Pameran Electronic Entertainment Expo (E3) di Los Angeles yang berlangsung beberapa waktu lalu menunjukkan bagaimana game dimasa depan semakin interaktif dan kaya.

Sepuluh tahun lalu para vendor berfokus untuk menghadirkan kualitas grafis terbaik kepada pengguna. Sekarang, kualitas grafis di konsol seperti Xbox 360 ataupun PlayStation 3 sudah ada di titik maksimalnya. Maka fokus mereka beralih ke interaksi. Bagaimana menghadirkan pengalaman bermain game yang berbeda kepada pengguna.

Maka muncul lah alat seperti Kinect keluaran Microsoft ataupun PlayStation Move milik Sony. Kedua perangkat tersebut mampu menghadirkan interaksi yang lebih intens dalam bermain game.

Tapi, ternyata itu belum cukup. Perusahaan seperti Sony Corp., Microsoft, dan Nintendo terus memutar otak untuk mencari cara baru dalam bermain game. Hasilnya sudah terlihat di E3, pameran game paling bergengsi di dunia itu. Ternyata kata kunci yang ingin dicapai adalah ”sinergi”.

Sinergi dalam arti game tidak boleh dibatasi oleh konsol tertentu, perangkat tertentu, atau ukuran layar tertentu. Semuanya harus bisa menyata. Perangkat game portable harus bisa bersinergi dengan konsol game tradisional. Konsol game tradisional mesti mampu terhubung dengan smartphone atau tablet dengan sistem operasi berbeda sekalipun. Ukuran layar tablet atau smartphone yang terbatas harus bisa melengkapi melengkapi pengalaman menikmati konten di layar televisi yang sangat lebar.

”Perangkat Anda belum bisa disebut ’smart’ jika tidak bisa saling terhubung satu sama lain,” ujar Marc Whitten dari divisi hiburan Xbox Live Microsoft.

Dalam E3, perusahaan yang berbasis di Redmont, Amerika, itu mengenalkan teknologi yang disebut Xbox SmartGlass. SmartGlass adalah sebuah aplikasi istimewa. Istimewa karena memungkinkan iPhone, iPad, smartphone berbasis Android, ataupun komputer/tablet dengan OS Windows 8 bisa menjadi remote kontrol atau alat kendali dari konsol Xbox 360.

Ketika SDK-nya sampai ke tangan developer maka kemungkinan yang akan terjadi sangat luas. Bisa saja dalam sebuah game Xbox seorang gamer menggunakan joystik atau Kinect, sedangkan gamer lainnya menggunakan hardware berlayar sentuh seperti smartphone atau tablet.

Dalam demonstrasi yang diperagakan di E3, Whitten menunjukkan bagaimana ia menonton film di sebuah tablet, lantas memindahkan kontennya ke layar televisi tanpa terputus. Setelah film tersebut berpindah ke televisi, tablet yang dipegangnya lantas memberikan beragam informasi tambahan terkait film yang sedang ditonton. Misalnya profil aktor, peta, atau topik tertentu. ”Xbox Smartglass akan mentransformasi semua perangkat yang telah Anda miliki. Kami membuka pintu untuk hiburan multi-layar,” ujar Whitten.

Ide ”sinergi” ini sebenarnya sudah dicetuskan oleh Nintendo sejak tahun lalu. Tepatnya, melalui Nintendo Wii U GamePad. Wii U yang berbentuk seperti tablet itu berfungsi sebagai alat kontrol Nintendo Wii. Bagaimana pengguna memainkan sebuah game menjadi sangat unik. Karena Wii U menjadi “layar kedua”, menjadi alat kontrol juga bisa langsung membagi konten di dalamnya ke layar utama (televisi) secara seamless.

Sony ternyata tidak mau kalah. Mereka terus mengeksplorasi teknologi pada PlayStation Vita, handheld terbaru mereka. Pertama, Sony membuat PS Vita semakin terhubung dengan PlayStation 3.

Dalam game terbaru PlayStation All-Stars: Battle Royale, pemain PS Vita bisa bertarung langsung dengan pemain PlayStation 3 melalui internet secara real time. Sony telah menjual 1,8 juta PS Vita diseluruh dunia sejak diluncurkan pada Desember 2011 silam di Jepang dan Februari di Amerika Utara.

Selain mengumumkan rencana untuk membuat PS Vita sebagai layar kedua seperti apa yang dilakukan Nintendo dengan Wii U, Sony juga bekerja sama dengan HTC untuk menghadirkan platform PlayStation Mobile di game Android di handset keluaran perusahaan asal Taiwan tersebut.

Selain itu, juga Sony bekerja sama dengan penulis buku Harry Potter J.K. Rowling untuk merilis game-buku bertajuk Wonderbook: Book of Spells. Game ini mengubah alat kontrol PlayStation Move menjadi tongkat sihir.

Game tersebut juga dipasarkan dengan sebuah buku mantra. Dikisahkan pemain menjadi salah seorang siswa Hogwarts dan belajar untuk menjadi seorang penyihir. Mulai dari merapal mantra, membuka pintu, serta menjalani cerita baru dari J.K Rolling. ”Game ini membuat muggle (sebutan untuk manusia) bisa merasakan menjadi seorang penyihir,” kata Rowling.

Menurut CEO Sony Computer Entertainment America Jack Tretton, konsol PlayStation 3 masih belum akan dipensiunkan. ”Kami selalu mendesain usia setiap konsol PlayStation mencapai 10 tahun. Karena selalu ada teknologi baru yang bisa ditambahkan.

Saat ini konsol Sony PlayStation berusia 6 tahun. Nintendo Wii 5 tahun, dan Xbox 360 berusia 6 tahun. Hanya Nintendo yang berncana merilis konsol baru tahun ini. Ketiga vendor tersebut sama-sama menegaskan rencana untuk menjadikan handset atau perangkat mobile untuk bisa ditandemkan dengan konsol tradisional.

Iklan