CEO BlackBerry Thorsten Heins dan Alicia Keys dalam peluncuran BlackBerry 10 di New York, AS.
CEO BlackBerry Thorsten Heins dan Alicia Keys dalam peluncuran BlackBerry 10 di New York, AS.

Melalui BlackBerry 10 yang diluncurkan Rabu (30/1), Research in Motion (RIM)—yang kini mengusung nama BlackBerry—ingin memulai awal baru.         

Lupakan semua yang Anda ketahui tentang BlackBerry. Sebab, platform terbaru BlackBerry 10 telah dirombak total. Z10, handset pertama yang mengusung platform BlackBerry 10, hadir dengan layar sentuh, kendati model dengan kibor fisik (Q10) juga akan dilucurkan.

Platform BlackBerry 10 tidak hanya solid, tapi juga sama intuitifnya dengan iOS milik Apple ataupun Android buatan Google. Berbagai fitur baru dibenamkan.

Mulai dari kibor sentuh yang dapat memprediksi kata, dua moda penggunaan untuk bisnis dan personal, kamera yang mampu merekam momen beruntun, BlackBerry Messenger (BBM) yang dapat melakukan panggilan suara dan video, hingga browser yang cepat dan intuitif.

Platform BlackBerry 10 di desain ulang untuk memaksimalkan kegiatan multimedia, aplikasi, serta pengalaman sentuh agar dapat bersaing dengan handset yang ada di pasaran saat ini. Z10 dan Q10 dijanjikan lebih cepat, memiliki pengalaman mengetik yang lebih baik, serta berfungsi sebagai handset yang mumpuni digunakan untuk bekerja sekaligus untuk hiburan.

Tak heran jika BlackBerry 10 mendapat banyak ulasan positif dari berbagai media. Kendati demikian, saham BlackBerry justru turun 12 persen ke angka USD13,78 setelah peluncuran. Investor khawatir platform terbaru itu sudah sangat terlambat untuk bisa mengembalikan kejayaan BlackBerry seperti 3-4 tahun lalu.

Yang pasti BlackBerry 10 ingin dijadikan sebagai sebuah optimisme baru. Nama perusahaan Research in Motion Ltd (RIM), kini disederhanakan menjadi BlackBerry. ”Hari ini adalah awal dari sejarah BlackBerry,” ujar CEO Thorsten Heins di New York. Peluncuran BlackBerry digelar secara serentak di sejumlah negara seperti New York, Toronto, London, Paris, Dubai dan Johannesburg.

BlackBerry, yang pertama diluncurkan pada 1999, merubah kultur bagaimana orang bekerja di perangkat bergerak. Salah satunya melalui akses surat elektronik (email). Presiden Barack Obama hingga kini masih menggunakan BlackBerry. Dari pebisnis, BlackBerry mulai menarik banyak konsumen.

Sayangnya, pada saat itu juga competitor BlackBerry seperti Apple dan Google menghadirkan handset dan sistem operasi yang jauh lebih baik. RIM, pada saat itu dinilai lambat dalam berinovasi sehingga terus ketinggalan. Hingga pada 2010 RIM memutuskan untuk mengakuisisi QNX Software System.

Namun, butuh dua tahun bagi RIM untuk menginjeksikan QNX ke handset BlackBerry yang memiliki kemampuan multimedia, berselancar internet lebih cepat, serta dukungan aplikasi mumpuni—yang menjadi tuntutan konsumen saat ini–. Langkah tersebut dinilai sangat terlambat.

Menurut laporan Wireless Smartphone Strategies (WSS), pada kuartal keempat 2012 silam iOS dan Android telah mengakomodir 92 persen pasar smartphone secara global. Melihat angka ini, banyak yang meragukan kemampuan BlackBerry untuk bisa bertahan dan meraih kembali market share yang hilang dalam beberapa tahun terakhir.

”BlackBerry 10 akan menjadi smartphone yang banyak dipuji, tapi tidak banyak orang yang akan membelinya,” ujar analis Colin Gillis dari BGC Financial. Sedangkan analis lain Adam Leach dari Ovum menilai BlackBerry 10 akan tetap menarik pengguna BlackBerry yang ada saat ini, namun tidak akan menggerus popularitas iPhone atau Android. ”Dalam jangka panjang BlackBerry akan menjadi market niche,” katanya.

Chief Marketing Officer BlackBerry Frank Boulben mengatakan bahwa BlackBerry 10 akan menargetkan pangsa pasar yang lebih besar, yakni mereka yang mencari pengalaman baru dalam menggunakan smartphone.

Lalu, bagaimana dengan pasar Indonesia? Seberapa relevan BlackBerry 10 di pasar lokal? Associate Market Analyst PT IDC Indonesia Darwin Lee mengatakan, BlackBerry 10 akan lebih diminati oleh upper market karena harganya sendiri yang relatif mahal. Harga BlackBerry Z10 diperkirakan mencapai Rp6 juta-Rp7 jutaan.

Karena itu, ketika masuk ke pasar Indonesia nanti pertumbuhannya akan kecil (sedikit). ”Kami tidak mengharapkan market share BlackBerry akan bertambah secara signifikan ketika BlackBerry 10 masuk ke pasar Indonesia nanti,” ujarnya.

Menurut Darwin, yang akan mendorong pertumbuhan pasar BlackBerry di Indonesia justru handset seperti BlackBerry Curve 9220 (Davis) dan Blackberry Curve 9320 (Amstrong) yang memiliki banderol harga dibawah Rp2,5 juta.

Iklan