Bukan hanya tidak bisa, tapi kami juga tidak ingin meninggalkan Langit sendirian bersama mertua dirumah sementara kami asik jalan-jalan. Sebaliknya, jika harus menunggu Langit menginjak usia 2,5 tahun yang katanya usia “aman” untuk diajak jalan-jalan kok ya kelamaan. Habis, saya dan Leya punya hobi jalan-jalan yang cukup akut.

Tentu tidak semua orang mau atau suka mengajak bayi mereka jalan-jalan ke luar kota atau bahkan luar negeri. “Repot lah, yang ada malah kitanya yang jadi tidak enjoy,” curhat Frederica, kenalan saya, yang sudah memiliki 3 orang anak.

Dasar hasrat jalan-jalan kami demikian tinggi, saat sedang berada di kandungan ibunya pun Langit sudah kami ajak bepergian kemana-mana.

Waktu Leya hamil, saya mengambil rute ke tempat-tempat yang tidak terlalu jauh atau melelahkan. Misalnya ke Cipanas, Jawa Barat. Sengaja saya pake mobil test drive Ford Focus Diesel agar Leya merasa nyaman dan perjalanan bisa ditempuh dengan cepat.

Waktu Langit berusia dua bulan, kami sedikit nekad mengajak dia jalan-jalan ke Bali, menelusuri Garuda Wisnu Kencana, Ubud, serta museum Antonio Blanco. Memang agak kasian Langit kecil harus melalui perjalanan pulang-pergi lebih dari 12 jam: Bogor-Soetta (1,5 jam), menunggu di bandara (1 jam), Jkt-Bali (2 jam), bandara Ngurah Rai-Ubud (2 jam). Begitu sampai hotel dia langsung tidur lama banget :D.

Tapi dari lumayan banyak pengalaman jalan-jalan bersama Langit saya menyimpulkan bahwa ternyata kita bertiga masih bisa enjoy dan have fun sama-sama. Nah, saya coba share sedikit tips yang semoga bisa membantu buat yang ragu-ragu bawa bayi jalan-jalan nggak cuma ke mal atau dalam kota aja.

1. Ada 2 sikap yang menurut saya harus ditanamkan pada pasutri saat traveling: kerjasama dan equality. Saat sama-sama berada di jalanan, plus minus pasangan yang sehari-harinya samar menjadi terlihat.

Kuncinya, menurut saya harus saling melengkapi. Leya punya kemampuan navigasi yang jauh lebih baik dari saya. Matanya lebih awas dalam melihat penunjuk arah, ingatannya tajam terhadap jalan, dan ia bisa lebih mudah membaca peta atau sekadar mengira-ngira posisi kami.

Maka ia yang memegang kendali saat dijalan. Agar dia bisa fokus, Leya hanya membawa tas kecil berisi uang ato menggendong Langit, sedangkan semua kebutuhan Langit, belanjaan, dan lainnya, saya yang bawa. Saya juga tidak akan marah seandainya dia salah menunjuk jalan.

Kalo sering lihat Amazing Race, cermati bahwa pasangan kontestan di acara itu memiliki pembagian tugas yang kurang lebih sama. Intinya, kita harus menjadi sebuah tim.

Adapun equality adalah soal tidak membeda-bedakan siapa yang harus “mengurus” Langit. Bisa saja saya ikut menggendong Langit sambil menenteng backpack, gantian memandikan dan mengganti popok, serta selalu berusaha untuk menyediakan apa yang diminta Leya saat Langit membutuhkan, seperti tissue, handuk, selimut, makanan, dan lainnya.

2. Itinerary (a planned route or journey) adalah hal paling penting saat traveling, apalagi jika kita on budget. Fungsinya sama seperti bisnis plan saat membuat usaha. Tentu akan lebih baik jika biaya, waktu, lokasi, dan hal-hal lainnya terpetakan dengan baik. Traveling pun bisa pol atau maksimal :D.

Ketika lima hari bulan madu di Bali, saya bikin itinerary liburan yang sangat detil, hingga nyaris tidak ada waktu kosong untuk tidak bersenang-senang. Saat membawa Langit di Bali, saya pilihkan tempat-tempat yang baby friendly, agar Langit tidak kepanasan, bisa tidur dengan nyaman, juga tidak kecapekan. Dalam sehari kami batasi tempat yang akan dikunjungi, menyisakan waktu istirahat yang cukup untuk si kecil.

3. Langit adalah focus utama kami saat traveling. Saya biasa membawa backpack yang isinya semua kebutuhan dia saat di jalan. Mulai tissue, popok, baju ganti, jaket, makanan, camilan, mainan, topi, payung, dan masih banyak lagi.

Kami juga tidak ingin egois, ingin bersenang-senang sendiri. Ini terjadi ketika kami sampai di hotel di Bangkok. Langit yang mulanya terlihat cape menjadi enerjik dan ketawa-ketawi di kamar. Namun, saat akan kami gendong untuk mampir ke 7 Eleven di dekat hotel, keceriaannya memudar.

Kami jadi merasa bersalah banget :(. Keesokan harinya kami baru pergi setelah Langit bangun dari tidurnya. Sorenya kami juga ajak dia berenang di hotel, yang membuatnya sangat excited! Intinya jangan jadi egois dan mengutamakan kesenangan sendiri, karena pada prinsipnya saat traveling semua harus enjoy. Tak terkecuali Langit.

4. Barang bisa lapuk, lupa, atau hilang. Tapi, konon pengalaman akan selalu dikenang, tsaah. Maka, saat traveling amatlah penting bagi kami untuk mengabadikan momen. Pastikan kamera, DSLR, poket, smartphone, selalu berfungsi.

Bahkan saya beli monopod di Kaskus seharga Rp120 ribu agar kami bisa foto bertiga tanpa perlu bantuan orang lain. Seorang bule yang kami temui di Wat Po berujar “very clever!”, melihat kami yang asik foto-foto. Hehehe. Yang pasti, abadikan momen sebanyak mungkin. Simpan baik-baik, 10 tahun lagi dijamin foto-foto itu akan membuat kita senyum-senyum sendiri.

5. Travel gear, khususnya buat bayi, teramat penting. Waktu Langit 6 bulan saya harus menenteng travel bag seukuran meja kecil, backpack, serta stroller untuk mudik ke Surabaya. Memang repot, tapi barang-barang itu tetap berguna karena mobilitas lebih banyak dilakukan dengan mobil.

Saat ke Bangkok yang lebih banyak naik turun angkutan umum (taksi, BTS/skytrain, tuk-tuk) dan jalan kaki, Leya membawa baby carrier merek Boba. Gendongan itu jadi pahlawan banget karena Langit bisa tidur berjam-jam dengan nyamannya walau kami ajak berjalan kaki jauh.

Oke itu tadi sedikit tips untuk traveling dengan bayi. Kenapa sih harus traveling? Karena datang ke tempat-tempat baru itu sangat adiktif, perasaan yang sangat sulit ditandingi. Bagi kami yang sehari-harinya bekerja sampe sore atau malam, maka hanya pada saat traveling lah kami bisa 24 jam penuh bersama Langit, menciptakan apa yang saya sebut travel bonding (ikatan batin saat traveling).

Traveling juga menurut saya berdampak positif bagi anak karena menunjukkan kemajemukan manusia dan tempat, mengajarkan kemandirian, dan memperlihatkan bahwa dunia tidak hanya selebar rumah atau kota tempatnya tinggal. Hehehe. Tunggu apa lagi, ayo, traveling!