Menu ini untuk mengintipi notifikasi masuk, tanpa benar-benar meninggalkan apa yang sedang kita lakukan saat itu. Sebuah cara baru dalam bermultitasking.
BlackBerry Z10 yang diluncurkan di Indonesia pada Senin, 3 Maret 2012 silam.

Persaingan di pasar smartphone tahun ini semakin sengit. Para vendor telah menyiapkan model flagship (terbaik), memberikan lebih banyak fitur dan teknologi kepada konsumen.   

Sejumlah model smartphone baru akan menyapa pasar Indonesia dalam beberapa hari kedepan. Z10, handset terbaru keluaran Research in Motion (RIM)—yang kini mengusung nama BlackBerry–, akan diluncurkan perdana di Jakarta Senin (4/3) besok.

Menggunakan sistem operasi BlackBerry 10, Z10 yang memiliki layar sentuh berukuran 4,2 inci itu dianggap sudah mampu bersaing dengan sistem operasi Android keluaran Google ataupun iOS milik Apple.

Operator seperti Telkomsel, XL Axiata, Indosat, bahkan Axis menyatakan antusias untuk mem-bundling Z10 dengan layanan mereka.

Bersama dengan Q10—BlackBerry 10 dengan keypad QWERTY dan layar sentuh—yang akan diluncurkan secara global April mendatang, Z10 akan menjadi tumpuan BlackBerry untuk tetap relevan di pasar smartphone Indonesia.

Meski, dengan harga banderol sekitar Rp7 jutaan BlackBerry Z10 diperkirakan tidak akan terjual banyak. Menurut Associate Market Analyst PT IDC Indonesia Darwin Lee, konsumen yang mampu membeli ponsel diatas Rp7 juta relatif terbatas. ”Model terlaris BlackBerry tetap berasal dari model menengah dengan harga dibawah Rp3 jutaan,” ujarnya.

Meski market smartphone premium cenderung niche (spesifik), para vendor tetap agresif untuk menghadirkan segmen tersebut ke pasar Indonesia. Sony Mobile Communications Indonesia, misalnya, siap mengenalkan produk flagship Xperia Z pada 14 Maret 2013 mendatang.

Bahkan saat ini pengguna sudah bisa melakukan pre-order melalui toko online seperti Blibli.com. Xperia Z yang dikenalkan di Consumer Electronics Show (CES) 2013 Januari 2013 silam memiliki ukuran layar full HD berukuran 5 inci.

Tidak hanya layarnya sangat tajam, performa smartphone tersebut juga sangat tinggi melalui chipset Qualcomm Snapdragon S4 Pro APQ8064 quad-core dengan RAM 2 GB. Tapi, yang lebih penting smartphone tersebut tahan air hingga kedalaman 1 meter.

Karena ukuran layarnya yang sangat besar itu, Xperia Z dijuluki phablet atau gabungan antara ponsel dan tablet. Di CES 2013, kategori yang dipopulerkan oleh Samsung lewat lini produk Samsung Galaxy Note itu menjadi bintang baru.

Sebab, ternyata konsumen memiliki keinginan untuk menggunakan smartphone dengan layar besar (lebih dari 5 inci), tapi tidak sebesar tablet 7 inci. Lenovo Mobile Indonesia adalah vendor yang merasakan popularitas phablet. Varian Lenovo S880 yang dibanderol hanya Rp2 jutaan mengakomodir 50 persen total 100.000 unit penjualan mereka selama 2012.

”Dengan harga yang kurang lebih sama, konsumen di Indonesia merasa lebih mendapat benefit dengan ukuran layar lebih besar,” kata Presiden Direktur Lenovo Mobile Sandy Lumy.

Dengan layar lebih besar, semakin banyak pula fungsi yang dilakukan. Itu sebabnya, mengapa PT Samsung Electronics Indonesia (SEIN) tidak ragu untuk mengenalkan Samsung Galaxy Note 8.0 di ajang Samsung South Asia, Oceania, and Taiwan Forum 2013 di Hotel Mulia, Jakarta, yang berlangsung pada 27 Februari hingga 2 Maret 2013.

Vice President Mobile Business PT SEIN Andreas Moritz Rompis menyebut Galaxy Note 8.0 sebagai tablet, buku catatan, diary, dan ebook. ”Ini akan memangkas batasan terhadap bagaimana kita mengonsumsi tablet,” ujarnya.

Memang masih belum jelas kapan tablet tersebut akan secara resmi dipasarkan di Indonesia. Tapi yang pasti, langkah Samsung ini salah satunya untuk menjawab iPad mini keluaran Apple yang berukuran 7,8 inci. Apple sengaja merilis iPad yang lebih kecil karena tingginya permintaan akan tablet yang lebih ringkas.

CEO Apple Tim Cook mengatakan bahwa langkah itu harus mereka ambil walau sebagai konsekuensinya iPad mini mengkanibalisasi pasar iPad standar yang ukuran layarnya 9,7 inci. “Kalau bukan kami sendiri, maka orang lain yang melakukannya (kanibalisasi),” kata Cook.

Vendor asal Taiwan HTC tidak mau kalah. Pertengahan Februari 2013 silam mereka mengenalkan produk flagship pada 2013: HTC One. Mengusung layar sentuh 4,7 inci Full HD dan bodi alumunium, HTC One menjadi smartphone dengan fitur terbaik yang ada saat ini.

Prosesornya menggunakan Qualcomm Snapdragon 600 quad-core 1.7 GHz dan RAM 2 GB. Teknologi kameranya diperbarui, diklaim mampu menangkap gambar 300 persen lebih terang dengan fitur continuous shooting.      Tapi, fitur yang belum pernah digunakan di ponsel Android sebelumnya adalah ini: HTC BlinkFeed. BlinkFeed membuat home screen HTC One menampilkan konten-konten favorit pengguna baik artikel, foto, status Facebook dan Twitter, atau lainnya bergantian di home screen.

Di Mobile World Congress (MWC) 2013 di Barcelona, Spanyol, 25-28 Februari 2013 silam, operator Indosat sudah melakukan inovasi bundling konten dengan HTC One, dimana pengguna Indosat akan mendapatkan update BlinkFeed secara gratis. Ini juga menegaskan bahwa Indosat akan menjadi mitra eksklusif HTC di Indonesia.

”BlinkFeed akan mendapatkan pengalaman baru bagi pengguna smartphone,” ujar Lennard Hoornik, Presiden HTC Asia Selatan Pasifik. Rencananya HTC One mulai pertengahan Maret 2013 di Inggris.

Meski belum memiliki tanggal pasti, Country Director Marketing HTC Indonesia Djunadi Satrio menegaskan bahwa HTC One akan masuk Indonesia dalam waktu dekat. ”Ini adalah produk smartphone yang fiturnya sama sekali baru. Karena itu kami yakin produk ini dapat diterima di Indonesia,” paparnya.

MWC 2013 yang seharusnya menjadi ajang pamer smartphone baru dari raksasa teknologi dunia tahun ini justru sepi. Ketika HTC sudah mengumumkan HTC One sepekan sebelum MWC 2013, Samsung justru masih merahasiakan flagship smartphone teranyar mereka: Galaxy S4.

Rencananya, Galaxy S4 akan diluncurkan di event terpisah di New York pada 14 Maret 2013 mendatang. Rumornya, Galaxy S4 akan dibekali layar Full HD berukuran 5 inci dengan kerapatan 1920×1080 piksel.

Sedangkan kepadatan pikselnya disebut-sebut mencapai 440 piksel per inci yang berarti lebih padat dibanding teknologi Retina Display keluaran Apple. Galaxy S4 juga diperkirakan mengusung teknologi wireless charging atau pengisian baterai secara nirkabel.

Absennya pemain besar di MWC 2013, disebut analis Device and Platform lembaga riset Ovum Nick Dillon, sebagai positif. Karena memberikan kesempatan bagi pemain-pemain yang lebih untuk muncul.

Faktanya, ada tiga sistem operasi baru yang akan meramaikan pasar smartphone dalam waktu dekat. Mereka adalah Mozzila dengan sistem operasi Firefox , Canonical dengan sistem operasi Ubuntu for phones, dan Jolla lewat sistem operasi Sailfish.

Ketiga sistem operasi itu memang tidak akan masuk ke pasar smartphone premium. Mereka lebih menargetkan model smartphone middle low.

Dengan sistem operasi iOS dan Android yang jika digabungkan mencapai lebih dari 90 persen pasar smartphone di dunia, maka “ekosistem ketiga” seolah menjadi gelar yang diperebutkan paling banyak pihak.

Baik BlackBerry 10, Windows Phone 8 keluaran Microsoft, dan ketiga OS baru yang belum secara resmi diluncurkan itu akan berlomba menjadi sistem operasi terbesar ketiga setelah Android dan iOS.

Yang pasti, menurut analis Darwin Lee, keberagaman produk smartphone yang masuk ke pasar Indonesia punya dampak positif. ”Karena market akan semakin cepat teredukasi,” ujarnya.

Darwin menyebut empat hal yang menjadi pertimbangan orang Indonesia dalam memilih ponsel: pertama harga, kedua ketersediaan, ketiga desain, dan keempat barulah sistem operasi. Tahun ini ia memperkirakan vendor seperti Sony Mobile Indonesia, LG Electronics Indonesia, dan Lenovo Mobile Indonesia akan semakin agresif dalam melakukan penetrasi dengan melepas lebih banyak line-up produk ke pasar.

Hanya saja, Darwin menilai bahwa konsumsi pengguna ponsel di Indonesi a masih dalam tahap ”basic”. ”Konsumen lebih memilih desain daripada mengapresiasi kekuatan sesungguhnya dari ekosistem sebuah smartphone,” ujarnya. ”Itulah alasan mengapa feature phone (ponsel sederhana) masih tetap tinggi. Bukan karena murah, namun karena konsumen menganggap fitur seperti itu sudah cukup,” ia menambahkan.

Iklan