GRAFIS GS 4Teknologi yang ada pada smartphone saat ini memungkinkan pengguna mendapat informasi lengkap dan cukup mendetail terkait tubuhnya. Baik itu tekanan darah, denyut jantung, hingga kadar glukosa di tubuh.

Mereka yang telah membeli Samsung Galaxy S4 pasti sadar akan fitur baru ini: S-Health. Aplikasi kesehatan itu tidak hanya berfungsi untuk memonitor kebugaran Anda setelah berolahraga, namun juga menjadi ”buku harian” untuk mencatat kondisi kesehatan tertentu. Misalnya kadar glukosa, kadar gula darah, hingga tekanan darah. Memang ada perangkat tambahan yang harus dibeli terpisah. Tapi, perangkat tersebut di desain secara khusus untuk dapat terhubung dengan S-Health di Galaxy S4.

Mengapa Samsung merasa perlu untuk membuat aplikasi kesehatan native di perangkat smartphone-nya? Product Marketing Manager PT Samsung Electronics Indonesia (SEIN) Febri Rusli menjelaskan, riset pasar yang dilakukan Samsung menyebut bahwa para pengguna smartphone saat ini cenderung lebih peduli pada kesehatan. Meski, ia mengakui bahwa saat ini marketnya, terutama di Indonesia, terbilang kecil.

”Pasarnya sudah ada. Tapi masih berbasis komunitas. Misalnya orang-orang yang suka berolah raga seperti sepeda, lari, atau fitness. Mereka pasti ingin mengutilisasi kegiatan olah raga yang mereka lakukan di smartphone,” ujar Febri.

Yang akan dilakukan Samsung dengan S-Health adalah ini: growing market dan creating demand. Seperti memberikan umpan agar lebih banyak lagi orang yang merasakan keuntungan utilisasi smartphone sebagai media untuk tracking kesehatan.

S-Health yang ada pada Galaxy S4 memiliki berbagai macam fungsi. Kombinasi
sensor ditanamkan, sehingga secara sistematis dan otomatis akan memonitor kesehatan, pola makan, pola tidur, dan hal lainnya untuk meningkatkan kualitas hidup serta menjaga Anda untuk tetap bugar dan sehat.

Tapi, tidak hanya itu, yang membuat S-Health lebih powerful adalah keberadaan aksesoris electronic fitness devices untuk memaksimalkan perangkat tersebut (bekerja berpasangan melalui koneksi Bluetooth). Misalnya saja S Band yang sistem kerjanya mirip dengan Fitbit atau Nike Plus.

S Band akan merekam jarak, kalori yang dibakar, serta memberikan laporan aktivitas berolah raga yang Anda lakukan. Selanjutnya ada Samsung Heart Rate Monitor (pengukur detak jantung) yang dikenakan di lengan. Alat ini membuat pengguna dapat menyesuaikan intensitas latihan, misalnya untuk membakar lemak atau melatih jantung/cardiovaskular.

Yang tak ketinggalan adalah Samsung Bluetooth Scale, timbangan badan yang dapat mengukur Body Mass Index (BMI) dan langsung tersinkronisasi dengan smartphone Galaxy S4. Ketika aksesoris dengan harga mulai USD70-USD100 itu rencananya baru akan tersedia di Indonesia pada Juni 2013 mendatang.

”S-Health ini menjadi semacam logging diary. Kita bisa mengetahui kemajuan atau target dari latihan kita serta memantau kondisi kesehatan,” beber Febri.

Bagi mereka yang aktif berolahraga, alat bantu kesehatan menjadi sesuatu yang penting. Seperti yang diungkapkan oleh Ninit Yunita yang tergabung dalam komunitas Indorunner. “Accelerometer di Galaxy S4 ini bisa jadi ’walking mate’ yang menyenangkan. Berapa kalori yang dibakar juga bisa dihitung dengan akurat,” ujarnya.

Fitur lain yang tak kalah seru, seperti diungkapkan penulis buku Test Pack, Kok Putusin Gue?, serta Kamar Cewek itu adalah Food Tracker. ”Fitur ini dapat mendisiplinkan mereka yang sedang diet untuk mengetahui berapa kalori makanan yang dikonsumsi setiap hari,” ia menambahkan.

Febri percaya fitur kesehatan pada smartphone akan semakin diniminati oleh pengguna smartphone di Indonesia paling tidak dalam setahun kedepan. Terutama di kalangan masyarakat urban yang peduli kesehatan.

”Tantangannya sekarang adalah melakukan edukasi. Ketika nanti marketnya sudah terbangun, bukan tidak mungkin fitur kesehatan akan menjadi tren terpopuler sesudah fitur foto,” bebernya. Benarkah?

Faktanya, saat ini banyak perusahaan besar yang berinvestasi untuk membuat miniatur alat medis yang dapat tersinkronisasi dengan smartphone. Tujuannya, supaya pengguna dapat memonitor kesehatan mereka sendiri.

”Kami ingin konsumen lebih mudah mendapat akses ke alat kesehatan,” ujar Joseph Flaherty dari AgaMatrix kepada Reuters. AgaMatrix memproduksi alat monitor gula darah yang dapat terhubung dengan iPhone.

Dalam beberapa kasus, alat tersebut dapat menyelamatkan jiwa. Maret silam, seorang kardiologis menggunakan fitur Elektrokardiografi (EKG) di smartphone-nya untuk memeriksa salah seorang penumpang pesawat yang baru lepas landas.

Memang tren ini memunculkan banyak pertanyaan baru. Misalnya, seberapa akurat kegiatan memonitor kesehatan lewat smartphone ini? Bagaimana unsur medis seperti dokter atau rumah sakit mengambil kegunaan dari tren tersebut?

Mungkin pertanyaan itu masih terlalu dini untuk dijawab sekarang. Namun, yang pasti adalah ini: Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) memperkirakan pada 2015 mendatang akan ada 500 juta pengguna smartphone di seluruh dunia yang akan menggunakan aplikasi kesehatan pada 2015.

Jika saat ini aplikasi kesehatan masih menawarkan fungsi dasar seperti edukasi, pengingat jadwal, sensor olah raga, pencatat aktivitas, maka dalam beberapa tahun mendatang fungsinya tidak hanya jauh lebih beragam, tapi juga sangat mendetail. Yang bahkan akan sangat memudahkan dokter dalam memberikan analisa atau diagnosa medis.

Sebut saja perangkat Heart Monitor milik AliveCor yang mampu merekam EKG dengan menyentuhkan jemari pada sensor. Alat seharga USD199 yang telah lolos sertifikasi FDA itu dapat digunakan oleh para dokter ataupun pasien (hasilnya dapat di-email ke dokter).

Perusahaan lainnya, CellScope Inc, mengembangkan otoscope. Yakni, alat yang digunakan dokter untuk melihat kondisi gendang telinga pasien. Saat ini alat tersebut memang belum dijual secara resmi. Tapi, kedepannya, bukan tidak mungkin orang tua dapat memfoto telinga anak dan meng-email gambarnya ke dokter anak untuk menentukan perlu pemeriksaan lebih lanjut atau tidak.

Bahkan saat ini University of Washington sedang menguji coba aplikasi untuk mengukur kinerja paru-paru bagi penderita asma atau emfisema dengan cara meniup ke mikropon ponsel. Aplikasi itu akan menganalisa suara tiupan.

Mungkin aplikasi kesehatan yang tersedia dan bisa Anda gunakan saat ini tidak memiliki fitur secanggih itu. Namun, bukan berarti Anda tidak bisa memaksimalkannya. Fitur-fitur S-Health yang ada pada Samsung Galaxy S4, misalnya, sudah sangat cukup untuk membantu menjaga tubuh tetap sehat jika digunakan dengan benar. Toh, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.

Fitur S-Health Galaxy S4
Berbagai sensor untuk mengelola kesehatan.

Mengatur aktivitas rutin seperti pola makan dan kegiatan olah raga.

Memantau berat badan dan kadar gula Anda dengan menghubungkan padanya pada aksesoris S4

Memeriksa suhu, kadar kelembaban, dan indeks kenyamanan.

Aksesoris S-Health
Berbagai aksesoris ini dapat terhubung langsung ke aplikasi S-Health di Samsung Galaxy S4 melalui Bluetooth.

S Band
Dikenakan di pergelangan tangan, fungsinya untuk mencatat langkah, jumlah kalori yang dibakar, serta jarak. Cocok bagi para pehobi lari. Tahan air hingga kedalaman 10 meter.

Body Scale
Fungsinya lebih dari timbangan badan. Catatan berat badan Anda dapat langsung dikirim ke aplikasi S-Health. Pengguna bisa mendapatkan rangkuman perkembangan berat badannya. Vendor seperti Omron juga sudah memiliki produk Body Scale yang terkoneksi dengan S-Health.

HRM (Heart Rate Monitor)
Membantu Anda yang hobi berlari. Alat ini akan mengukur detak jantung, membantu mengontrol intensitas latihan.

Iklan