Model memperlihatkan Nikon Coolpix S800c, kamera saku digital yang menggunakan sistem operasi Android. Diprediksi hibrida antara kamera dengan Android akan marak di masa mendatang.
Apa yang dilakukan Nikon ini bukan tidak mungkin dicontek oleh vendor lain di masa depan. Mereka melebur keunggulan smartphone ke dalam kamera digital ”point and shoot”—segmen kamera entry level dengan market share terbesar di industri–.
Coolpix S800c, kamera 16 megapixel terbaru Nikon yang akan dipasarkan pada September mendatang itu telah diinjeksikan sistem operasi Android.

Dampaknya apa? Pengguna bisa mengunduh puluhan, bahkan ratusan aplikasi olah gambar, penyimpanan cloud, jejaring sosial, dan masih beragam aplikasi lainnya dari Google Play ke dalam kamera. Lantas memanfaatkan jaringan wi-fi untuk mengirimnya ke berbagai situs photo-sharing atau jejaring sosial populer seperti Instagram, Facebook, Photobucket, Flickr, Twitter, dan masih banyak lagi.

Langkah ini tentu saja bisa menjadi solusi dari ”friksi” yang terjadi pasar kamera ”point and shoot” dan smartphone. ”Friksi” itu terjadi ketika kamera pada smartphone berubah dari yang hanya memiliki resolusi rendah dan kualitas seadanya menjadi sangat canggih: beresolusi hingga belasan megapixel dan kualitasnya sudah sepadan dengan kamera saku digital pada umumnya.

Tentu saja industri kamera masih bisa jumawa dengan teknologi pada kamera yang juga makin diperbaiki: kamera DSLR yang semakin rumah, kamera mirrorless yang menawarkan fungsionalitas DSLR dengan ukuran kompak, ataupun kamera poket yang sudah dibenamkan sensor yang besar, fungsi manual, serta yang ISO tinggi untuk pemotretan di pencahayaan rendah.

Namun, yang tidak disangka-sangka oleh para vendor kamera adalah ini: ada keinginan besar untuk membagi sebuah foto sesegera mungkin. Konsumen ingin agar sebuah momen yang dijepret bisa langsung disebarkan sesegera mungkin ke Facebook, Twitter, Instagram, Path, Flickr, dan situs photo-sharing lainnya.

Disinilah kamera digital mau tidak mau harus menyerah pada smartphone. Studi yang dilakukan NPD Group menunjukkan bahwa lebih dari 25% foto dan video yang diunggah secara online berasal dari smartphone. Dan angka itu terus membengkak.

Dengan Coolpix S800c yang dipasarkan di rentang USD350 (Rp3 jutaan), Nikon mendapat keleluasaan yang tidak dimiliki kamera digital pada umumnya. Memang Coolpix S800c tidak memiliki jaringan seluler, tapi kamera itu sudah memiliki wi-fi.

Kamera digital dengan wi-fi pun sudah dirilis oleh vendor seperti Samsung, tapi pengguna Coolpix S800c dapat langsung melakukan olah digital dari foto yang telah diambil dengan beragam aplikasi Android di kamera.

Dan seandainya saja tidak ada jaringan wi-fi yang tersedia, pengguna masih bisa memakai smartphone atau tabletnya sebagai wi-fi hot spot dengan cara tethering.

Pengguna pun juga bisa mendapat fungsi yang sama dengan ponsel Android pada umumnya. Misalnya mengirim email, mendengarkan musik, browsing internet, ataupun bermain game.

Dari segi fitur, kamera itu dibekali 10x perbesarn optik, mampu merekam video 1080p atau full HD, GPS dan peta untuk tagging lokasi foto. Kamera itu menggunakan Android 2.3 atau Gingerbread.

Langkah Nikon melebur kamera dengan Android ini juga mengejutkan. Sebab kompetitor seperti Sony dan Samsung yang juga memproduksi kamera digital justru berada di posisi lebih baik untuk menggabungkan dua produk tersebut.

Pada CES 2012 di Las Vegas awal tahun ini Polaroid menunjukkan kamera SC1630 yang juga ditenagai Android namun belum juga tersedia di pasaran hingga saat ini.

Yang paling mendekati adalah Samsung. Mereka sudah mengenalkan Galaxy Camera di perhelatan IFA 2012 di Berlin. Galaxy Camera disebut memiliki layar 4.8 inci, sensor 16 MP, wi-fi, dan sistem operasi Android 4.0.

Spesifikasi Nikon Coolpix S800c:

  • 16MP 1/2.3 inci-tipe BSI sensor CMOS
  • 25-250mm dengan F3.2-5.8 lens
  • Layar sentuh 3.5 inci WVGA OLED
  • OS Android v2.3
  • Wi-Fi, Bluetooth dan GPS
  • Memori internal 2GB (690MB untuk aplikasi)
  • Hingga 8 fps continuous shooting
  • Video 1080p30
Iklan