Crowdfunding atau penggalangan dana publik lewat internet belakangan mulai populer. Tidak hanya dimanfaatkan untuk tujuan sosial, namun bisa juga untuk mengembangkan bisnis.

Para personel grup band psychedelic grunge asal Bali Navicula akhirnya bisa tersenyum lega. Mereka berhasil mendapat dana yang dibutuhkan untuk melakukan tur Golden Green Grunge for Rare Red Apes: Navicula Borneo ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.
Tur yang rencananya akan dihelat pada akhir September tersebut bertujuan untuk mengunggah kesadaran masyarakat Indonesia terhadap orang utan yang terancam punah.

Navicula mendapatkan dana yang dibutuhkan dari dua sumber: situs Kickstarter di Amerika dan Patungan.net di Indonesia. Kedua situs itu punya tujuan sama: crowdfunding atau penggalangan dana dari publik untuk tujuan tertentu.

Crowdfunding adalah sebuah konsep pendanaan kolaboratif. Pendanaan tidak di dapat dari segelintir orang, tapi justru sebanyak mungkin orang yang memiliki visi sama: mewujudkan sesuatu. Meski bukan konsep baru, dalam tiga tahun terakhir konsep ini berkembang pesat di seluruh dunia. Tercatat lebih dari 500 situs crowdfunding (data dari crowdsourcing.org) yang aktif saat ini.

Melalui crowdfunding, baik pihak yang menggalang dana (pemilik proyek) maupun pihak yang mendukung dengan memberi dana (donatur), bisa setara. Di satu sisi pemilik proyek mendapatkan dana yang diinginkan, sementar donatur menjadi terlibat aktif dalam proses mewujudkan sebuah karya.

Terhitung sejak kemarin, Navicula mengumpulkan USD3.129 (sekitar Rp28 juta) melalui Kickstarter dari 43 donatur. Sudah lebih besar dari target mereka yang USD3000 (Rp27 juta). Batas donasi pada 29 Juli mendatang.

Sedangkan di Patungan.net mereka mendapatkan 46 donatur dengan jumlah dana melebihi target yang sekitar Rp5 juta. ”Kami cukup terkejut dan bersyukur dana bisa terkumpul lewat crowdfunding,” ujar Lakota dari pihak manajemen Navicula. Mereka merasa pendanaan oleh khalayak (crowdfunding) lewat portal seperti Patungan.net adalah jalan terbaik untuk mendanai tur ke Kalimantan.

Navicula adalah band yang konsisten membawakan lagu-lagu bertema lingkungan dan sosial. Mulai Kali Mati yang bercerita soal pencemaran sungai, polusi di Jakarta lewat Metropulutan, kerapuhan ekologi dunia di Over Konsumsi, serta nasib harimau Sumatera yang terancam di lagu Harimau! Harimau!

Akhir tahun lalu Navicula merilis lagu Orangutan sebagai single yang akan menjadi materi album ke-7 yang akan dirilis di Amerika Serikat. Media menjuluki band ini sebagai“”Green Grunge Gentlemen”.

Tidak hanya Navicula yang sukses menggunakan konsep crodwfunding, sineas Mira Lesmana dan Riri Riza juga menggunakan layanan serupa melalui situs Wujudkan.com. Mira dan Riri berencana mengumpulkan dana untuk membuat film bertajuk Atambua 39° Celsius yang sepenuhnya akan disyut di Timor, NTT.

Film yang akan menggunakan aktor lokal dan hampir sepenuhnya berbahasa tetun dan porto–bahasa asli orang Timor—itu secara mengejutkan berhasil mengumpulkan 105% ( Rp313 juta) dari total target awal sebesar Rp300 juta.

Mandy Marahimin, salah satu founder Wujudkan.com, menilai bahwa crowdfunding ini menjadi bukti bahwa masyarakat ingin melihat karya-karya yang baik terus bermunculan di Indonesia. ”Sehingga ketika ada proyek yang baik namun masih membutuhkan dana untuk penyelesaiannya, banyak yg mau bergotong royong membantu,” ujarnya melalui surat elektronik.

Proyek lain di Wujudkan.com yang berhasil menembus target pendanaan adalah proyek ”Papan untuk Semua: Atap untuk Rumah Uay”. Proyek tersebut mendapat 192% atau sebesar Rp4.780.000 dari target Rp2.500.000. Proyek tersebut merupakan proyek sosial oleh arsitek Yu Sing untuk membuat rumah bagi seorang tukang ojek bernama Uay dan keluarganya.

Jumlah dana yang bisa dikumpulkan melalui crowdfunding ini bisa luar biasa. Dana terbesar yang pernah terkumpul di Kickstarter.com adalah sebesar USD10.266.000 (Rp92,3 miliar). Didapat oleh Pebble Technology melalui proyek ”Pebble: E-Paper Watch for iPhone and Android”. Pebble adalah arloji berdesain cantik yang dapat terhubung ke ponsel Android ataupun iPhone.

Tidak Mudah

Konsep crowdfunding memang bisa sangat bermanfaat bagi band, startups, individu, ataupun komunitas untuk mendapatkan dana demi mewujudkan tujuannya. Meski demikian, hanya dengan membuat mendaftar dan membuat akun di situs-situs crowdfunding bukan berarti dana yang diinginkan bisa langsung di dapat dan perjuangan selesai.

Sebaliknya, perjuangan baru saja dimulai. ”Kesuksesan sebuah proyek tergantung bagaimana pemilik proyek berpromosi,” ujar Koordinator Program Patungan.com Enrico Halim. Enrico berpendapat, setiap entitas harus banyak berpromosi agar semakin banyak yang mendengar dan berniat untuk melakukan donasi.

Setelah memenuhi persyaratan dari Kickstarter.com, misalnya, Navicula meminta fans, teman, dan berbagai komunitas untuk menyebarkan promosi bahwa ide mereka memiliki tujuan baik dan layak didukung. Tujuan dan detail proyek memang menjadi salah satu alasan penting bagi donatur untuk merogoh kocek mereka.

”Ini untuk kredibilitas. Detail proyek harus jelas,” ujar Mandy Marahimin dari Wujudkan.com. Selanjutnya, menurut Mandy, pemilik proyek harus aktif mengkampanyekan penggalangan dananya. ”Kalau cuma di-launch lalu duduk diam tidak berbuat apa-apa, tidak akan terkumpul juga dananya. Hal terpenting lainnya adalah rajin memberi update jika ada progress dari proyeknya, agar semua orang tahu bahwa proyek itu memang serius,” katanya.

Hal lain yang dapat merangsang donatur untuk memberikan donasi adalah dengan memberikan hadiah. Ini boleh dilakukan. Untuk proyek Atambua 39° Celsius Mira Lesmana telah menyiapkan hadiah khusus. Bentuknya bisa sangat sederhana. Seperti ucapan terima kasih di akhir film, undangan Gala Premiere, bahkan donatur bisa mendapatkan kredit sebagai co-executive produser yang akan ditulis di awal film.

edangkan Navicula memberikan hadiah berupa merchandise band. Mulai dari link digital download, merchandise band, CD album, hingga album kompilasi lagu bertema lingkungan yang akan diproduksi hanya 500 keping saja: Rainforest CD (digital maupun CD).

Crowdfunding tidak hanya jadi hal yang baru di Indonesia, bahkan di dunia. Karena itu startup lokal yang membuat layanan seperti bisa dihitung jari. Bahkan jumlahnya tidak lebih dari 5. Para pelaku masih belum melihat konsep ini sebagai sesuatu yang besar. ”Trennya masih skala bibit,” ujar Enrico Halim.

Kendati demikian, Rama Mamuaya dari DailySocial.net menilai bahwa layanan crowdfunding ini memiliki bisnis model yang jelas sehingga membuatnya lebih menjanjikan bagi investor. Konsep ”patungan” menurut Rama sudah tidak asing lagi di Indonesia sehingga membuat bisnis seperti ini berpotensi untuk tumbuh.

”Masyarakat Indonesia sudah familiar dengan konsep sosial seperti ini. Misalnya Koin Prita yang pada dasarnya merupakan konsep patungan online untuk tujuan sosial,” ujarnya. Berbeda dengan di luar negeri, Rama Berpendapat bahwa di Indonesia proyek crowdfunding yang bersifat sosial akan lebih menarik emosi para calon penyandang dana dibandingkan proyek kreatif.

Iklan