Samsung SUR40 memang bukan layar multi-sentuh biasa. Bukan hanya penampangnya yang sangat besar (mencapai 40 inci), teknologi yang dibenamkan di dalamnya pun teramat maju.

Layar Samsung SUR40 seperti memiliki ”mata” walau tidak dibenamkan kamera. Jika Anda meletakkan sebuah benda di permukaannya, maka prosesor akan mengidentifikasi dan memberi informasi lebih lanjut tentang benda tersebut.

Kuncinya ada pada teknologi yang disebut PixelSense. Teknologi ini memungkinkan layar mengenali sentuhan jari, telapak tangan, ataupun benda dengan lebih dari 50 titik sentuh secara bersamaan.Melalui PixelSense pula, pixel-pixel yang ada di layar dapat mengenali benda yang menyentuh permukaan layar seraya memproses informasi dan melakukan intepretasi.

”Keunikan SUR40 dibandingkan layar sentuh lainnya adalah kemampuannya untuk melihat langsung benda apa yang sedang menyentuhnya,” ujar Director Marketing Surface Computing Microsoft Somanna Palacanda dalam peluncuran Samsung SUR40 di Singapura belum lama ini.

Samsung SUR40 memang menggunakan versi terbaru dari Microsoft Surface, software yang sudah diluncurkan sejak 2008 namun terus menerus mendapatkan pengembangan. ”Microsoft Surface yang dibenamkan di SUR40 lebih sempurna dan fleksibel dibandingkan pendahulunya, Microsoft Surface 1.0,” ujar Somanna.

Microsoft Surface 1.0, lanjut Somanna, memiliki keterbatasan untuk bekerja di layar berukuran maksimal 30 inci (76 cm) dengan perbandingan apect ratio 4:3 saja. Proses identifikasi benda dipermukaan layar pun dilakukan dengan kamera infra merah.

Sedangkan Microsoft Surface 2.0 yang ada di Samsung SUR40 bisa digunakan di layar hingga 40 inci (102 cm), 1080p HD, serta apect ratio 16:9. Layar tersebut tidak memiliki kamera (menggunakan PixelSense) dan punya prosesor terintegrasi di dalamnya.

Samsung SUR40, dijelaskan oleh Somanna, diciptakan bak cermin yang dapat memantulkan jari tangan atau benda apapun yang diletakkan diatasnya. Tidak hanya itu, layar Samsung SUR40 dapat menunjukkan seberapa besar tekanan tangan pada layar, juga seberapa banyak total jari yang menyentuh layar tersebut.

”Banyak vendor IT yang berkolaborasi untuk melahirkan sebuah produk layar tetapi tidak bisa digunakan ramai-ramai dalam waktu bersamaan. Sedangkan melalui SUR40 ini Anda dapat berkolaborasi dengan orang lain untuk menghasilkan sesuatu,” imbuhnya.

Dalam peluncuran yang digelar secara eksklusif di Hotel Grand Hyatt, Singapura, oleh Samsung kala itu, kecanggihan Samsung SUR40 ditunjukkan dengan kecepatan alat tersebut dalam mengidentifikasi sebuah objek yang sudah ditempelkan tag (Microsoft Tag) dibelakangnya.

Identifikasi via tag yang dilakukan oleh Samsung SUR40 itu kemudian menghasilkan sederet informasi yang berhubungan dengan tag yang melekat pada objek tersebut.

Yang lebih hebat, Samsung SUR40 bisa mengidentifikasi posisi berdiri SINDO melalui arah jari yang menyentuh layar. Jadi, jika Anda sedang melakukan presentasi dengan klien ataupun kolega, tidak perlu repot-repot memutar ataupun berputar mengikuti layar. ”SUR40 dibuat sensitif mengikuti orientasi jari. Tidak hanya dapat mendeteksi satu sentuhan, tetapi juga banyak sentuhan,” jelas Sommana.

Menyasar Segmen Bisnis

Samsung SUR40 yang merupakan hasil kolaborasi Samsung dan Microsoft sudah diluncurkan ke pasar Amerika dan Eropa sejak awal 2012. Tapi, baru resmi hadir di kawasan Asia Tenggara sejak 18 April silam. Kelahiran layar sentuh masif itu ditujukan untuk industri bisnis komersial. Menurut Head of IT Business Southeast Asia, Oceania & Taiwan, Samsung Electronics Chua Hwee Koon, beberapa industri yang dinilai cocok menggunakan Samsung SUR40 antara lain industri kesehatan, perbankan/keuangan, perdagangan, kreatif, hingga industri kosmetik.

”Misi SUR40 adalah untuk memudahkan para pebisnis dalam berinteraksi dengan klien atau pelanggan mereka,” jelas Chua. Melalui SUR40, lanjut Chua, pengguna dapat mengoptimalkan pengalaman yang menyenangkan bersama klien sambil membangun kepercayaan, transparansi serta kesetiaan antara penjual dan pembeli.

Menurutnya, sangat banyak aplikasi yang ditawarkan yang bisa dikolaborasikan dengan Samsung SUR40. Aplikasi tersebut dapat disesuaikan dengan target pasar sebuah perusahaan.

Untuk penjualannya sendiri, Chua Hwee Koon memberikan perkirakan harga saat masuk ke pasar Indonesia dalam waktu dekat. ”Harga yang ditawarkan di Singapura yaitu SGD11 ribu (sekitar Rp80 juta) tanpa meja dan diatas SGD12 ribu (Rp90 juta) dengan meja untuk per unitnya,” ujarnya. Namun, harga tersebut belum termasuk aplikasi di dalamnya. ”Karena untuk aplikasi perusahaan dapat memilih atau membuat sendiri sesuai target pasar perusahaannya,” jelasnya.

Salah satu perusahaan teknologi yang turut hadir dalam acara peluncuran itu adalah Fuji Film. Perusahaan tersebut mengemukakan keuntungan yang mereka dapat setelah menggunakan Samsung SUR40. Misalnya pembuatan sebuah buku foto (photo book) yang bisa dilakukan dengan mudah dan dalam waktu yang relatif cepat.

Seandainya pelanggan Fuji Film memiliki folder yang berisi foto-foto yang ingin dicetak dalam photo book, mereka dapat langsung mencolokkan flashdisk, SD Card, atau sejenisnya ke dalam port yang sudah disediakan.

Selanjutnya pada layar SUR40 mereka dapat langsung menggeser, menempatkan, mengedit, menambahkan teks, hingga akhirnya mencetak langsung photo book. Memberikan pengguna pengalaman yang unik seperti inilah pemanfaatan utama Samsung SUR40. Selain Fuji Film, Le Métier de beaute dan Industrial Color adalah perusahaan yang juga menggunakan Samsung SUR40.

Terkait soal fleksibilitas, Samsung layar SUR40 bisa diletakkan horizontal seperti sebuah meja atau berdiri vertikal di dinding. Bisa pula dibenaman ke berbagai perabot dan furnitur.

”Dengan SUR40, baik retailer ataupun konsumen sama-sama beradaptasi terhadap perubahan cara seseorang dalam berinteraksi dengan informasi yang secara visual lebih dinamis,” beber Chua sembari menyebut bahwa Samsung SUR40 sudah tersedia melalui agen Samsung dan mitra re-seller di Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Thailand.