Rubiah Seagarden, Arus Balee, serta Batee Tokong adalah tiga lokasi penyelaman yang paling populer di Pulau Weh. Tapi, sore itu ketiga lokasi tersebut sedang disapu arus bawah (down current) yang cukup kuat.

Maka, saya katakan pada Eli, dive master yang berpostur tubuh ceking namun berotot itu untuk memilihkan lokasi penyelaman terbaik. ”Saya ingin lihat lokasi yang paling ramai, yang paling banyak ikannya!,” saya berujar. Teriakan saya nyaris tenggelam di deru mesin ganda speedboat yang kami tumpangi. Suaranya keras dan berisik.

Eli yang berdiri di ujung bagian depan kapal lantas memberi aba-aba kepada rekannya dalam bahasa Aceh untuk bergerak dari Arus Balee, tempat kami berada sekarang. Dalam hitungan detik speedboat itu pun berubah haluan, melaju sangat kencang hingga benturan antara bagian bawah kapal dengan permukaan air laut menciptakan bunyi ”brak…brak!” yang sangat keras.

Begitu cepatnya kapal melesat hingga beberapa peralatan diving seperti dive mask, fin, dan perlengkapan lainnya harus diletakkan di lantai jika tidak ingin “terbang”. Maka dalam hitungan menit saja kami sudah sampai ke tujuan selanjutnya: Batee Tokong. Batee dalam bahasa Aceh berarti batu, sedangkan Tokong artinya kuat. Sejurus kemudian saya menyadari bahwa penamaan Batee Tokong terhadap dive spot ini dilakukan secara literal.

Gugusan karang sebesar mobil truk menjulang di atas permukaan air laut yang warnanya berangsur gelap lantaran hari sudah menjelang sore. Eli kembali memberikan isyarat kepada rekannya untuk mengarahkan kapal membelakangi gugusan batu tersebut. “Kita akan turun dibelakang batu agar terhindar dari arus,” kata Eli.

Tak lama kemudian saya dan Gemala Hanafiah, pembawa acara traveling D’Journey di RCTI itu pun langsung terjun ke air. Ada lebih dari 15 jurnalis yang mengikuti acara Adira Beauty X-Pedition di Pulau Weh. Tapi, ternyata hanya kami berdua yang memiliki diving licence.

Marjan van der Burg, si pemilik LumbaLumba Diving Center yang terletak di pantai Gapang, Pulau Weh, itu rupanya memberlakukan aturan cukup ketat. Ia tidak mengizinkan teman saya yang sudah sering menyelam untuk ikut di kapal kami lantaran tidak memiliki diving licence. Teman saya itu memang boleh menyelam, tapi hanya fun diving di sekitar pantai Gapang saja. Walau hanya berdua, ternyata saya dan Gemala tidak menjadi dive buddy. Kami masing-masing didampingi oleh seorang dive master. Eli pun menjadi buddy saya.

Berkontur Dinding
Lansekap Batee Tokong memiliki dinding atau wall yang tidak terlalu terjal hingga 25 meter kebawah, berlanjut dengan slope sekitar 35 meter. Komposisi dasarnya dominan terumbu karang dan bebatuan. Baru saja ”nyemplung”, saya dan Gemala sudah disambut oleh predator paling populer di dunia bawah air: belut Moray dan Lion Fish.

Ada empat sarang belut Moray yang berdekatan. Kepala belut-belut itu keluar masuk, sambil memamerkan mulut lebar berisi gigi-gigi runcing yang menyeramkan itu. Gigitannya berbahaya bagi penyelam karena bisa menimbulkan luka serius. Tapi, pada dasarnya hewan ini tidak agresif, bahkan cenderung pemalu. Menyaksikan begitu banyak belut Moray di habitat aslinya adalah kepuasan tersendiri.

Tidak jauh dari sarang belut Moray saya melihat empat ekor Lion Fish sedang beristirahat. Ukurannya bervariasi mulai sebesar tiga ruas jari hingga sekepalan tangan. Saya sudah sering melihat Lion Fish saat diving di Bali ataupun Pulau Seribu, tapi belum pernah ikan tersebut berkerumun seperti ini.

Eli lantas mengarahkan telunjuknya ke sebuah titik. Ternyata nurdibranch berwarna biru yang ditunjuknya. Birunya menyala, cantik sekali. Saat menyelam hewan berukuran besar tidak selalu jadi obyek utama. Terkadang keajaiban justru datang dari hewan yang berukuran sangat kecil.

Seperti saat menyelam di Tulamben, Bali, dua tahun silam. Dive master saya saat itu menunjukkan seekor Pygmy Seahorse atau kuda laut kerdil yang ukurannya hanya sekitar 2 cm. Begitu kecilnya, kuda laut berwarna merah itu menempel di terumbu karang yang sama selama berhari-hari. Mengagumkan.

Arus menyeret kami ke sisi dinding yang lebih terbuka. Disini lebih banyak ikan-ikan besar, seperti Parrot Fish, Trevallies, Fusiliers, dan Sweetlips. Setelah kurang lebih 45 menit menyelam, Submersible Pressure Gauge (SPG) saya menunjukkan angka 50 bar, maka kami beranjak ke safety spot dan segera menyudahi acara diving hari itu.

Waktu yang terbatas hanya memungkinkan saya untuk melakukan satu kali dive. Padahal, sebenarnya masih banyak sekali spot yang ingin di datangi. Seperti Shark Plateau, Pantee Peunateung, atau kapal ”Sophie Rickmers” yang karam di Perang Dunia II.

Mulai Populer
Secara berlahan, Pulau Weh mendapat nama sebagai salah satu dive spot yang wajib dikunjungi di Indonesia. Pada 2008, misalnya, harian The Guardian Inggris memasukkan Pulau Web dalam daftar 10 tempat menyelam terbaik di dunia. Tentu jangan lah membandingkannya dengan Bunaken, Lembeh, Alor, atau bahkan Raja Ampat yang sudah sangat populer itu.

Marjan van der Burg yang mengelola LumbaLumba Dive Center bersama suaminya Ton Egbers mengatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir ini ia cukup banyak mendapat kunjungan rombongan penyelam dari Jakarta. ”Sebelumnya, yang datang kesini kebanyakan dari Eropa atau Amerika,” wanita asal Belanda yang sudah 16 tahun tinggal di Pulau Weh itu.

Apa yang dialami Marjan dan Ton bikin geleng-geleng kepala. Ia selamat dari bencana tsunami meski gedungnya rusak berat. Marjan tetap setia di Pulau Weh saat TNI sedang berperang dengan GAM di NAD. Bisa saja Marjan pergi ke kampung halamannya di Belanda, tapi tidak dilakukannya. Tak heran para stafnya menyebut Marjan sebagai ”bule bandel”. Mungkin ia sudah terlalu cinta dengan Indonesia. ”Syukurlah, sekarang kondisi sudah membaik,” katanya.

LumbaLumba Dive Center tidak hanya memiliki dive master lokal. Tapi ada sekitar 7 orang ”bule” yang ikut membantu. Ada yang bertugas memberi pengarahan, dive master, atau mengambil foto underwater. Dengan bahasa Indonesia yang cukup lancar Marjan bercerita bahwa bule-bule itu adalah diver yang sudah beberapa kali menyelam di tempatnya. Sebagian dari mereka ingin belajar untuk mengelola dive center.

Marjan memberi pekerjaan itu. Sebagai imbalannya, mereka bisa menginap di bungalow miliknya dengan membayar 700 euro (Rp8,5 juta) selama sebulan. “Jadi sama-sama diuntungkan,” katanya sambil tersenyum.

Selain diving atau snorkeling di Pantai Gapang yang cantik, ada dua pantai lain yang saya kunjungi. Di pantai Iboih, saya menyewa glass bottom boat dan berkeliling di sekitar pulau Rubiah. Pantai lainnya, Sumur Tiga, cukup menarik. Ada banyak pohon kelapa menjulang tinggi. Sungguh banyak keindahan Pulau Weh yang belum atau jarang diketahui.

Mengakrabi Pulau Weh

Akses:
Dari Banda Aceh, pergi ke pelabuhan Ulee Lheue. Ulee Lheue-Pulau Weh ditempuh dengan kapal feri pukul 9 pagi sekitar 1 jam. Tiketnya hanya Rp75 ribu.

Transportasi:
Luas Pulau Weh mencapai 156,3 km. Tersedia pilihan sepeda motor, minibus, atau becak roda tiga yang bisa digunakan untuk menjelajah pulau. Menyewa mobil juga jadi pilihan.

Akomodasi:
Cukup banyak. Pulau Weh menyediakan banyak pilihan penginaman sesuai bujet. Mulai bungalow, guesthouse, hotel, hingga resort.

Dive Center
Operator penyelaman di Pulau Weh:
Lumba-lumba Diving Center http://www.lumbalumba.com/divesites.html di Gapang Beach, Pulau Weh.

Sumatera Eco-Tourism di http://www.sumatraecotourism.com/pulauweh/

Iklan