Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

”DreadOut” adalah kata teratas dalam daftar pencarian Google Indonesia pekan lalu. Mungkin tidak ada yang menyangka kata yang berarti ”ketakutan” itu merupakan judul game horror asal Indonesia.

Menariknya lagi, game DreadOut bahkan belum dirilis secara resmi. Digital Happiness, pengembang game yang asal Bandung itu sengaja ”menyebarkan” versi demo DreadOut untuk mengetahui minat pasar.

”Kami sengaja memilih pendekatan viral. Tapi, tidak menyangka apresiasinya sebegitu antusias,” ujar produser game/art director DreadOut Rachmad Imron. Digital Happiness sendiri, menurut Rachmad, adalah pengembang baru dan belum banyak dikenal.

Ternyata dalam waktu 14 hari itu DreadOut yang tersedia untuk platform PC, Mac dan Linux sudah diunduh sebanyak 130.000 kali. Ulasan DreadOut oleh PewDiePie—gamer asal Swedia yang populer di YouTube—misalnya, telah ditonton lebih dari 2,5 juta kali.

DreadOut mendadak menjadi game yang banyak dibicarakan di internet.

Semua bermula dari dua tahun lalu, ketika Rachmad Imron bersama Vadi Vanadi Buchari (kini Game Director DreadOut) bersepakat untuk mengembangkan prototip game ”Jurig Escape” buatan Vadi.

Mereka ingin game lokal yang mampu go international. Dari situ tim internal beranggotakan 15-an orang pun terbentuk. ”Mulanya kami ingin ikut terjun ke mobile gaming,” ujar Rachmad. ”Namun ditengah jalan diputuskan untuk beralih ke PC development, dengan pertimbangan teknis serta oversaturated-nya industri mobile gaming saat ini,” tambahnya.

DreadOut sendiri bercerita tentang remaja SMA bernama Linda, yang bersama beberapa sahabat dan gurunya bertamasya ke luar kota. Di tengah perjalanan mereka tersesat di sebuah kota tua. Pelan-pelan mulailah terjadi keanehan dengan menghilangnya teman-teman Linda dan bermunculannya berbagai jenis mahluk halus.

”Ceritanya sedikit klise, tapi sudah kami siapkan beberapa twist agar tetap menarik,” kata Rachmad.
Dipilihnya genre horror bukan tanpa alasan. Selain memudahkan riset dan desain karakter, tema mistis juga dinilai lebih dekat dengan konsumen.

Rachmad mengakui bahwa DreadOut terinspirasi oleh game survival horror asal Jepang seperti Fatal Frame, dimana tokoh utamanya menggunakan kamera untuk ”mengusir” hantu (di DreadOut Linda memakai smartphone).

”Bisa dibilang DreadOut semacam love letter kepada Fatal Frame. Kami juga terinspirasi oleh game-game seperti DarkSouls, DemonSouls, Castelvania, Silent Hill, Clock Tower, hingga film-film seperti Ju-On, Dark Water, Shutter, dan Evil Dead,” katanya.

Kabarnya, saat membuat game ini tim Digital Happiness mendapat banyak pengalaman spiritual. Mulai beberapa anggota tim yang jatuh sakit, sound director yang masuk ICU dan bertemu suster bernama Linda, ditawari paranormal untuk dibukakan ”mata” batin, hingga anomali saat menggunakan Kinect Motion Capture.

”Di layar komputer kami, Kinect Motion Capture mendeteksi ada orang. Padahal tidak ada siapa-siapa. Tapi semua itu kami menganggap hal itu sebagai kebetulan saja,” kata Rachmad sambil tertawa.

Saat ini DreadOut masih dalam proses mencari dana. Salah satunya melalui media crowdfunding internasional Indiegogo. Mereka menargetkan tambahan bujet sekitar Rp230 juta untuk dapat mempercepat proses produksi.

Apabila dana itu sudah terkumpul, DreadOut (full version) rencananya akan dirilis tahun ini juga, menggunakan jalur distribusi Steam, yang merupakan portal distribusi digital game terbesar di dunia.

Dengan mendistribusikan game lewat Steam, diharapkan popularitas DreadOut terangkat melalui ulasan dari berbagai media di luar negeri. ”Distribusi secara digital juga paling terjangkau dan sehat bagi Digital Happiness saat ini,” ujar Rachmad.

Apalagi, pengguna Steam di Indonesia termasuk salah satu yang terbesar di dunia. Tak heran jika mereka menargetkan 60% sales DreadOut nantinya berasal dari pengguna Steam (lokal maupun internasional).

Sebagai pengembang game independen, Rachmad mengakui bahwa Digital Happiness memang dihadapkan pada berbagai masalah umum seperti kesulitan finansial, tawaran dari perusahaan game yang lebih besar, kesulitan mencari SDM, hingga persaingan produk.

Namun mereka tetap optimistis. ”Ibarat sebuah film, game indie memiliki pasarnya sendiri,” katanya. Selama ini, menurut Rachmad, tim Digital Happiness menutup mata dan telinga untuk terus memprioritaskan development agar DreadOut dapat dilepas ke pasar.

”Visi kami adalah menciptakan game berstandar global, namun tetap memiliki nuansa lokal yang kental,” tutupnya.

DreadOut
Pengembang: Digital Happiness
Genre: survival horror (third person perspective).
Status: dalam pengembangan sejak 2 tahun lalu (dijadwalkan rilis 2013).
Platform: demo/DRM-Free untuk PC/Windows, Linux, dan Mac.
Inspirasi: gameplay dan konsep horror terinspirasi dari game seperti Fatal Frame, DarkSouls, DemonSouls, hingga Silent Hill, namun tetap mengedepankan unsur lokal.
Pencapaian: DreadOut telah diunduh 130.000 kali hanya dalam 14 hari. Selama 6-12 April 2013 menjadi daftar pencarian teratas di Google Indonesia.
Pengembangan: Dalam dua tahun pengembangan DreadOut menghabiskan kurang dari Rp500 juta, dan masih membutuhkan tambahan bujet Rp230 juta.
Distribusi: sedang menunggu Steam Greenlight agar mendapat akses distribusi ke Steam.
Situs: http://www.indiegogo.com/projects/dreadout, http://www.dreadout.com

Iklan