Masuknya raksasa Google sebagai penyedia layanan cloud diprediksi akan merubah peta industri. Banyak yang menilai Google akan menyingkirkan perusahaan-perusahaan cloud kecil yang sudah terlebih dulu ada.

Google Drive, layanan cloud milik Google itu, resmi diluncurkan pekan lalu. Dengan Drive pemilik akun Google mendapatkan fitur baru selain berkirim email, mengakses kalender, menyimpan foto di Picasa, atau mengedit dokumen lewat Google Docs.

Yakni, menyimpan foto, dokumen, ataupun video mereka di server Google. Sifatnya sama persis seperti sebuah external hard drive dimana file foto atau video dapat dengan mudahnya di pindah-pindah (drag & drop).

Bedanya, lantaran terkoneksi dengan internet, maka pengguna lebih mudah untuk mengakses atau membagi file-file tersebut ke orang lain.

Dibandingkan produk lainnya, Google Drive memang memiliki keunggulan. Pertama adalah integrasi. Karena Drive telah terintegrasi dengan akun Google yang sudah ada. Kebanyakan dari mereka yang sudah memiliki akun Google bisa langsung mengaksesnya.

Kedua, adalah fitur pencarian yang mudah. Ini penting seandainya Anda menyimpan ribuan file di Drive dan butuh melakukan indeks atau kategorisasi.

Drive memiliki teknologi yang disebut tagging atau penandaan pintar. Pengguna bisa menandai file yang tersimpan di ”loker”-nya untuk memudahkan pencarian dokumen atau foto. Misalnya dengan mengetikkan kata kunci.

Tak hanya itu, Drive juga sudah mengadopsi teknologi Optical Character Recognition (OCR) atau fitur pengenal teks pada dokumen yang di-scan (pindai). Juga mengenali berbagai jenis file berformat PSD (Adobe Photoshop) ataupun video HD yang bisa dibuka dengan peramban (browser).

 Pasar Masih Besar

Google digambarkan sebagai raksasa yang siap menguasai pasar cloud. Lalu bagaimana kans pemain-pemain kecil yang sudah terlebih dulu ada?

Direktur Riset Gartner Michael Gartenberg punya jawabannya. ”Jika seekor gorila meloncat ke kolam memang akan menimbulkan cipratan. Tapi, bukan berarti ia dapat berenang dengan baik,” katanya. “Kehadiran Google jelas membuat kompetisi jadi lebih sengit, terutama untuk pemain kecil. Tapi masih ada ruang untuk banyak pemain,” katanya.

Seperti halnya Apple dan Microsoft, Google memiliki basis pengguna yang amat besar. Mereka adalah pengguna setia dari Gmail, Google Docs, peramban web Chrome, dan aplikasi Google lainnya. Ini membuat Google bisa melesat dari titik start. Mereka yang sudah menggunakan aplikasi Google akan lebih mudah untuk mencoba Drive.

Drive sendiri sudah pasti akan bersaing dengan SkyDrive milik Microsoft, atau Apple iCloud yang sangat populer di mata pengguna iOS. Nah, yang terancam justru penyedia layanan cloud seperti DropBox, Box, SugarSync, ataupun YouSendIt.

”Situs-situs seperti ini lebih banyak digunakan oleh mereka yang akrab dengan teknologi, bukan konsumen pada umumnya,” bebernya.

Tantangan bagi perusahaan-perusahaan itu, kata Gartenberg, adalah harus mencari target market yang fokus. Apakah konsumen atau malah beralih ke bisnis. “Meski, Google sendiri mengincar semua: konsumen, SMB, dan enterprise,” katanya.

Menanggapi masuknya Google ini juru bicara DropBox mengatakan bahwa pihaknya berusaha untuk membuat experience sebaik mungkin.

Karena itu, dengan fitur yang mirip-mirip, bisa jadi alasan konsumen beralih adalah soal harga. Nah, disinilah persaingan menjadi sangat menarik.

Google menawarkan kapasitas ruang simpan online sebesar 5 GB gratis. Jika ingin upgrade ke 25 GB, cukup membayar USD2.49 per bulan atau hanya Rp22 ribu. Harga yang sangat murah.

Jika masih butuh lebih besar, ada 100 GB untuk USD4.99 (Rp45 ribu) per bulan dan USD60 (Rp550 ribu) per tahun. Atau,  Rp1 TB untuk 49.99 per bulan (Rp450 ribu).

Bagaimana dengan DropBox? Layanan ini memberikan 2 GB gratis. Upgrade pertama ke 50 GB adalah USD9.99 (Rp90 ribu) per bulan atau USD99 (Rp910 ribu) per tahun.

Seorang pengguna cloud, John E, mengatakan bahwa ia lebih menyukai fungsional DropBox dibandingkan Drive. Tapi perbedaan harga untuk layanan 100 GB per tahunnya membuatnya bimbang. ”Perbandingan harga dan kapasitas simpan DropBox dan Drive berbeda jauh. Drive hanya Rp550 ribu, sedangkan DropBox Rp910 ribu,” katanya.

Adapun Microsoft SkyDrive sendiri menawarkan 20 GB untuk Rp90 ribu per tahun. Sedangkan SkyDrive 50 GB hanya USD25 (Rp230 ribu) per tahun atau 80 persen lebih murah dibandingkan DropBox.

John Webster dari lembaga riset Evaluator Group yang bergerak di isu data storage mengatakan bahwa Google adalah perusahaan yang sangat profit sehingga dapat dengan mudah memasang harga dan menghancurkan kompetisi. ”Mudah sekali jika Google ingin agar pemain-pemain kecil hancur. Yakni dengan membuat mereka sulit untuk mendapatkan uang,” katanya.

Meski demikian, tidak semua perusahaan penyedia layanan cloud ini yang merasa merugi dengan kehadiran Google. Box, penyedia layanan cloud untuk bisnis, adalah salah satunya. Menurut Chris Yeh, VP platform Box, masuknya Google ini seolah menegaskan apa yang perusahaannya dan banyak perusahaan lain lakukan selama bertahun-tahun.

”Saat awal membentuk Box sangat sulit bagi kami untuk meyakinkan orang menyimpan file mereka di cloud. Dengan adanya Google, maka akan semakin banyak orang yang terbuka dengan cloud,” katanya.

Box sendiri punya hubungan baik dengan Google. Terutama fitur penyimpanan Dokumen. Salah satunya adalah Google Docs yang bisa membuka file yang disimpan di dalam Box.

”Di satu sisi kami seperti bekerja sama dengan Google. Tapi di sisi lain, kami bertempur dengan mereka di lapangan,” ujar Yeh. ”Meski demikian, kami yakin Google pun butuh waktu untuk menyasar pasar enterprise. Kami sudah hadir lebih dulu,” katanya.

Salah satu keunggulan Box, menurut Yeh adalah memungkinkan pengguna untuk mendapatkan beberapa domain email dalam satu akun perusahaan. Sehingga anak perusahaan bisa memiliki akun emailnya sendiri.

”Memang fitur itu tidak mengguncang. Tapi, itu menjadi ilustrasi bagaimana kami harus fokus menyediakan layanan untuk konsumen yang spesifik. Hanya dengan fitur pembeda seperti inilah kami bisa bersaing dengan perusahan yang lebih besar,” katanya.