Rafli Fauzan, siswa tingkat SMP mencoba belajar pelajaran sekolah menggunakan tablet dengan dukungan software buku pelajaran digital (digital textbook).
Rafli Fauzan, siswa tingkat SMP mencoba belajar pelajaran sekolah menggunakan tablet dengan dukungan software buku pelajaran digital.

Yang harus dijawab seiring dengan popularitas sabak digital (tablet) di Indonesia adalah ini: bisakah perangkat tersebut memberikan manfaat lebih selain menjalankan fungsi utama sebagai media berinternet, bermain game, atau menonton video? Bisakah, misalnya, tablet dimanfaatkan sebagai perangkat penunjang pendidikan dasar baik di SD, SMP, maupun SMA?

Faktanya, sejak beberapa tahun terakhir tablet sudah disinergikan di sekolah-sekolah Amerika maupun Australia. Para siswa tak perlu lagi membawa buku diktat yang tebal-tebal dan berat itu karena materi pelajaran dibagikan melalui buku digital (e-book).

Kebutuhan dunia pendidikan terhadap tablet begitu tingginya hingga pada April-Juni 2012 silam Apple menjual 1 juta unit iPad ke sekolah-sekolah dan universitas. Secara total Apple telah menjual lebih dari 17 juta unit iPad hanya untuk sektor pendidikan. Sebuah fakta yang bahkan membuat CEO Apple Tim Cook geleng kepala. ”Adopsi iPad di sektor pendidikan belum pernah semasif ini,” katanya.

Di Indonesia ternyata cukup banyak perusahaan yang menyediakan konten pendidikan untuk tablet. Salah satunya PT Pesona Edukasi (PesonaEdu), yang baru saja meluncurkan The 4th Generation Digital Textbook.

Founder dan Marketing Director PesonaEdu Hary S Candra mengatakan bahwa digital textbook terbaru ini memiliki konten interaktif yang menyatu dalam buku seperti ilustrasi, animasi, hingga video. Siswa juga tidak pasif karena mereka dapat memberikan catatan, menggaris warnai (highlight), serta melakukan aktivitas pencarian.

PesonaEdu telah mendukung beberapa penerbit kelas dunia menebitkan produk serupa sejak akhir tahun lalu.

Menurut Hary, paradigma perubahan Teacher Center menjadi Student Center yang telah belasan tahun berjalan kurang menunjukkan hasil maksimal. Salah satunya karena keterbatasan bahan ajar yang menarik untuk siswa.

Buku Teks Digital interaktif yang dikombinasikan dengan tablet ini dinilainya akan membawa angin segar terhadap proses belajar mengajar. ”Tablet dapat digunakan untuk menambah pengetahuan dengan cara yang sama menariknya dengan bermain game,” ujarnya.

Hary juga mengatakan bahwa guru dan orang tua perlu mempertimbangkan media tablet dan buku digital sebagai pendamping buku pelajaran cetak. ”Selain lebih murah dibanding buku cetak, buku digital lebih menarik dan memiliki unsur interaktif,” ujarnya.

Sosiolog Imam Prasojo mengatakan bahwa kehadiran tablet memberikan dampak sangat besar terhadap gaya hidup masyarakat Indonesia. Menurutnya, saat ini telah terjadi perubahan dari generasi yang dulunya konvensional menjadi generasi digital. ”Generasi saat ini lahir dengan teknologi,” ujarnya.

Karena itu, tablet adalah sebuah keniscayaan. Beberapa negara bahkan sudah mempertimbangkan penguasaan Teknologi Informasi dan Komunikasi sebagai materi  sains ke-4 setelah Fisika, Biologi dan Kimia.

Iklan