Membicarakan keuangan dalam keluarga memang menarik. Topik ini jadi diskusi yang serius saat saya lontarkan untuk dibahas dengan teman, meski terkadang ujungnya malah jadi bahan jadi olok-olokan—ini ada hubungannya dengan istilah “suami takut istri”–.

Keuangan dalam keluarga yang saya maksudkan adalah soal manajemen, tapi tidak sampai ke detilnya. Melainkan hanya menjawab pertanyaan sederhana ini: siapa sih yang mengatur atau memegang duit dalam keluarga (khususnya pasangan muda)?

Jawaban dari beberapa teman yang rata-rata belum lama menikah sangat beragam. Yang single income (suami bekerja, istri dirumah) memang cenderung seragam: gaji suami diberikan pada istri seutuhnya atau malah dipegang suami sendiri (istri diberi jatah bulanan). Tapi yang menarik adalah pasutri yang sama-sama bekerja (double income)–termasuk yang gaji istri lebih besar dari suami–. Nah, ini bisa sangat beragam sekali jawabannya.

Si A (pria), teman saya dari Surabaya yang sering kami olok-olok sebagai ketua himpunan ISTI (ikatan suami takut istri) jelas: memberikan semua pendapatannya (termasuk sidejob) pada istri tercinta. Si A mendapat “uang saku” harian atau mingguan dari istri.

Sedangkan teman sekantor si B (perempuan), merasa lebih nyaman ketika memegang kendali penuh semua pemasukan dari suaminya. Bahkan ia tidak ragu untuk memegang kartu kredit dan ATM sang suami.

Teman saya ini merasa dengan cara seperti inilah semua pengeluaran dalam keluarga dapat terukur dengan baik. Sedangkan suaminya juga merasa baik-baik saja dengan hal ini karena toh dia bisa selalu meminta uang kepada sang istri, saat ingin belanja, misalnya.

Nah, teman saya si C (perempuan) ini beda lagi. Ia justru tidak ingin diserahi tanggung jawab besar untuk memenej keuangan keluarga. Maka si C dan suaminya memutuskan untuk memiliki “rekening bersama”. Setiap bulan rekening itu diisi sebagian gaji masing-masing. Uang di rekening tersebut lantas digunakan mulai belanja kebutuhan sehari-hari hingga asuransi dan investasi.

Namun, mereka masih memiliki tabungan masing-masing dari sisa gaji yang disetorkan ke rekening bersama itu. Kesepakatannya, sisa gaji ini akan digunakan si C untuk “biaya liburan” keluarga. Sementara suaminya akan “menanggung” biaya membeli barang-barang tersier seperti ponsel. Karena masing-masing pegang uang sendiri, jadi lebih fleksibel bagi mereka untuk misalnya saling memberi kado atau hadiah.

Teman saya lainnya, si D (pria), mungkin menganut “mazhab” yang paling banyak dipakai: suami tetap pegang sebagian gaji, lantas menyetor sejumlah tertentu kepada istri untuk keperluan operasional (harian). Kata si D, cara ini efektif karena dia masih punya pegangan, untuk misalnya beli barang yang dia suka, hangout dengan teman, ataupun pengeluaran lainnya.

Masih ada beberapa contoh kasus lain yang bakal terlalu panjang jika diulas satu persatu. Tapi bagaimana dengan saya? Ternyata setelah saya dan istri menelaah (tsah), sistem yang digunakan si A (semua keuangan dikelola istri) kami anggap paling tepat.

Mengapa? Begini, saya menganggap keluarga kami adalah sebuah perusahaan kecil dimana saya bertindak sebagai CEO-nya dan istri sebagai CFO.

Tugas saya sebagai CEO adalah menentukan arah “perusahaan” dimasa depan, serta memastikan “perusahaan” dalam keadaan sehat: memiliki aset likuid dan tidak terjerat hutang yang sulit dilunasi.

Sedangkan tugas istri sebagai CFO adalah memastikan cash flow (aliran kas) yang baik. Bahwa setiap uang yang masuk dan keluar sesuai pada tempatnya. Karena itu apapun yang saya beli selalu diketahui istri dan begitupun sebaliknya (ada laporan lisan).

Ini penting bagi pasangan baru dari warga kelas mediocre seperti kami yang baru memulai berumah tangga dari nol.

Pengeluaran yang besar akan kami kategorikan sebagai capex (belanja modal). Apakah bujet yang dihabiskan itu nantinya akan membawa keuntungan secara langsung maupun tidak langsung bagi keluarga.

Ini terjadi saat saya ingin membeli kamera digital. Maka ditentukan bujetnya tak lebih dari sekian juta. Pertimbangannya, kamera itu memang penting untuk mendokumentasikan momen keluarga. Namun tidak secara langsung berpengaruh terhadap pertambahan pendapatan. Jadi tidak perlu lah yang sampai belasan juta.

Beda lagi dengan teman wanita saya yang berani memodali suaminya membeli DSLR dan lensa hingga puluhan juta karena suaminya sering mendapat side job motret event atau pre-wed. “Tetap gue hitung anggaran tersbeut sebagai capex yang harus dilunasi,” kata teman saya itu.

Intinya sistem keuangan yang kami terapkan adalah efektif. Setiap bujet selalu diusahakan berada di post yang tepat dan bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin. Dengan cara ini kami masih sering melakukan kegemaran untuk dine out atau menjalankan hobi traveling yang “on budjet”.

Menurut saya masing-masing model keuangan yang saya sebutkan diatas memiliki plus minus. Yang lebih penting adalah bagaimana menyesuaikannya dengan sifat, karakter, latar belakang, serta hubungan dan cara interaksi setiap pasangan yang pasti berbeda-beda.

Untuk pasangan yang baru menikah, selamat memilih pengaturan keuangan yang dianggap paling baik! Dan jangan lupa untuk selalu menjaga cash flow “perusahaan” agar tetap sehat. 🙂

Iklan