iPhone 5 meski ditawarkan dengan harga yang sangat mahal, namun tetap diminati oleh kalangan menengah keatas.
iPhone 5 meski ditawarkan dengan harga yang sangat mahal, namun tetap diminati oleh kalangan menengah keatas.

Peluncuran iPhone 5 secara serentak oleh Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat membuat handset terbaru keluaran Apple itu jadi pembicaraan hangat di Indonesia. Pekan lalu, iPhone 5 menjadi handset yang paling diburu.

Di beberapa lokasi seperti Senayan City dan Central Park antrean pembeli mengular. Calon pembeli tidak hanya ingin menjadi orang pertama yang memiliki handset keluaran Apple tersebut. Mereka juga mengincar diskon yang diberikan operator yang bisa mencapai 50 persen.

Mereka yang tak ingin antre pun tetap bisa ”berburu” iPhone 5 melalui toko online seperti Lazada.co.id dan Multiply.com. ”Tidak perlu repot mengantri jika membeli di kami,” tulis akun Twitter @MultiplyID.

Berapa jumlah iPhone 5 yang terjual saat ini memang tidak diketahui. Yang pasti smartphone tersebut mencetak rekor penjualan sebanyak 2 juta unit dalam 24 jam dan 5 juta unit selama sepekan di 9 negara pertama yang menjadi penerima iPhone 5.

Di negara Asia seperti China, Apple mampu menjual 2 juta unit iPhone 5 hanya dalam waktu waktu tiga hari sejak dikenalkan pada Jumat (14/12) silam.

Tidak seperti di Amerika dimana harga iPhone bisa kurang dari Rp2 jutaan (operator melakukan subsidi dan bersyarat kontrak), harga iPhone di Indonesia jauh lebih tinggi dibanding smartphone premium lain seperti Samsung Galaxy SIII ataupun HTC One X+.

PT XL Axiata, misalnya, menawarkan iPhone 5 dengan harga mulai Rp8 juta (16 GB), Rp9 juta (32 GB), serta Rp10 juta (64 GB). Padahal, baik Galaxy SIII ataupun One X+ ditawarkan kurang dari Rp7 juta.

Rentang harganya yang terbilang tinggi dibandingkan kompetitor inilah yang membuat iPhone 5 secara spesifik menyasar tingkatan ekonomi tertentu. Yakni pasar high end atau premium.

Karena itu pula market share Apple di Indonesia dari tahun ke tahun cenderung stagnan. ”Mereka yang memiliki kemampuan membeli ponsel diatas Rp7 juta itu sangat kecil,” ujar Associate Market Analyst PT IDC Indonesia Darwin Lee.

Pengapalan smartphone yang menciptakan hype begitu luas itu ke Indonesia diperkirakan hanya ada di kisaran beberapa ribu unit saja. ”Permintaan terhadap produk Apple bisa dibilang naik turun. Meningkat pada musim liburan dan sisanya stagnan,” ujarnya.

Apa alasan orang membeli iPhone 5? Jika Anda menduga jawabannya adalah: ”ingin mendapatkan dukungan ekosistem sempurna dari Apple”, maka jawaban itu salah besar.

Sudev Bangah, Head of IDC Indonesia Operations, mengatakan bahwa hanya sebagian kecil pengguna iPhone yang mampu mengapresiasi kekuatan sesungguhnya dari ekosistem (diklaim paling sempurna) milik Apple itu.

Sebab konsumsi mobile phone orang Indonesia, lanjut Sudev, rata-rata masih sangat mendasar atau basic. Karena itulah Sudev menilai bahwa pembeli iPhone (termasuk iPhone 5) lebih berat di unsur desain atau gengsi dibandingkan fungsi dan utilisasi.”iPhone 5 adalah lifestyle device,” paparnya.

Pengamat telematika Teguh Prasetya menilai bahwa memang ada dua jenis penggemar iPhone. Yang pertama adalah mereka para tech-savvy yang sangat konsen dengan kecepatan, memori, atau grafis sebuah perangkat bergerak. Dan yang kedua adalah mereka yang tidak peduli lagi dengan spesifikasi. Mereka tidak lagi mencari smartphone dengan spesifikasi terbaik yang ada di pasaran saat ini.

”Segmen kedua inilah yang menciptakan hype pekan lalu. Yakni mereka yang sudah merasa sangat puas dengan fitur, fungsionalitas, dan ekosistem yang diberikan Apple,” ujar Teguh.

Hal ini berkaitan pula dengan pendapat kontributor majalah Forbes Anthony Wing Kosner. Ia menilai bahwa iPhone memiliki ikatan emosional yang tinggi kepada penggunanya karena sejarah yang ditorehkan smartphone tersebut.

iPhone-lah perangkat yang merevolusi penggunaan smartphone. Kendati iPhone 5 hadir “hanya” dengan pembaruan seperti layar lebih panjang atau bodi sedikit lebih tipis dan ringan, namun iPhone tetap menjadi kanvas dari ekosistem aplikasi milik Apple yang disebut paling sempurna dibandingkan kompetitornya.

Selama 5 tahun terakhir ini pula iPhone menjadi produk dengan kedekatan emosional konsumen tertinggi. Hal itu diungkapkan oleh survei New Media Metrics LEAP Index (Leveraging Emotional Attachment for Profit).

”Seperti halnya mobil atau pakaian, kita merefleksikan diri melalui smartphone yang kita gunakan,” ujar Kosner. ”Itu yang menjelaskan mengapa konsumen sangat tertarik dengan peluncuran produk Apple dan mengapa loyalitas terhadap Apple begitu tinggi,” ia menambahkan.

Faktanya, 7 dari 10 produk teratas dari survei New Media Metrics LEAP Index berasal dari ranah teknologi. Ini menunjukkan bagaimana masyarakat modern begitu penting menganggap gadget atau perangkat teknologi yang menemani kegiatan mereka sehari-hari.

Meski iPhone 5 dikritik minim inovasi dan tidak memiliki perubahan signifikan dibanding versi sebelumnya, tak sedikit pula yang memuji performa handset baru keluaran Apple itu.

Salah satunya majalah Time. Pekan lalu Time memberikan label Gadget of the Year pada iPhone 5. Alasan mereka karena memiliki desain lebih cantik, lebih panjang, tipis dan ringan, handset tersebut juga memiliki kamera dengan moda panorama yang baik.

“Memang banyak smartphone dengan fitur mumpuni seperti Samsung Galaxy S3. Namun, bagaimana Apple bisa merajut hardware, software, dan servis menjadi satu kesatuan masih sulit ditandingi oleh kompetitornya,” tulis majalah Time.

Apple memang disebut-sebut memiliki ekosistem paling sempurna diantara kompetitor seperti Android, BlackBerry, atau bahkan Windows Phone 8. Dan sejak akhir November lalu kesempurnaan itu bertambah ketika Apple akhirnya merilis secara resmi iTunes Music Store untuk pasar Indonesia.

Pada Juni 2012, iTunes Music Store hadir di pasar Asia Tenggara. Tapi tidak menyertakan Indonesia. Namun, sejak November lalu akhirnya pengguna produk Apple sudah bisa melakukan pembelian konten di iTunes Music Store menggunakan kartu kredit. Baik konten musik ataupun film.

Bahkan sudah ada beberapa label yang menjual musik di iTunes Music Store.    ”Dibukanya iTunes Music Store ini membuka peluang baru terhadap pendistribusian musik,” ujar musikus Tompi saat dihubungi melalui ponselnya.

Perusahaan asing enggan berjualan di Indonesia, lanjut Tompi, karena adanya kekhawatiran pembajakan atau penyalahgunaan kartu kredit. Padahal potensi pasarnya sendiri di Indonesia dinilainya sangat besar. ”Musik digital adalah masa depan,” ungkap Tompi. ”Kedepannya tidak ada lagi yang akan mau membeli barang fisik,” ia menambahkan.

Iklan