Pengguna DSLR terus tumbuh seiring harganya yang kian terjangkau. Hal ini membuat kebutuhan lensa (dengan harga terjangkau pula) sebagai pendamping DSLR juga terus membesar.

”Tidak semua pehobi foto mampu atau ingin ’berinvestasi’ di lensa dengan harga belasan bahkan puluhan juta rupiah,” jelas Felicia Lorens, Direktur Pemasaran PT Aneka Warna sebagai distributor lensa Sigma di Indonesia.

Hal ini membuat pasar lensa dari penyedia pihak ketiga (third party) masih terbuka lebar. Hal itu diakui oleh Felicia, yang mengatakan bahwa pihaknya mampu menjual hingga 1.000 unit lensa perbulannya.

Permintaan pasar sendiri, menurut Felicia, masih sangat tinggi. Pertumbuhan perusahaan dari 2011 ke 2012, misalnya, mencapai 10-12 persen.

Menurut Felincia, Sigma dikenal sebagai lensa yang memiliki kualitas tak jauh beda dengan keluaran pemimpin pasar seperti Canon atau Nikon. Namun, harganya jauh lebih terjangkau. ”Kami menyebutnya value for money,” ungkapnya.

Saat ini mereka memiliki lebih dari 40 varian lensa dari berbagai jenis dan tipe kamera. Karena model yang begitu banyak itu, Sigma Global Vision berusaha menyederhanakan dengan mengkategorisasikan lensa ke tiga model berbeda. ”Supaya konsumen lebih mudah mendapatkan lensa sesuai yang diinginkan,” ujar Felincia.

Jenis pertama, adalah “C | Contemporary”. Lensa ini dilengkapi teknologi paling anyar, mengedepankan performa optik serta ukuran kompak. Contemporary memberikan cakupan yang luas untuk semua kebutuhan meliputi lensa zoom standard, lensa zoom telephoto, lensa zoom, dan lainnya. Misalnya saja Sigma 17-70mm F2.8-4 DC Macro OS HSM.

Kedua adalah “A | Art”. Lensa ini di desain untuk fokus pada performa optik dan kemampuan ekspresif. Antara lain lensa prime dengan apertur-besar, lensa wide-angle, lensa ultra-wide-angle, lensa macro, atau lensa fisheye. Contohnya adalah Sigma 35mm F1.4 DG HSM.

Terakhir adalah lensa “S | Sports”. Jenis ini didesain untuk menonjolkan kemampuan optik. Sehingga memberikan performa tinggi saat menangkap momen aksi. Contohnya Sigma 120-300mm F2.8 DG OS HSM.

Pembagian ini dimaksudkan mempermudah penyesuaian jenis produk yang mencirikan orientasi fotografi seseorang. Harapannya setiap fotografer dapat dengan mudah dan cepat memilih lensa sesuai kebutuhan.

Adapun model terlaris mereka adalah lensa Sigma 70-300 F4-5.6 DG dengan harga banderol Rp1,9 juta. Tipe ini ditujukan bagi mereka yang butuh lensa tele, namun tidak memotret obyek secara cepat. Selanjutnya, pengguna DSLR memfavoritkan Sigma 50 mm F1.4 dengan banderol Rp5 jutaan yang cocok untuk foto portrait.

Adapun lensa Sigma 18-250mm f/3.5-6.3 DC ibarat paket hemat karena memiliki fungsi tele dan wide sekaligus. “Segmennya untuk fotografer wedding pemula atau traveler,” ujar Marketing Manager PT Aneka Warna Joshua Yusuf.

Tentu saja, Sigma tidak menutup mata dengan kehadiran segmen kamera Mirrorless yang mencatat pertumbuhan sangat tinggi. ”Kami sudah memiliki varian khusus model mirrorless kendati tidak terlalu banyak,” paparnya.

Untuk model Sony NEX, misalnya, tersedia 2 lensa. Yakni Sigma 30mm F2.8 AF seharga Rp2,1 juta dan Sigma 19mm F2.8 mengusung banderol Rp2,2 juta.

Kenapa memilih lensa fixed? Karena umumnya pengguna kamera mirrorless jarang menggunakan fitur lampu blitz. Sehingga mereka butuh lensa fixed untuk mendapat hasil yang bagus,” ujarnya.

Peringkat Penjualan Lensa
Diprediksi penjualan DSLR di Indonesia selama 2012 mencapai 200.000 unit. Ini membuka peluang yang sangat besar bagi penyedia perangkat lensa. Berikut adalah urutan vendor lensa yang memiliki market share terbesar:
Canon
Nikon
Sigma
Tamron
Tokina
Carl Zeiss

Iklan