Phablet menarik perhatian melalui ukuran layar yang besar dan fitur mumpuni.
Phablet menarik perhatian melalui ukuran layar yang besar dan fitur mumpuni.

Bisa jadi phablet (smartphone berlayar 5-8 inci) lebih cepat populer dibanding yang diprediksi sebelumnya.

Ponsel berlayar besar = penjualan besar. Mungkin hal itu disadari oleh Samsung ketika mereka merilis rangkaian Galaxy Note yang sukses. Model terbaru, Galaxy Note 2, diperkirakan telah terjual lebih dari 10 unit diseluruh dunia.

Yang terjadi setelah itu ibarat jamur di musim hujan. Pasar dibanjiri dengan berbagai produk smartphone yang memiliki layar yang bisa disebut ”masif”.

Mendadak smartphone dengan layar besar-besar itu tidak lagi kebesaran. Namun, justru smartphone yang memiliki layar dibawah 4 inci yang “kekecilan”. Cara konsumen menggunakan smartphone-nya berubah seiring dengan kebutuhan.

Bisa jadi konsumen butuh layar lebih lebar agar lebih nyaman untuk menonton film. Lebih nyaman bermain game. Lebih nyaman saat berselancar internet. Atau lebih nyaman saat membaca majalah digital.

Bisa jadi konsumen butuh layar lebih lebar agar mengetik lebih mudah. Jujur saja, mengarahkan jempol ke tuts digital di layar datar akan lebih nyaman jika jaraknya lebar. Tidak sempit sehingga membuat salah ketik.

Bisa jadi konsumen butuh layar lebih lebar karena mereka sudah terbiasa dengan tablet. Tapi, dalam keseharian mereka tidak ingin membawa-bawa perangkat berukuran 7 inci kemana saja.

Bisa jadi konsumen butuh layar lebih lebar salah satunya karena gengsi. Semakin lebar layar, semakin sebuah smartphone itu terlihat mahal. Atau, paling tidak mencolok diantara yang lain.

Masih ada sederet alasan lain mengapa konsumen memilih phablet, yang jika disandingkan dengan aplikasi yang tepat dapat menjadi sebuah perangkat yang sangat powerful. Yang pasti, konsumen menyukai layar lebar, konsumen butuh layar lebar, dan konsumen memilih menggunakan ponsel dengan layar lebar.

Pertumbuhan Pasar

Lenovo S880 menjadi bukti tingginya permintaan pasar Indonesia terhadap phablet berharga terjangkau.
Lenovo S880 menjadi bukti tingginya permintaan pasar Indonesia terhadap phablet berharga terjangkau.

IDC mencatat bahwa pasar “Phablet” menguasai 8% dari total 6,8 juta ponsel pintar yang dikapalkan ke Indonesia hingga akhir 2012. Dengan proyeksi 8,5 juta unit ponsel pintar dikapalkan pada akhir tahun 2013, IDC melihat pangsa pasar perangkat “Phablet” dapat terus meningkat, dilihat dari banyaknya peluncuran model-model baru.

“Meningkatnya pemakaian perangkat tablet dengan layar yang lebih kecil memberikan gambaran adanya potensi untuk pasar “Phablet”, dimana 75% dari total tablet yang dikapalkan pada tahun 2012 memiliki ukuran layar antara 7 – 8 inci, perangkat “Phablet” menawarkan solusi menarik bagi mereka yang mencari fungsi tablet dalam ponsel pintar mereka, seiring dengan harga yang juga semakin terjangkau”, kata Darwin Lie, Market Analyst IDC Indonesia.

Survei terbaru menunjukkan bahwa 62% penduduk Indonesia masih tertarik dengan tablet berukuran layar 8 – 10 inci, hal ini menunjukkan bahwa adanya potensi yang masih sangat besar untuk tahun mendatang.

Dengan pertumbuhan TI yang terus meningkat di Indonesia, permintaan terhadap penyatuan dua perangkat ini diharapkan juga terus bertambah.

Segmen ponsel fitur masih diperkirakan akan tumbuh 8% sampai akhir tahun 2013, karena saat ini ponsel fitur terus berkembang, dengan menyediakan kemampuan 2.5G dan 3G, serta memperluas penyebarannya sampai Indonesia timur, dimana menawarkan dirinya sebagai “point-of entry” pertama bagi masyarakat untuk menjadi bagian dari dunia yang terbuhung.

Menurut Darwin Lee dari IDC Indonesia, pihaknya memprediksi akan ada sekitar 60 juta perangkat bergerak yang dikapalkan pada 2013. Dari angka tersebut, sekitar 14-15 persen (8-10 juta unit) diantaranya adalah smartphone dan 2 juta hingga 2,5 juta unit adalah tablet. Sisanya masih berasal dari feature phone.

Tidak Sekadar Lebar

Oppo asal China mencoba bersaing dengan menghadirkan kualitas premium, tapi harga tak semahal merek global.
Oppo asal China mencoba bersaing dengan menghadirkan kualitas premium, tapi harga tak semahal merek global.

Phablet seolah jadi idiom baru yang seksi dan menjanjikan. Tapi, ternyata sekadar memiliki layar lebar saja tidak cukup. Beberapa vendor membekali produk Phablet mereka dengan berbagai fitur lebih. Sebut saja Sony yang meluncurkan Xperia Z dengan ketahanan terhadap air dan debu. Smarpthone berukuran 5 inci yang lulus sertifikasi P55 dan IP57 itu memiliki seal di bodinya agar organ internal ponsel tidak terekspos.

Pemain baru asal China, Oppo, juga harus diperhitungkan. Pertengahan bulan ini vendor ponsel asal China itu resmi hadir di Indonesia dengan produk andalan Oppo Find 5.

Smartphone tersebut pernah menyabet gelar sebagai ponsel pintar berlayar 5 inci tertipis di dunia. Dengan banderol Rp5.499.000, Oppo memiliki fitur-fitur yang umumnya jadi standar ponsel premium. Misalnya layar full HD, prosesor Qualcomm Snapdragon S4 Pro 1.5 GHz, kamera 13 MP, RAM 2 GB, serta Android Jelly Bean.

Lainnya itu, ada Lenovo Mobile yang sangat agresif. Tahun lalu, sekitar 50 persen dari total penjualan mereka tahun lalu berasal dari S880. Permintaan terhadap S550 mencapai 50 persen dari total penjualan Lenovo Mobile di Indonesia. Lenovo Mobile mengklaim produk mereka dapat bersaing dengan merek global, namun dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Lenovo S890, penerus S880 yang dibanderol Rp2,79 juta diharapkan dapat mengulang sukses serupa.

Dan jangan lupa pemimpin pasar seperti Samsung tidak hanya memiliki Galaxy Note yang menyasar segmen premium, juga ada phablet Galaxy Grand i9082 yang mengincar pasar lebih terjangkau. Galaxy Grand memiliki layar 5 inci TFT, Android Jelly Bean (4.1), kamera 8 MP, prosesor dual core 1,2 GHz, RAM 1 GB, dan memori internal 8 GB dengan banderol Rp3,8 jutaan.

Samsung sendiri saat ini sedang menyiapkan phablet Galaxy Mega yang berukuran 6,3 inci dan 5,8 inci. Mereka mengklaim bahwa layar besar dan berdefinisi tinggi dari Galaxy Mega ideal untuk melakukan multitasking serta menikmati konten.

Yang menarik mungkin ketika The Financial Times menyebut rencana Nokia untuk ikut terjut ke pasar phablet dalam waktu yang tak lama lagi. Phablet Lumia yang masih menggunakan OS Windows Phone 8 itu bahkan bakal memiliki spesifikasi lebih baik dibandingkan Galaxy Note milik Samsung.

Tak cuma Nokia, BlackBerry pun saat ini dikabarkan sedang mengerjakan dua hingga tiga model baru, yang salah satunya berukuran 5 inci. Targetnya handset tersebut akan meluncur tahun ini juga.

Menolak Phablet

Meski demikian, ada dua perusahaan besar masih berpegang teguh menolak tren phablet ini. Mereka adalah Motorola dan Apple. Kepala desain Motorola Jim Wicks menyebut bahwa tidak semua orang menyukai layar yang besar. ”Tapi, mereka butuh sebuah produk yang ’tepat’. Itulah yang kami sasar,” katanya. Produk terbaru Motorola akan mulai dirilis pada semester kedua 2013 mendatang.

Komentar tak jauh berbeda juga diungkapkan oleh CEO Apple Tim Cook. ”Ukuran layar iPhone 5 adalah yang terbaik di industri saat ini,” ujar Cook baru-baru ini. ”Beberapa konsumen ingin layar lebih besar. Tapi konsumen lain memilih nilai tambah lain seperti resolusi, kualitas warna, white balance, kecerahan, konsumsi baterai, portabilitas, aplikasi, dan masih banyak lagi,” ia menambahkan.

Menurut Cook, hal-hal seperti itu terpaksa dikorbankan ketika ukuran layar sebuah smartphone diperbesar. ”Kami tidak akan membuat iPhone dengan layar lebih besar jika hal-hal tersebut masih dikorbankan,” katanya.

Brian Marshall, analis ISI Group, mengatakan bahwa keengganan Apple untuk masuk ke layar 5 inci membuat perusahaan tersebut kehilangan market share yang sangat besar. ”Setiap vendor smartphone memiliki model berlayar besar. Dan sekarang pun orang sudah sangat terbiasa dengan layar lebih besar,” katanya.

Iklan