Perangkat bergerak seperti notebook, smartphone, maupun tablet saat ini sangat membutuhkan kestabilan jaringan internet mengingat konsumsi aplikasi dan konten berbasis cloud terus menerus meningkat.

Sayangnya, tidak hanya kapasitas jaringan 3G yang terbatas. Di beberapa wilayah Jakarta yang terlalu padat (congested), mau tidak mau kestabilan jaringan internet hanya bisa dicapai dengan berpindah dari jaringan 3G ke jaringan lokal nirkabel seperti Wi-Fi.
Faktanya Wi-Fi kini sudah menjadi bagian erat dari kehidupan masyarakat urban. Bahkan pengguna yang berada di area yang terkover Wi-Fi rata-rata memanfaatkan 70 persen waktunya dalam sehari untuk terhubung dengan Wi-Fi.

Karena itu, wajar jika kita melihat tingginya pertumbuhan Wi-Fi hotspot di ruang publik atau tempat umum seperti mal, kafe, kampus, restoran, perkantoran, dan lainnya. Wireless Broadband Alliance (WBA) memperkirakan pertumbuhan Wi-Fi hotspot di tempat umum secara global akan meningkat menjadi 5,8 juta titik pada 2015.

Dibandingkan 2011 yang sekitar 1,3 juta titik, peningkatannya mencapai 350 persen! Tentu angka itu wajar mengingat pada 2015 ada sekitar 2 miliar unit handset dengan kemampuan Wi-Fi yang dikapalkan ke seluruh dunia.

Kendala Sinergi
Ternyata berpindah dari jaringan selular (3G) ke jaringan Wi-Fi tidak selalu mudah dilakukan. Sebut saja pencarian nama network Service Set Identifier (SSID), prosedur log-in atau autentifikasi yang menyulitkan, bahkan kata sandi yang kompleks. Jika pun dianggap mudah, koneksi ke Wi-Fi rentan dengan masalah. Salah satunya soal keamanan seperti pencurian password.

Fryandi Ramada, Network Architect Alcatel-Lucent Indonesia, mengatakan bahwa pihaknya berusaha menyiasati hal ini dengan produk lightRadio Wi-Fi. lightRadio yang berbentuk kubus berukuran 2,5 inci itu sudah dikenalkan di Indonesia pada 2011 sebagai peranti “pengganti” base transceiver station (BTS).

Tahun ini, fungsi lightRadio dikembangkan menjadi sebuah IP Router yang dapat mendeploy banyak gateway. Yang ditawarkan adalah menciptakan konektifitas tanpa kelim (seamless) antara perangkat selular nirkabel dengan jaringan Wi-Fi. ”Seseorang dapat berpindah secara otomatis dari sebuah layanan selular ke jaringan Wi-Fi publik tanpa harus login, memikirkan skema pembayaran, atau bahkan mengawasi perpindahan,” ujar Fryandi.

Bagi operator hal ini akan sangat berguna di kawasan-kawasan yang congested. Jika jaringan 3G dan 2G sudah terlalu padat maka mereka bisa menyarankan pengguna untuk beralih (switching) ke jaringan Wi-Fi yang dikelola. Pengguna tidak perlu login seperti halnya jaringan Wi-Fi konvensional karena proses autentifikasinya dilakukan dengan nomor telepon.

Menurut Fryandi, ada tiga cara lightRadio Wi-Fi ini digunakan. Pertama, memakai software yang akan mengidentifikasi dan menghubungkan user ke sebuah jaringan ”yang dapat dipercaya” secara otomatis.Lalu, memperkenalkan kemampuan baru ke dalam jaringan-jaringan penyedia layanan untuk mengelola transisi antara Wi-Fi dan jaringan selular. Terakhir adalah mengintegrasikan Wi-Fi langsung ke dalam small-cell base station dan jaringan selular.

Dengan cara tersebut, walau mengandalkan jaringan Wi-Fi user tetap dapat mempertahankan pemakaian layanan operator tertentu (contoh : mengunduh konten atau aplikasi). Bahkan bisa juga menciptakan pendapatan dengan billing pulsa yang ditagihkan pada pulsa user (post paid).

”Dengan cara ini user yang menggunakan jaringan Wi-Fi masih menjadi bagian dari network besarnya si operator. Sehingga konten mobile dari operator pun bisa di akses,” paparnya. Selain operator seluler, pendekatan lightRadio Wi-Fi ini juga dapat digunakan di penyedia layanan fixed-line dan kabel untuk memperluas cakupan nirkabel kepada pelanggan yang sudah ada tanpa harus mengeluarkan investasi mahal untuk spektrum ataupun infrastruktur nirkabel. Adapun untuk segmen marketnya sendiri, lightRadio Wi-Fi menyasar enterprise, residential, maupun Content Delivery Network (CDN)

Saat ini Alcatel-Lucent tengah memperluas ekosistem lightRadio dengan cara berkolaborasi bersama beberapa perusahaan access point Wi-Fi besar untuk memastikan interoperabilitas dan integrasi solusi Wi-Fi berkinerja tinggi tersebut. Fryandi mengatakan bahwa di masa depan teknologi 3G dan bahkan LTE saja tidak akan cukup. ”Wi-fi adalah industri yang porsi kuenya masih sangat besar,” katanya.
Sementara itu, kepala analis Yankee Group Ken Rehbehn mengungkap bahwa memberikan akses aman dan tanpa hambatan ke jaringan Wi-fi adalah persyaratan utama pasar saat ini. lightRadio Wi-Fi Alcatel-Lucent, menurutnya, memberikan operator solusi komprehensif dalam teknologi akses radio dan routing IP.

GRAFIS

Tingginya Minat Wi-Fi
– User di area yang terkover Wi-Fi akan menggunakan 70 persen waktunya dari 24 jam untuk mengakses Wi-Fi
– Wireless Broadband Alliance (WBA) menyebut area Wi-Fi hotspot di tempat umum secara global akan meningkat hingga 5,8 juta pada 2015 (meningkat 350 persen) dibandingkan 2011 yang sekitar 1,3 juta tempat.
– Menurut iSupply pada 2015 ada 2 miliar handset yang memiliki kemampuan Wi-Fi yang dikirimkan.

Iklan