Berolahraga–berlari ataupun bersepeda—tidak lagi membosankan. Saat ini tersedia banyak sekali aplikasi maupun gadget yang dapat membuat kedua aktivitas itu menjadi jauh lebih menyenangkan.

Berlari adalah kegiatan yang seru. Paling tidak untuk Ninit Yunita, penulis buku Test Pack, Kok Putusin Gue?, serta Kamar Cewek itu. Sambil berlari, Ninit memaksimalkan fungsi smartphone miliknya—iPhone 4S—melalui aplikasi Nike+ Running. Aplikasi tersebut menggunakan GPS dan accelerometer untuk mengukur secara akurat berapa kilometer jarak, kecepatan, serta waktu berlari Ninit.

Ketika berlari di treadmill, Ninit juga memanfaatkan fitur PowerSongs milik Nike+ Running untuk menyeleksi lagu-lagu upbeat guna menambah semangat dan mengurangi kebosanan. ”Saya menggunakan Nike+ Running App karena sudah memiliki iPhone 4S dan ingin memaksimalkan manfaat dari smartphone tersebut,” ujar Ninit. Ia mengaku puas dengan Nike+ Running App karena tampilannya yang simpel, tidak complicated, serta memiliki visual bagus dan menarik.

Memanfaatkan aplikasi dan gadget juga dilakukan oleh Pugar Restu Julian, seorang digital promotion dan frontman band independen The Dying Sirens. Sejak dua tahun silam Uga, sapaan akrabnya, rutin bersepeda ke tempat kerja dan merekamnya menggunakan Endomondo.

Endomondo yang tersedia gratis untuk iOS, Android, Windows Phone, hingga BlackBerry itu memiliki fungsi lebih lengkap dibanding Nike+ Running App. Dapat digunakan untuk kegiatan berlari, berjalan, juga bersepeda. Bisa juga untuk mencatat kalori, detak jantung (dengan perangkat tambahan), berpacu dengan teman di rute yang sama, melihat rute di peta, posting ke jejaring sosial, dan masih banyak lagi.

”Endomondo membuat saya bersemangat untuk bersepeda,” beber Uga. ”Saya bisa mendapat informasi berapa kilometer jarak yang telah ditempuh ataupun berapa kalori yang sudah terbakar,” tambahnya.

Memanfaatkan aplikasi di smartphone untuk berolahraga memang menjadi tren seiring dengan tingginya adopsi smartphone di dunia. Termasuk juga di Indonesia. Survei firma riset Lab42 yang digelar Mei 2012 silam menunjukkan bahwa 74% konsumen (global) sepakat bahwa teknologi memberikan dampak positif bagi mereka. Teknologi juga meningkatkan motivasi berolah raga (72% responden) saat kemalasan melanda.

Survei tersebut juga menunjukkan bahwa 51% responden menggunakan smartphone saat berolahraga, 43% menggunakan smartphone untuk mengukur kecepatan atau jarak, 33% untuk mengecek email, dan 93% menggunakan mendengarkan musik.

”Pengguna terus mencari cara bagaimana memanfaatkan smartphone untuk membuat hidup mereka lebih mudah dan menyenangkan,” komentar Cheolwoong Cho, Sales & Marketing Senior Manager Mobile Communication Division PT LG Electronics Indonesia (LGEIN).

Di masa depan, lanjut Cho, smartphone tidak hanya bisa membantu penggunanya berolah raga. Seseorang dapat merekam berbagai kondisi tubuhnya ke smartphone, misalnya detak jantung atau tekanan darah, lantas mengirimkan hasilnya ke dokter. Sehingga dokter dapat memantau kondisi pasien atau bahkan melakukan diagnosa sementara dari jarak jauh. ”Arahnya akan kesana,” ungkap Cho.

Bisa jadi prediksi Cho lebih cepat dari yang dibayangkan. Pada perhelatan Consumer Electronics Show (CES) 2012 di Las Vegas awal tahun ini terlihat antusiasme para vendor dalam menciptakan beragam gadget untuk menemani penggunanya berolahraga.

Salah satunya adalah perusahaan bernama Pulse Tracer yang membuat “arloji fitness” dengan nama The Basis. Tidak hanya ringan, The Basis juga canggih. Sudah ditanamkan accelerometer dan banyak sensor untuk mengukur detak jantung, jumlah kalori yang dibakar, suhu tubuh dan kulit, hingga kebiasaan tidur. Semua data tersebut dapat diunggah melalui USB ke server cloud mereka (mybasis.com).

Karena form factor-nya berbentuk arloji, The Basis sangat mudah digunakan. ”Bayangkan besarnya informasi yang bisa dihimpun saat menggunakan The Basis sepanjang hari,” ujar CEO Pulse Tracer Jef Holove.

Rencananya The Basis akan diluncurkan tahun ini juga dengan harga USD199 (Rp1,8 jutaan). Memang tidak murah, tapi Holove mengaku tidak sekadar menjual alat. Dengan The Basis pengguna bisa menghimpun data dan mendapat analisa hasil. ”Kita akan semakin dekat dengan wancana quintified self,” katanya.

Quintified self adalah konsep atau gerakan memanfaatkan teknologi untuk menghimpun data dari berbagai aspek keseharian pengguna. Mulai dari makanan yang dikonsumsi, kualitas udara, kondisi tubuh (kadar oksigen di darah, mood), hingga performa (mental dan fisik). ”Saat ini orang ingin lebih banyak self-tracking, mendapat kontrol lebih besar terhadap diri mereka sendiri,” ujar Holove dalam keterangan pers-nya.

Unsur ”Sosial”

Ada puluhan atau bahkan ratusan aplikasi pencatat olah raga atau fitness di Apple Store ataupun Google Play. Tapi, bisa jadi yang membuat aplikasi seperti Endomondo dan Nike+ Running App sangat populer adalah komunitas dan jejaring sosial.

Sejak diluncurkan pada 2008, Endomondo sudah memiliki 10 juta pengguna terdaftar (20.000 user baru per hari). Menurut co-founder Endomondo Mette Lykke, aplikasi tersebut memungkinkan penggunanya untuk bisa saling berkomentar, membuat grup, saling membalas tantangan dari user berbeda, hingga menggunggahnya ke jejaring sosial seperti Facebook.

”Pengguna termotivasi untuk dapat berinteraksi dengan teman, keluarga, ataupun rekan kerja, terkait kegiatan olah raga atau fitness,” ujar Metter melalui siaran pers-nya. ”Resep dari pertumbuhan pengguna Endomondo adalah semakin banyak teman yang dimiliki, pengguna pun semakin termotivasi,” ia menambahkan.

Ninit Yunita memang merasakan motivasi itu. Hampir setiap selesai berlari sekian kilometer ia akan men-share hasilnya ke Twitter sebagai reward terhadap diri sendiri. ”Adalah kepuasan pribadi bagi saya yang sebelumnya tidak rutin berolahraga. Juga menjadi inspirasi bagi teman-teman lain yang baru niat berlari tapi belum melaksanakannya,” ucapnya.

Dan memang dampak sharing ke Twitter itu langsung terasa. Karena ternyata tidak sedikit followers Ninit yang terinspirasi untuk ikut berlari. ”Senang sekali melihat timeline mulai banyak diisi dengan kegiatan teman-teman yang berlari,” kata pemilik akun @istribawel dengan 10.400-an followers itu.

Kebersamaan dalam sebuah komunitas ternyata juga berdampak penting terhadap konsistensi semangat berolah raga. Ninit mengikuti komunitas GanyangLemak ToDemak (@GLTDrun), yang diisi oleh sesama pengguna aplikasi Nike+ Running. ”Bukan untuk berkompetisi, tetapi justru memotivasi dan memberi semangat agar tetap konsisten berlari,” ujarnya.

Motivasi dan saling memberi semangat itu juga disebarkan lewat di forum @theurbanfit di situs Theurbanmama.com yang juga digagasnya. ”Kami saling memberi support dengan melihat progress teman-teman lewat Nike+ Running atau Endomondo. Jadi terbentuk support system yang sangat penting bagi teman-teman yang baru lari,” katanya.

Support system ini lah yang dirasakan oleh Uga, yang juga anggota komunitas pekerja bersepeda Rosela (Rombongan Selatan). Sejak setahun ini Rosela membuat group di Endomondo dan para anggotanya selalu bersaing utk mendapatkan kilometer terbanyak.

”Kita bersepeda ke kantor atau pulang kantor bukan nyari jalan pintas supaya lebih cepat sampai, namun sebisa mungkin nyari rute lebih jauh agar kilometer nambah dan masuk di peringkat teratas di group,” cerita Uga. ”Efeknya bagus banget buat badan karena jadi terpacu untuk selalu berolahraga,” tambahnya.

Iklan