Huawei Ascend yang baru akan dirilis.
Huawei Ascend yang baru akan dirilis.

Ketika Consumer Electronics Show (CES) 2010 dan 2011 disebut sebagai ”the year of tablet”, maka phablet menjadi sorotan utama CES 2013. Inilah kategori baru yang pasarnya akan terus membesar dalam tiga tahun mendatang.

Phablet adalah istilah tidak baku untuk mengategorisasikan perangkat bergerak dengan ukuran layar 5 hingga 7 inci. Segmen ini meraih popularitas pada 2012 dan diprediksi akan terus memanas dalam beberapa tahun kedepan.

Analis Neil Mawston dari Strategy Analytics asal Inggris menyebut 2013 sebagai ”the year of phablet”.

Sebutan itu tidak berlebihan melihat sengitnya persaingan phablet di CES 2013. Mulai Samsung Electronics dan LG Electronics asal Korea, ZTE dan Huawei dari China, hingga Sony dan Sharp asal Jepang memiliki produk phablet andalan.

ZTE punya Nubia dan ZTE Grand S. Nubia dirancang langsung oleh desainer Italia Stefano Giovannoni, sedangkan Grand S diklaim sebagai phablet tertipis dengan tebal hanya 6,8 mm.

Huawei sendiri punya Ascend Mate yang memiliki bentang diagonal layar mencapai 6,1 inci, terpaut tipis dengan tablet 7 inci yang seperti Samsung Galaxy Tab.

”Ukuran 5 inci untuk smartphone tidak lagi dianggap besar,” ujar Joshua Flood dari ABI Research. Popularitas tablet, lanjut Flood, adalah sebuah keniscayaan seiring dengan tingginya konsumsi konten visual di perangkat bergerak. ”Konsumen menginginkan layar yang lebih besar,” katanya.

Dulu, semakin ringkas ukuran smartphone memang lebih baik. Tapi yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Dengan tingginya konsumsi konten visual, maka lebih besar ukuran sebuah smartphone lebih baik.

Lembaga riset Barclays memperkirakan nilai pasar phablet secara global akan meningkat hingga USD135 miliar dalam tiga tahun mendatang. Pada saat itu handset dengan ukuran layar 5 inci atau lebih akan mencapai 228 juta unit.

Yang menarik, Asia Pasifik disebut-sebut sebagai market terbesar dari phablet. Tahun lalu wilayah ini sudah menyerap 42 persen dari pengapalan smartphone secara global. Pada 2017 nanti jumlahnya akan meningkat hingga 50 persen.

”Negara seperti Jepang dan Korea Selatan adalah market terbesar phablet,” ujar Joshua Flood. Diikuti oleh China, India, serta Malaysia.

Dell adalah vendor yang mengenalkan kategori phablet ini lewat Streak pada 2010. Sayangnya, Streak hadir terlalu dini. Saat itu ukuran layar smartphone masih berada di kisaran 3 inci. Karena itu konsumen tidak mengganggap smartphone dengan ukuran 5 inci sebagai sesuatu yang menarik.

Barulah ketika Samsung mengenalkan Galaxy Note dengan layar 5,3 inci pada akhir 2011 lalu yang memicu ketertarikan konsumen. ”Galaxy Note diluncurkan ketika smartphone berukuran 4 inci adalah hal biasa. Karena ketika hadir smartphone dengan ukuran 5 inci, tidak lagi jadi sesuatu yang besar,” ujar Flood.

Samsung yang baru saja merilis Galaxy Note 2 dengan layar 5,5 inci mengakomodir tiga perempat pengiriman phablet global pada 2012. ”Samsung memang bukan pencetus phablet,” ujar Lv Qianhao, Head of Handset Strategy di ZTE. “Tapi merekalah yang mempopulerkan kategori ini dan membentuk permintaan yang sangat besar,” tambahnya.

Kue pasar phablet ini sudah dinikmati pula oleh vendor seperti LG Electronics dan HTC. Menurut Strategy Analytics LG Electronics menyumbang 14 persen penjualan phablet pada kuartal ketiga 2012 lalu. Butterfly, phablet keluaran HTC, menurut Dennis Chan dari Yuanta Securities mendapat respon sangat baik di Taiwan maupun Jepang.

Popularitas phablet di Indonesia pun tidak kalah seru. Hasil polling yang digelar oleh Yahoo Indonesia baru-baru ini memperlihatkan bagaimana konsumen Indonesia lebih memilih phablet Samsung Galaxy Note 2 dibandingkan iPhone 5.

Galaxy Note 2 yang dibanderol Rp7,5 juta itu memang menyasar pasar menengah keatas. Meski demikian, pengguna juga bisa mendapat berbagai model phablet dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

Lenovo Mobile yang akhir tahun lalu masuk ke pasar Indonesia memiliki varian phablet S880 yang berukuran 5 inci. Harganya hanya sepertiga dari Galaxy Note 2, yakni Rp2.250.000.

Kesempatan untuk menghadirkan model phablet dengan harga lebih terjangkau tidak disia-siakan oleh vendor lokal.

Mito, misalnya, mengandalkan model A220 yang berukuran 5 inci dengan harga kurang dari Rp1 juta. Menurut Direktur Utama Mito Mobile Hansen Lie, keterjangkauan harga akan semakin mempercepat penetrasi phablet di pasar lokal.

”Pasar smartphone 5 inci masih sangat besar karena pemainnya masih sedikit,” tambah Janto Djojo, Direktur Marketing Cross Mobilephone yang juga baru saja mengenalkan phablet Cross A2. ”Strategi kami adalah memberikan fitur dan spesifikasi yang komplit namun harganya tetap terjangkau,” ungkapnya.

Tentu saja harga akan menjadi pertimbangan seberapa cepat penetrasi phablet di pasar. Selama harga phablet masih tinggi, segmen yang dibidik pun semakin mengerucut.

Di Las Vegas, Samsung sudah menyiapkan model phablet yang lebih terjangkau. Yakni Galaxy Grand. Ukurannya tetap 5 inci. Namun kualitas resolusi dan prosesornya dipangkas. Bahkan memiliki dual SIM. Galaxy Grand sengaja ditujukkan untuk pasar negara berkembang seperti India dan Indonesia.

Sambil menunggu harga phablet yang terus menurun, yang terjadi dalam waktu dekat adalah ini: diferensiasi. Para vendor mencari cara untuk membuat produk mereka berbeda dengan kompetitor.

Samsung mengenalkan layar AMOLED yang lebih tipis sehingga baterai lebih besar dapat dibenamkan ke dalam handset. Market share Samsung di smartphone berlayar 5 inci atau lebih hanya akan turun dari 73 persen pada 2012 menjadi 58 persen pada 2016. Artinya Samsung masih akan dominan di segmen phablet.

Menurut analis asal Finlandia Horace Dediu, phablet akan melebarkan bagaimana cara pengguna melakukan mobile computing, yang kini dapat dilakukan dimana saja—ruang tamu, di kereta, mobil, tempat tidur, hingga kantor–.

”Masyarakat dunia kini menuju ke era baru mobile computing. Pilihan untuk berkomputasi di perjalanan tidak lagi tergantung oleh netbook atau ponsel, namun berbagai pilihan perangkat yang berbeda seperti phablet dan tablet,” katanya.

”Pada awal munculnya phablet di definisikan sebagai smartphone yang ’kegedean’. Tapi sekarang definisi phablet adalah era baru komputer,” ia menambahkan.

Iklan