Komik Avengers Vs. X-Men # 1 adalah contoh nyata bagaimana teknologi augmented reality (AR) bisa menjadi jembatan antara dunia nyata (komik) dan dunia digital, menciptakan pengalaman baru dalam menikmati komik.

Bukan hanya pertempuran antara dua kubu superhero (The Avengers dan X-Men) yang ditunggu-tunggu dalam edisi perdana Avengers Vs. X-Men # 1. Tapi, karena superhero di komik tersebut bisa ”dihidupkan” melalui sebuah smartphone lewat teknologi yang disebut dengan augmented reality (AR).

AR atau realitas bertambah sudah lama ada dan telah dimanfaatkan kedalam berbagai bidang. Teknologi tersebut dianggap sebagai terobosan karena menciptakan kemungkinan untuk melebur dunia realitas dan dunia maya dalam waktu yang sama.

Marvel melihat potensi AR sebagai cara baru untuk menyegarkan kembali industri komik. ”Supaya orang kembali antusias membaca buku komik,” jelas senior VP dan GM Marvel Digital Media Group Peter Phillips.

Halaman pertama komik Avengers Vs. X-Men # 1 adalah adegan pertempuran Iron Man melawan Magneto. Jika Anda mengarahkan kamera smartphone ke halaman komik tersebut, maka yang muncul di layar adalah Iron Man dalam bentuk 3D yang sedang bertempur.

Ada juga yang memperlihatkan proses dibalik layar bagaimana karakter dikomik tersebut digambar dari hanya sketsa. Di halaman lain, pembaca bisa melihat pengarang komik yang seolah-olah sedang berjalan di halaman komik tersebut dan menjelaskan latar belakang cerita. Seperti itulah kira-kira teknologi AR di Avengers Vs. X-Men # 1.

Melebur teknologi AR dengan komik memang bukan pertama kalinya dilakukan. Pada 2010 penerbit Editions Atlas (De Agostini Group) asal Prancis meluncurkan edisi kelima komik Star Wars Comic Collector. Jika komik itu dihadapkan ke webcam, maka akan terlihat Luke Skywalker dan Dart Vader muncul dari dalam komik dan bertarung menggunakan lightsaber.

Teknologi AR yang dibenamkan di Avengers Vs. X-Men # 1 jauh lebih maju dan kompleks. Itu, karena Marvel menggandeng salah satu pengembang aplikasi AR terbaik saat ini: Aurasma.

Aurasma lah yang mengembangkan Marvel AR, aplikasi yang membuat pembaca bisa mengaktifkan fitur AR dalam komik tersebut.
Ada halaman-halaman tertentu di komik Avengers Vs. X-Men # 1 yang memiliki logo Marvel AR yang baru bisa aktif setelah aplikasi Marvel AR diunduh dan diinstal di smartphone. Marvel AR sendiri sudah tersedia gratis di Google Play.

”Marvel terus berinovasi dan mengadopsi teknologi terbaru untuk membuat fans mereka tetap setia,” ujar director of client services Aurasma David Stone.

”Bekerja sama dengan platform AR yang dimiliki Aurasma, Marvel tidak hanya bisa melebur buku komik dengan pengalaman digital, tapi juga menciptakan gerbang ke dunia fantasi virtual yang hanya bisa diakses melalui aplikasi Marvel AR,” ia menambahkan.
”Marvel memiliki basis penggemar yang sangat besar. Tentu mereka akan senang dengan adanya bonus seperti ini,” imbuh Peter Phillips lagi.

Marvel AR sudah diluncurkan pada 2 April silam di palfrom iOS, baik untuk iPhone 3GS, iPhone 4, hingga iPhone 4S. Versi Android juga tersedia. Tapi ingat, teknologi augmented reality di aplikasi Marvel AR ini hanya bisa aktif di komik Avengers Vs. X-Men # 1 saja.
Langit adalah batasnya dalam proses pengembangan teknologi AR ini. Dan komik hanyalah satu dari sedikit medium bagaimana AR akan dikembangkan.

Menurut Philips, pihaknya sudah memiliki rencana pemasaran besar terhadap aplikasi Marvel AR. ”Kami akan lihat dulu respon dari para fans. Jika mereka menyukainya, maka akan kami teruskan,” katanya. Jadi, bukan tidak mungkin jika nanti action figure, plush toy, dan lainnya yang akan dibenamkan kode Marvel AR.

Masih Susah Diterima
Platform augmented reality (AR) memang masih tergolong baru. Walau sudah banyak pengembang yang menggunakannya, sudah banyak aplikasi yang sukses, tapi ternyata AR masih dianggap sebagai teknologi yang kurang diminati dan membingungkan.

Ini berdasarkan survey dari lembaga survei Ypulse pada awal Februari 2012 silam terhadap remaja dan mahasiwa di Amerika. Hasilnya, sebagian besar menganggap AR sama membingungkannya dengan QR Code. Keduanya sama-sama canggih, tapi tidak benar-benar menawarkan kegunaan signifikan terhadap kegiatan keseharian mereka.

Menurut Ypulse, hanya 11 persen dari remaja dan mahasiswa yang pernah menggunakan AR. Dari 11 persen itu, hanya 34% yang mengatakan bahwa AR adalah teknologi yang berguna dan mudah digunakan.

Sekitar 26 persen lainnya menyebut bahwa AR mudah digunakan, tapi tidak berguna. Mereka menganggap tidak ada keuntungan atau nilai lebih yang didapat ketika menggunakan AR, sehingga membuat teknologi itu kurang menarik.

Meski demikian, AR masih dianggap lebih beruntung dibandingkan QR Code. Dari hasil survei itu juga disimpulkan bahwa QR Code tidak pernah digunakan oleh 80 persen siswa yang memiliki smartphone. ”Mereka menganggap proses QR Code terlalu ribet, dan tidak menarik,” tutur Melanie Shreffler dari Ypulse. danang arradian

Cara Menggunakan Marvel AR:
– Pembaca terlebih dulu mengunduh aplikasi Marvel AR di Google Play yang tersedia secara gratis.
– Setelah aplikasi dijalankan, mereka arahkan smartphone ke produk yang memiliki logo Marvel AR.
– Begitu kode terbaca, maka akan muncul augmented reality di layar smartphone pembaca.
– Bentuk AR di aplikasi Marvel AR: film 3D pendek, video, biodata karkater, komentar eksklusif, gambar ekslusif, dan lainnya.

Iklan