Sejak awal Juni silam PT Sigma Cipta Caraka (Telkomsigma) punya nahkoda baru. Dialah Judi Achmadi, yang sebelumnya menjabat sebagai VP Servis Strategi & Tarif di PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom). Dibawah kepemimpinan Judi, Telkomsigma punya target besar: mencapai pendapatan diatas Rp1 triliun pada 2013 mendatang.

Pencapaian perusahaan penyedia solusi dan layanan teknologi tersebut di semester pertama 2012 memang sudah sangat baik. Yakni 105 persen dari target Rp400 miliar. Karena itu target Rp800 miliar hingga akhir tahun dan Rp1 triliun pada 2013 optimistis bisa dicapai. ”Industri teknologi informasi tumbuh 15%, sedangkan Telkomsigma mencapai 25%. Kami yakin bisa,” ujar pria yang sudah 17 tahun berada di Telkom group itu.

Tentu saja berbagai langkah strategis telah disusun supaya target tersebut tidak hanya bisa tercapai. Melainkan juga dicapai tepat waktu.

Saat ini Telkomsigma memiliki lima bidang usaha yang disebut Jac, sapaan akrab Judi Achmadi, sebagai 5 C. Care Service of Managed Service adalah bidang usaha yang membukukan revenue terbesar: mencapai 35%. Consulting & System Integration terbesar kedua dengan kontribusi 15% pendapatan. Sisanya adalah Cloud Computing, Costumed Software & Platforms, dan Core Financial Banking. Menurut Jac, kendati Telkomsigma adalah anak perusahaan BUMN, namun 70 persen pendapatan mereka justru diluar Telkom group.

Menurut Jac, salah satu kunci sukses mereka adalah value proposition yang disebut dengan 3C. Nilai tambah inilah yang membuat Telkomsigma lebih unggul dibandingkan pesaingnya.

3C pertama adalah custom app approach. Ini soal bagaimana Telkomsigma memberikan layanan kustomisasi atau sesuai apa yang diinginkan oleh pelanggan. ”Pelanggan ingin servis seperti apa? Bujet yang mereka miliki berapa? Kita coba berikan sesuai yang mereka inginkan,” ujarnya.

”C” yang kedua adalah cross the country. Ini terkait jangkauan atau wilayah operasional perusahaan. Disini Telkomsigma diuntungkan sebagai anak perusahaan Telkom yang menjangkau hampir seluruh Indonesia. Ini membuat layanan dapat di-deliver lokasi pelosok sekalipun. Keunggulan ini yang dinilai Jac tidak dimiliki oleh perusahaan lain.

Yang terakhir adalah Credible Cloud & Network. ”Kita memiliki layanan cloud yang sangat kredibel. Seandainya ada kebutuhan dari klien di pemda wilayah Kalimantan akan layanan cloud, kami bisa berikan,” paparnya.

Cloud memang erat hubungannya dengan data center: kumpulan server atau sistem komputer dan sistem penyimpanan data (storage) yang dikondisikan dengan standar pengaturan ketersediaan catudaya, temperatur, kelembaban, sirkulasi, dan sistem pengamanan berlapis.

Saat ini Telkomsigma sedang berencana untuk membangun dua data center sekaligus. Yang pertama terletak di kawasan Alam Sutra, Serpong, yang direncanakan rampung pada 2013 mendatang. Data center kedua terletak di Gedung German Center Indonesia, BSD Serpong. Kedua data center dengan tier 3+ itu menempati lahan seluas 15 ribu meter persegi.

Menurut Jac, pihaknya sengaja berfokus pada bidang ini karena kontribusi pendapatan yang diperoleh melalui penjualan data center akan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan Telkomsigma di masa depan.

Tentu yang tidak ketinggalan adalah fokus peruahaan di bidang Software as a Service (SaaS). Telkomsigma memiliki lebih dari 10 peroduk SaaS yang sudah siap di-deploy ke UKM maupun enterprise. Salah satu andalan mereka adalah m-Force yang merupakan aplikasi solusi sale force automation untuk memonitor performansi petugas lapangan.

m-Force yang dapat digunakan di ponsel berbasis Java dan Android itu menyasar perusahaan kurir kecil maupun skala enterprise. Saat ini aplikasi tersebut sudah digunakan oleh Telkomsel (sebanyak 6000 user) untuk melakukan pengecekan jaringan. Dan yang sedang diujicoba adalah Nestle dan Telkom Speedy. ”m-Force ini akan sangat efektif untuk industri retail,” tutur Jac sembari menjelaskan bahwa SaaS memberikan cost of ownership yang sangat rendah bagi perusahaan kecil.

Jac juga menyebut bahwa saat ini teknologi adalah bisnis yang sangat seksi. Karena itu banyak perusahaan besar yang kini membentuk anak perusahaan yang bergerak di bidang IT. ”Mulai dari Garuda hingga Krakatau Steel. Ini membuat kompetisi semakin berat. Karena itu, sehari-harinya saya tekankan agar karyawan lebih agresif,” ujar Jac.

Iklan