Belum lama ini Instagram kembali bikin heboh. Tidak lain karena startup yang baru dibentuk pada 2010 itu akan dibeli oleh Facebook senilai USD1 miliar (Rp9,1 triliun).

Mungkin angka itu terlihat sangat besar untuk sebuah startup kecil seperti Instagram yang hanya memiliki beberapa orang karyawan dan bahkan belum bisa dimonetisasi. Tapi rupanya itu bukan masalah bagi Facebook, yang pada masa-masa awal tidak memiliki iklan. Karena income akan datang seiring meningkatnya jumlah user.

Apa sebenarnya keunikan Instagram? Aplikasi ini memungkinkan seorang membagi foto yang dijepret dari smartphone mereka. Tapi, tidak sekadar berbagi, foto-foto itu juga bisa diedit menggunakan berbagai pilihan filter. Sehingga hasil jepretan smartphone bisa terlihat seperti foto tua ataupun foto yang diambil dari kamera Polaroid.

Di Instagram, user bebas memotret apapun, kapanpun, dan dimanapun. Mulai dari sarapan mereka, kamar tidur, kemacetan lalu lintas, sampai matahari terbenam.

Mungkin apa yang ditawarkan Instagram terlihat sederhana. Banyak juga yang membuat layanan serupa, bahkan dengan filter yang lebih lengkap. Tapi toh, hanya Instagram yang memiliki pengguna loyal dan setia. Jumlahnya mencapai 30 juta orang di seluruh dunia. Pada 2011, Apple memilih Instagram sebagai aplikasi iPhone terbaik.

Fans loyal, brand recognition, serta potensi Instagram inilah yang menarik bagi Facebook. Dan mungkin hanya Facebook yang mampu memberikan harga fantastis senilai Rp9,1 triliun. Bagi Facebook, yang bersiap untuk menawarkan saham perdananya ke publik (IPO) senilai USD100 miliar (Rp900 triliun) dalam waktu dekat, maka Rp9 triliun mungkin terlihat kecil.  ”Ini adalah langkah penting bagi Facebook. Karena untuk pertama kali kami mengakuisisi sebuah produk dan perusahaan yang memiliki begitu banyak pengguna,” ujar CEO Mark Zuckerberg di halaman Facebooknya.

Analis Wedbush Michael Pachter menilai bahwa setelah IPO nanti Facebook akan mengambil posisi sebagai predator. Artinya, mereka memastikan tidak ada rival yang bisa menghalangi langkah mereka. Dengan membeli Instagram, tutur Pachter, maka Facebook tidak hanya menyingkirkan rival-rival mereka, tapi juga memberikan senjata berupa teknologi yang sedang mendapatkan traksi yang luar biasa.

Instagram dibeli Facebook dalam bentuk uang cash dan saham. Kesepakatan itu direncanakan final pada Juni 2012 mendatang. Tentu saja kerjasama ini tidak hanya jadi rejeki nomplok bagi karyawan Instagram, tapi juga perusahaan modal ventura yang menjadi backing perusahaan asal San Francisco, California, itu.

Dengan label harga Rp9,1 triliun, artinya Facebook membayar sekitar USD33 atau Rp300 ribu untuk setiap pengguna Instagram. Jika nanti IPO Facebook senilai Rp900 triliun itu tercapai, maka investor membayar setiap pengguna Facebook senilai USD118 (Rp1 jutaan). Dengan kalkulasi seperti itu, Pachter menilai bahwa Rp9,1 triliun tidak terdengar ”gila”.

Mengakuisisi Instagram juga dinilai sebagai langkah besar bagi Facebook. Karena Instagram dapat menarik keinginan dan kebutuhan besar pengguna untuk mengabadikan setiap momen dalam hidup mereka melalui mobile device, baik ponsel ataupun tablet.  Aplikasi mobile yang dimiliki Facebook tidak bisa melakukan apa yang dicapai Instagram saat ini.

Pachter menilai bahwa sudah menjadi langkah biasa bagi perusahaan teknologi raksasa untuk membeli atau mengakusisi perusahaan kecil dibandingkan membuat teknologi dari nol. Setelah dibeli, memang ada dua kemungkinan. Pertama, teknologi yang dimiliki startup itu akan disinergikan dengan Facebook. Atau malah perusahaannya ditutup, sementara developer dan engineernya bekerja untuk Facebook.

Beluga, Gowalla dan Snaptu adalah beberapa perusahaan yang telah dibeli Facebook. Dan semuanya ditutup. Beluga menjadi Facebook Messenger, Gowalla digunakan untuk memperkuat fitur Facebook check-in, sementara Snaptu menjadi media untuk mengintegrasikan Facebook di featured phone.

Lalu, yang terjadi dengan Instagram setelah dibeli Facebook? Untuk langkah awal, Instagram dibiarkan berjalan sendiri. ”Kami tidak berencana untuk melakukan apapun,” kata Zuckerberg. Pengguna tetap boleh mempost dari Instagram ke jejaring sosial lainnya. Pengguna juga bisa tidak mempost foto yang mereka ambil ke Facebook.

”Karena kami pikir fitur Instagram yang terhubung dengan jejaring sosial lain menjadi bagian penting dari pengalaman yang diberikan Instagram,” ujarnya.

Tapi, baik blogger maupun analis ragu apakah komitmen Facebook ini akan terus berjalan seperti ini. ”Sudah banyak terjadi perusahaan besar mengakuisisi perusahaan kecil dan berjanji akan tetap mendukung layanan perusahaan yang diakuisisi. Tapi ternyata tidak,” beber Debra Aho Williamson, analis dari eMarketer.

Contoh paling mudah mungkin Cisco Systems Inc., yang menutup kamera video Flip dua tahun setelah membeli perusahaan tersebut.

Tapi, langkah Facebook untuk tetap mempertahankan Instagram sebagai produk yang terpisah, juga masuk akal. Terlepas kemungkinan Facebook akan mengintegrasikan teknologi Instagram ke dalam layanan Facebook sehingga kegiatan berbagai foto di ponsel menjadi lebih mudah.

Ini terjadi pada Google, yang tetap mempertahankan YouTube sebagai produk terpisah. Walau, tetap mengintegrasikan YouTube ke dalam fitur-fitur Google.

”Saat ini Facebook berkompetisi melawan Google, Apple, dan Microsoft. Mereka harus membangun brand yang kokoh, dan platform yang kokoh pula,” beber analis Gartner Brian Blau. ”Memiliki dua jejaring sosial yang terpisah adalah sesuatu yang mereka harus lakukan sejak lama,” tambahnya.

Iklan