Melalui teknologi, hubungan antara fans dan idolanya (selebritis ataupun band) tidak hanya lebih mudah, namun sampai pada intensitas yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Para penggemar berat aktris/penyanyi Maudy Ayunda hampir pasti sudah mengunduh aplikasi chatting Line di smartphone mereka. Mengapa? Sebab Maudy yang menjadi official exclusive talent line, bersama dengan grup Noah dan Nidji, penyanyi Bunga Citra Lestari serta Afgan Syahreza memiliki akun resmi di layanan chat asal Korea Selatan itu.

Pengguna Line mendapat informasi kegiatan terbaru dari para selebriti tersebut dalam bentuk pesan instan. Sehingga seolah-olah mereka sedang chatting dengan idolanya.

Cara ini—selain kampanye TV yang intensif—dinilai jadi kunci sukses Line yang meski terbilang baru namun sudah mengungguli WhatsApp sebagai aplikasi paling banyak di unduh di Google Play dalam beberapa pekan terakhir.

Interasi langsung ke penggemar juga dilakukan oleh Sherina Munaf melalui jejaring sosial Google+. Pertengahan Maret lalu, Sherina menggunakan fitur Hangout di Google+ untuk menggelar jumpa pers.

Share the Stage, nama event tersebut, membuat Sherina seolah-olah dapat bertemu (secara virtual) dengan para penggemarnya lewat fitur video chat di Google+.

Disana ia bercerita soal single dan album terbarunya, kesibukannya sehari-hari, serta rencana untuk kembali kuliah. Gadis kelahiran 11 Juni 1990 itu juga menjawab beberapa pertanyaan fans serta menyanyikan lagu secara live.

”Fitur Hangout membawa musikus lebih dekat dengan fansnya,” ujar Sherina. Consumer Marketing Manager Google Indonesia Sandy Tantra menambahkan, fitur Google+ Hangout itu telah digunakan pula oleh penyanyi seperti Nidji, Afgan, Vidi Aldiano, hingga Kotak.

Memang banyak media yang dapat memangkas jarak antara seorang idola dengan fansnya. Twitter, misalnya, menjadi media komunikasi dua arah yang sangat efektif. Tapi, di lain sisi para fans terkadang butuh sebuah wadah yang dapat membuat mereka merasa dekat dengan idola mereka. Wadah itu salah satunya bisa datang dari Kincir.com, sebuah website yang mengklaim diri sebagai situs fans klub pertama di Indonesia.

Situs tersebut dibentuk oleh vokalis Nidji Giring Ganesha dan Danny Oei Wiranto, mantan Chief Marketing Officer Kaskus. Kamis (25/4) kemarin, Kincir.com menggelar kegiatan pertama: membuat sebuah official van untuk grup vokal Cherrybelle.

Sejak diluncurkan Maret 2013 silam, sudah ada beberapa grup yang bergabung. Mulai Slank, Naif, Nidji, Endank Soekamti, Maliq & D’Essentials, hingga The Upstairs. ”Situs ini membuat interaksi antara artis dan fans jadi lebih dekat. Bahkan sesama fans bisa saling bersosialisasi,” ujar Giring.

Teknologi mampu membuat hubungan antara seorang selebritis, band, ataupun penyanyi mencapai tahapan baru. Sebuah interaksi terjalin dalam berbagai media, bentuk, dan cara.

Seperti Indra Lesmana ketika merilis album terbarunya ”11:11” yang sengaja dibuat dalam bentuk aplikasi iOS.
Album aplikasi Indra lesmana HD buatan developer lokal Better-B itu tidak hanya berisi lagu, namun juga video, game, hingga partitur musik. ”Ini cara berbeda bagi penggemar untuk mengapresiasi karya saya,” ujar Indra.

Bahkan, ia optimistis bahwa medium aplikasi ini menjadi salah satu alternatif bagi musikus untuk menjual karya musiknya dalam bentuk digital (non fisik).

Pengembang aplikasi Better-B Abul A’la Almaujudy melihat potensi besar terhadap metode memasarkan musik dalam bentuk aplikasi seperti itu. ”Album aplikasi sifatnya lebih kompleks, memiliki konten multimedia, dan mempunyai efek viral dan interaksi lebih nyata dengan audiens,” ujarnya.

Selasa (23/4) kemarin giliran grup musik Project Pop yang memilih pendekatan berbeda untuk menggapai fans mereka: menggunakan media game pada ponsel.

Menggandeng developer game lokal, Own Game, meluncurlah game Power Pop yang secara eksklusif tersedia di Nokia Store danhanya dapat dinikmati khusus oleh pengguna Nokia Asha.

Di game berformat side-scrolling adventure tersebut setiap personel Project Pop digambarkan dalam karakter yang menggunakan atribut berbeda. Semisal Odie yang menggunakan sepeda, Yosie dengan Bola Basket, serta Oon yang berkarakter Gorila. Bersama-sama mereka melawan musuh utama para bajak laut.

Bahkan lagu latar permainan tersebut diambil dari lagu-lagu milik Project Pop seperti Gara Gara Kahitna, Tu Wa Ga Pat, serta Dangdut Is The Music of My Country. Power Pop dapat diunduh secara cuma-cuma. Meski, setelah mencapai level tertentu pengguna yang ingin melanjutkan harus membayar Rp5 ribu.

Menurut Yosi, game adalah sebuah medium yang dapat dinikmati oleh semua usia dan kalangan. ”Saya rasa dampaknya terhadap fans sangat besar. Mereka bisa fun saat memainkannya, sesuai dengan Project Pop sendiri yang juga sangat fun,” ujarnya.

Pendiri Own Games, Eldwin Viriya, menyebut antuiasme yang sangat besar dari game Power Pop. Baru diluncurkan selama dua pekan, pengunduhnya mencapai 18 ribu kali. Sebuah pencapaian yang tergolong luar biasa. Ini membuktikan bahwa kerja sama seperti ini memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, baik developer maupun si artis itu sendiri.

Tingginya pertumbuhan pengguna smartphone di Indonesia, semakin terjangkaunya layanan data, serta kualitas developer lokal yang sangat baik membuat musikus dapat memilih menggunakan teknologi mana yang dinilainya terbaik dalam menjangkau fans: elemen utama yang tidak bisa dilepaskan dari eksistensi sang idola.

Iklan