Karya pelajar-mahasiswa di Imagine Cup 2012 memang dirancang untuk memecahkan problematika tersulit dunia: kelaparan, kesehatan, krisis energi, hingga pendidikan. Namun karya tersebut juga harus memiliki nilai komersial/bisnis yang bisa dijual.

Perbedaan terbesar Imagine Cup 2012 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya adalah ini: entrepreneurism. Peserta dari total 75 negara itu tidak hanya menunjukkan karya yang sifatnya solutif.Mereka juga berambisi untuk mengubah karya itu menjadi sebuah bisnis nyata, yang artinya bisa di monetisasi.

Corporate Vice President Developer dan Platform group MicrosoftWalid Abu-Hadba mengakui bahwa peserta Imagine Cup tahun ini sedikit berbeda. Latar belakang peserta lebih beragam. Khususnya marketing dan bisnis. Ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana peserta dari jurusan teknik, matematika, komputer, ataupun informatika lebih dominan.

”Saya memang percaya bahwa pelajar adalah entrepreneur by design. Keduanya bak dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan,” ujar Walid kepada saya. ”Mereka sangat antusias untuk mencipta sesuatu. Dan ini bisa dilakukan lewat teknologi. Sebab perangkat lunak (software) adalah industri yang memiliki barrier to entry paling kecil. Hanya butuh laptop untuk melakukan coding dan membuat sebuah aplikasi,” ujarnya.

Event seperti Imagine Cup, lanjut Walid, memberikan wadah bagi para pelajar untuk mencipta. Baik dalam bentuk software, platform, dan server, hingga hadiah sebesar USD175 ribu (Rp1,6 miliar) berikut pinjaman/funding yang jumlahnya mencapai USD3 juta (Rp28 miliar).

”Yang kami lakukan adalah memberikan fondasi, mengambil semangat kewirausahaan, dan membuat kesempatan para pelajar untuk sukses jadi lebih besar. Kami bantu mereka dalam membuat aplikasi/game, memasarkannya di marketplace (toko aplikasi), hingga mendapatkan sponsor ataupun funding,” ujar Walid yang kagum dengan semangat tinggi developer Indonesia.

Tauhid Nur Azhar,mentor tim Malabar asal Indonesia, memang kecewa lantaran tim mereka gagal lolos final 20 besar di kategori Software Design. Namun, Tauhid justru lebih bersemangat karena aplikasi Brainstat ciptaan mereka mendapat banyak pujian dari para juri yang terdiri dari profesional, akademisi, entrepreneur, hingga venture capital (VC).

”Komentar juri rata-rata sama, supaya kami cepat-cepat membisniskan aplikasi ini. Bahkan ada satu juri yang sudah bertanya soal tagline perusahaan,” ujar Tauhid sambil tertawa.

Brainstat adalah perangkat untuk mengevaluasi kinerja otak manusia, khususnya dalam bidang pelayanan publik—terutama transportasi–yang menyangkut keselamatan. Perangkat tersebut menggunakan gabungan dari teknologi electroencephalogram (EEG) untuk merekam dan functional magnetic resonance imaging (FMRI) yang berfungsi memetakan gelombang otak.

”Dari situ kita buat software untuk menganalisa kondisi mental pilot, masinisis, atau sopir bis. Apakah sedang mengantuk, melamun, stres, atau lainnya. Jika terdeteksi, maka akan muncul peringatan,” katanya. ”Dari 4000 jam uji coba, akurasinya mencapai 90 persen,” ia menambahkan.

Tauhid berharap agar perangkat Brainstat bisa segera digunakan di Indonesia karena produknya sudah final. ”Kami berharap pemerintah, khususnya BUMN yang bergerak di bidang transportasi tertarik menggunakan perangkat ini. 57 persen penyebab kecelakaan adalah faktor manusia. Apalagi sebentar lagi lebaran,” paparnya.

Saat berpameran di Sydney Convention & Exhibition Centre (SCEC), booth Brainstat termasuk paling ramai. Tauhid mengaku banyak pihak yang tertarik dan menjajaki kerjasama. Termasuk juga saran untuk mengembangkan Brainstat ke tahap yang lebih advance. Yakni tidak hanya menerima data gelombang otak, namun menjadikannya perintah. Misalnya menghidupkan mobil, terhubung ke jaringan, hingga mendikte tulisan. ”Jadi saat update status Facebook, misalnya, kita cukup memikirkannya saja. Itu sangat mungkin dilakukan di masa depan,” ujar Tauhid.

Saran dan masukan dari para juri Imagine Cup memang sangat penting. Para peserta Imagine Cup akan “dimatangkan” dalam hal berbagai aspek. Mulai cara mendapatkan dana, mencari kustomer, hingga apa saja yang perlu diperbaiki dari produk mereka. Tak heran jika banyak lulusanImagine Cupyang mampu mewujudkan karya menjadi real business.

James McNamaradari Irlandia, salah satunya. James memenangi Imagine Cup 2011 dalam kategori Software Design. Menurutnya, ada empat hal penting harus dilalui oleh peserta Imagine Cup. ”Yakni bagaimana memvalidasi pasar, mencari partner untuk bekerja sama, mencari investasi, dan kemudian meluncurkan produk ke pasar. Semua pengetahuan ini saya dapatkan di event ini,” ungkapnya.

Saat ini James yang menjabat sebagai CEO dan co-founder CleverMiles sudah selangkah lagi untuk menggelar launching.Startups tersebut memproduksi sebuah alat yang dibenamkan di dalam mobil untuk menganalisa gaya mengemudi lewat berbagai metriks. Tujuannya tentu saja untuk keamanan berkendara. Target pertama mereka adalah masuk ke pasar Inggris.

”Imagine Cup bukan soal menang dan kalah. Melainkan langsung terlibat dalam dunia bisnis. Belajar soal presentasi, pitching ke para ahli dan VC, team work, dan kemampuan analisis. Pelajaran ini sangat berguna bagi saya,” kata Edward Hooper dari Australia.

Hooper adalah pemenang Imagine Cup 2008 di Paris. Saat itu timnya menciptakan sensor yang disebut Smart Operational Agricultural Toolkit (SOAK) yang berfungsi untuk memberi informasi kepada petani tentang kelembaban tanaman serta cara untuk memenej irigasi.

Hooper sudah bertemu dengan investor di Sillicon Valley dan menggunakan uang hadiah Imagine Cup untuk mendeliver produknya ke pasar.
Menurut Walid Abu-Hadba, setiap tahun kualitas karya peserta Imagine Cup terus meningkat. ”Tahun ini banyak sekali karya yang sudah sangat siap untuk dipasarkan,” katanya. Ia juga mengatakan bahwa The World Is Flat, buku karangan kolumnis New York Times Thomas L. Friedman itu benar-benar terjadi saat ini.

Internet membuat dunia terhubung (menjadi datar), serta memberikan peluang besar bagi para peserta Imagine Cup untuk menjadikan produk mereka sebagai sebuah bisnis nyata.”20 tahun lalu sangat sulit untuk membuat sebuah software, apalagimenjualnya.

Sekarang developer di kota seperti Yogyakarta dapat membuat aplikasi hanya lewat laptopnya, lantas menjualnya di marketplace, dan bisa mendapat untung. Ini adalah masa depan,” ujar Walid yang sempat mengunjungi Indonesia dua bulan lalu.