerapatan layar 360 piksel per inci (ppi), prosesor dual-core 1,5 GHz, RAM 2 GB, memori internal 16 GB, kamera belakang 8 MP (depan 2 MP), serta baterai 2.100 mAh.

Coba bandingkan dengan Samsung Galaxy S4 yang mengusung prosesor Octa-Core 1.6 GHz Cortex-A15, layar 5 inci (1080 x 1920 piksel) Super Amoled full HD 1080p dengan kerapatan 441 piksel per inci (ppi), kamera 13 MP, baterai 2600 mAh, serta berbagai fitur melimpah seperti Air View, Air Gesture, Smart Pause, Watch On, hingga Smart Scroll.

Secara fitur, BB Q10 kalah bersaing dengan smartphone di rentang harga Rp7,5 jutaan.
Secara fitur, BB Q10 kalah bersaing dengan smartphone di rentang harga Rp7,5 jutaan.
Dari sisi aplikasi pun BlackBerry World masih inferior jika disandingkan dengan Apple App Store, Google Play, bahkan Windows Phone Store. Begitupun aplikasi instant messaging (IM) BlackBerry Messenger (BBM) yang tidak lagi jadi nilai tambah lantaran stragi BlackBerry yang akan membuatnya menjadi platform terbuka (tersedia di iOS dan Android) mulai akhir Juni ini.

Dengan minimnya fitur yang bersaing dan menjadi nilai tambah, maka Q10 akan masuk pada risiko ini: harganya yang cepat jatuh. Stephen, seorang penjual di kawasan ITC Roxy Mas, menyebut bahwa BlackBerry Q10 bisa bernasib lebih parah dibanding Z10 yang pada saat diluncurkan Maret silam harganya Rp7 juta, tapi kini (dalam 3 bulan) sudah menyentuh angka Rp5,5 juta-Rp6 jutaan (di beberapa penjual tertentu).

Meski demikian, Direktur Marketing Communication Erajaya Group Djatmiko Wardoyo masih menyimpan harapan besar pada Q10. ”Karakter konsumen Indonesia saat ini masih sangat suka dengan kibor QWERTY. Karena itu, kans Q10 masih besar,” beber pria yang akrab disapa Koko tersebut.

Dari sisi sistem operasi, Koko juga menyebut bahwa OS BB10 yang diperkenalkan sejak kehadiran Z10 telah terbukti diterima dengan baik oleh pasar Indonesia. Begitupun soal harga yang berselisih Rp500.000 dengan Z10. ”Ini karena Q10 yang menggunakan hibrida kibor QWERTY dan layar sentuh yang sudah menggunakan teknologi Super Amoled,” bebernya.,

Seandainya Anda termasuk die-hard BlackBerry enthusiasts dan menganggap harga BlackBerry Z10 dan Q10 masih terlalu mahal, maka ada baiknya menunggu kehadiran BlackBerry Q5. Q5 adalah Q10 yang ditawarkan dengan harga lebih terjangkau.
Bentuknya serupa dengan Q10. Hanya, spesifikasinya dipangkas. Q5 menggunakan menggunakan kibor QWERTY, prosesor dual-core 1,2 GHz dan layar 3,1 inci (720 x 720 piksel), memori internal 8 GB, RAM 2 GB, serta kamera 5 MP. Kemungkina besar Q5 akan dibanderol di rentang harga antara Rp3,5 juta-Rp5 jutaan.

Masih terlalu mahal? Saya jadi teringat komentar seorang teman yang sangat hobi mengutak-atik handset. Ia berujar, ”jika dilihat dari spesifikasinya, harga handset BlackBerry terbaru saat ini memang terlalu mahal. Karena rentang harganya itu ada banyak sekali smartphone lain yang memiliki spesifikasi jauh lebih baik,”.

Tentu saja, pada akhirnya nanti pasar sendiri yang akan menilai. BlackBerry Q10, seperti halnya Z10, bisa jadi memiliki segmen pasarnya sendiri. Tapi satu hal yang pasti, dengan harga ini tantangan BlackBerry menjadi semakin berat.

Mereka tidak hanya harus meyakinkan pengguna untuk beralih ke OS BB 10 (yang dianggap kurang user friendly), meyakinkan developer untuk membuat aplikasi di BB 10 (dengan premis pengguna yang masih sangat kecil), juga bersaing dengan smartphone premium lain di pasar yang menawarkan spesifikasi jauh lebih baik.

Iklan