Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Ternyata Indonesia punya peran vital terhadap sukses GoPro, perusahaan kamera video kompak asal San Mateo, California, yang kini bernilai USD2,5 miliar (Rp22 triliun) itu. Apa perannya? Dan bagaimana GoPro merubah cara orang di seluruh dunia merekam video?

Pada 2002, Nick Woodman berlibur ke Bali selama lima bulan. Sebagai mahasiswa yang baru lulus dan belum bekerja, Woodman sedang ”galau” dalam menentukan arah hidupnya.

Maka ia ke Indonesia untuk melakukan hobi yang membuat otaknya jernih: surfing atau berselancar. Woodman jatuh cinta dengan ombak Indonesia, yang seperti Hawai, menggulung sepanjang tahun.

Tidak ada yang menyangka kegalauan itu menghasilkan ide cemerlang yang menjadikannya CEO sebuah perusahaan dengan aset triliunan rupiah.

Ceritanya sederhana. Saat sedang surfing di Bali itu Woodman menyadari belum ada kamera yang dapat merekam aksinya menerjang indahnya ombak Indonesia dalam bentuk video secara mudah.

Ia tertarik untuk menemukan tali pengikat elastis namun cukup kuat untuk menahan kamera sekali pakai (disposable) di pergelangan tangan.

Karena tidak punya uang, Woodman rela berjualan ikat pinggang dari kulit kerang yang dibawanya dari Bali ke Amerika, meminjam uang senilai USD35 ribu (Rp300 juta) dari sang ibu, serta menjual mobil VW-nya.

Selama dua tahun itu ternyata Woodman tidak hanya bisa membuat tali pengikat elastis, namun juga sebuah prototip kamera untuk melengkapinya. Selanjutnya, perusahaan tersebut berkembang menjadi ikon dari kamera kompak dan tahan banting, yang mampu menciptakan berbagai gambar luar biasa.

Masih ingat Felix Baumgartner, skydiver asal Austria, yang terjun dari tepian antariksa itu? Baumgartner memakai 5 kamera GoPro sekaligus untuk mengabadikan aksinya.

”Konsumen menginginkan kamera kompak, tahan banting, berkualitas, tapi tetap terjangkau,” beber Senior Director Global Communications GoPro Kash Shaikh. ”Itulah yang dituju oleh para engineer di GoPro,” tambahnya.

Tentu saja, tak hanya fokus di kamera, GoPro juga sangat fokus dalam mengembangkan mounting (bantalan) agar pengguna dapat merekatkan kameranya di berbagai obyek secara aman.

Aksesoris mounting GoPro tersebar mulai di helm, handle bar untuk sepeda gunung, tali pengikat di pergelangan tangan atau data, papan seluncur, bodi mobil atau rollbar, dan masih banyak lagi.

Bahkan, banyak ide-ide gila dilakukan oleh para pengguna GoPro di YouTube. “Konsumen punya caranya sendiri untuk berinovasi dengan produk kami,” ujar Shaikh. ”Kami justru sering mendapatkan ide untuk R&D dari situ,” tambahnya.

Olah Raga Ekstrem

Rigiditas GoPro secara otomatis membuat kamera tersebut diminati oleh para atlet atau mereka pehobi olah raga ekstrem. Salah satunya Dito Sugiarto, 26, seorang skateboarder. ”Ukurannya kecil dan ringan, tapi output yang dihasilkan GoPro sangat bagus. Fungsinya juga banyak, mulai merekam video HD, memotret biasa, selftimertimelapse, hingga foto burst,” katanya.

Dito rutin memanfaatkan GoPro untuk mengabadikan aksi dirinya dan teman-temannya saat bermain skateboard. Namun, menurutnya, kamera tersebut juga banyak dimanfaatkan di berbagai kegiatan ekstrem. Mulai kegiatan autosport seperti balap mobil dan motor, kegiatan bersepeda seperti downhill, BMX, dan free style, hingga kegiatan menyelam dan free dive.

Ahmad Irvan adalah salah satu orang yang memutuskan membeli GoPro untuk menemani aktivitasnya menyelam. ”Umumnya kamera under water (UW) mentok di kedalaman 10 meter. Setelah itu harus beli casing UW yang mahal hingga belasan juta rupiah. Sedangkan GoPro yang dapat dibawa hingga kedalaman 60 meter kurang dari Rp4 jutaan,” katanya.

Pemilik Sea Pearl Dive Center Surya Prihadi mengakui bahwa GoPro banyak diminati para penyelam. ”Sebagai activity camera, GoPro cocok bagi mereka ingin praktis. Ukurannya kecil, cocok untuk mengabadikan point of view (POV) shot. Posisi mounting juga bisa digunakan di badan, kepala, atau dimana saja,” katanya.

Berbasis Komunitas

Bagi GoPro, komunitas pengguna adalah aspek vital yang tidak hanya menentukan sukses, tapi juga pertumbuhan perusahaan. Fondasi GoPro, menurut Senior Director Global Communications GoPro Kash Shaikh, adalah dari berbagai kreatifitas dalam bentuk foto ataupun video yang diunggah di berbagai situs seperti YouTube, Facebook, Vimeo, Twitter, dan lain-lainnya. Hal itu tak ubahnya promosi dari mulut ke mulut, yang membuat GoPro semakin solid.

”Seandainya ada teman Anda membeli GoPro dan membuat sebuah video yang sangat keren di YouTube, tentu Anda bertanya-tanya: ’wah bagaimana cara membuatnya? Kamera apa yang digunakan?’. Nah GoPro populer dengan cara itu,” katanya.

Ahmad Irvan, pengguna GoPro, membenarkan hal tersebut. ”Video dan foto yang diunggah di YouTube dan dan berbagai forum di internet menunjukkan bagaimana utilisasi kamera tersebut hanya terbatas pada kreatifitas penggunanya,” ungkapnya.

Shaikh bahkan mengatakan bahwa pihaknya memiliki tim khusus untuk mencermati bagaimana konsumen membuat film dan video dengan GoPro. Dari situlah inovasi produk-produk GoPro selanjutnya dirajut.

Menurut Shaikh, GoPro membuat penggunanya merasa memiliki sebuah kamera “profesional”. ”Etos dibelakang GoPro adalah membuat orang berpikir, bertindak, dan merasa menjadi seorang profesional,” katanya.

Strategi tersebut membuat penjualan GoPro berlipat ganda setiap tahun, menjadikannya salah satu kamera terlaris di dunia. Belum lama ini, raksasa asal China Foxconn membeli 8,88 persen saham GoPro senilai USD200 juta (Rp1,8 triliun). Saat ini Nick Woodman ditaksir memiliki 51 persen saham GoPro, dengan nilai sekitar USD1,15 miliar (Rp10 triliun).

Beragam Mounting Beragam Kebutuhan

Hal terpenting dalam penggunaan GoPro adalah mounting. Dengan mounting ini GoPro dapat dipasangkan di berbagai media, obyek, dan posisi.

Handlebar Seatpost Mount

Didesain untuk digunakan di berbagai tabung dengan diameter mulai 1,9 cm-3,5 cm. Dapat digunakan di sepeda, motor, tongkat, dan lainnya.

Roll Bar Mount

Selain handlebar, GoPro menyediakan mounting untuk untuk tabung berdiameter lebih lebar. Salah satunya roll bar mobil.

Helmet Mount

Mounting di helem ini memberikan hasil rekam point of view (sudut pandang orang pertama). Dapat digunakan untuk aktivitas terjun payung, sepeda, motor, dan lainnya.

Chest Mount Harness

Ini adalah mounting paling laris. Digunakan di dada, hasil rekaman videonya mengambarkan pandangan dari dada yang mengasyikkan saat digunakan bersepeda. Bahkan, dapat dipasang juga di hewan seperti anjing.

Adhesive Mounts

Ini dipadu dengan isolasi dua sisi 3M untuk menempel GoPro di bidang datar atau sedikit cembung. Misalnya papan surfing.

Lini Produk GoPro

GoPro HD Hero3

Diluncurkan November 2012, GoPro HD Hero3 memiliki bodi 25% lebih ringan dan 30 persen lebih kompak dibanding sebelumnya (Hero2). Juga, sudah memiliki built-in Wi-fi. GoPro HD Hero3 memiliki tiga varian. Black Edition adalah modeel tertinggi, mampu merekam video hingga resolusi 4K dan memiliki sensor 12 MP. Harganya Rp3,7-Rp3,9 jutaan. GoPro HD Hero3: Silver Edition, memiliki resolusi 1080p dan sensor 11 MP, dibanderol Rp2,7 juta-Rp3 jutaan. Varian terakhir GoPro HD Hero3: White Edition, memiliki resolusi 1080p dan sensor 5 MP. Harganya Rp1,7 juta-Rp2 jutaan.

GoPro HD Hero2

Dirilis pada Oktober 2011. Targetnya adalah para profesional. Menggunakan sensor gambar 11 MP, dipasarkan dalam tiga varian aksesoris: Outdoor, Motorsports, dan Surf. Harganya USD299 (di Indonesia dibanderol Rp3,2 juta-Rp3,3 jutaan).

GoPro HD Hero

GoPro HD Hero dirilis pertama pada Agustus 2011. Mampu merekam video hingga 1080p dengan kualitas sensor 5 MP. Harganya USD199.

GoPro HD Hero 960

Nama 960 karena kamera tersebut mampu merekam resolusi maksimum video 960p. Dikenalkan pada Agustus 2010,

GoPro Digital Hero 5

Dikenalkan pada Desember 2008. Memiliki 5 MP foto dan standar definition (512×384) video.

GoPro Hero 35mm

Model GoPro pertama yang dirilis pada 2005. Dimensinya 2,5 inci x 3 inci. Pertama dikenal dengan sebutan reusable wrist camera. Menggunakan film asa 400.

Iklan