”Selamat siang, saya merasa senang berada disini,” tandas Martin Chirotarrab dalam bahasa Indonesia yang cukup lancar kepada jurnalis di restoran Seribu Rasa, Jakarta, Rabu (15/2) silam. Indonesia mendadak penting bagi Martin, yang sebelumnya menjabat sebagai Country Manager Nokia di wilayah Karibia, Amerika Tengah, serta Venezuela itu.

Sebab, terhitung sejak 1 Maret mendatang Martin mendapat jabatan baru: menggantikan Bob McDougal sebagai Country Manager Nokia di Indonesia. Jabatan baru itu mengharuskan Martin tidak hanya bertanggung jawab atas keseluruhan operasi di Indonesia, namun juga memastikan pertumbuhan perusahaan dan perluasan pasar Nokia.

Maka Martin sudah harus mulai bekerja dengan kecepatan tinggi. Karena Nokia Indonesia saat ini sedang berada di “attack mode”. Smartphone berbasis Windows Phone 7.5 atau Mango yang sudah ditunggu-tunggu, Lumia 710 dan 800, secara resmi menyapa pasar Indonesia pada Jumat (17/2) silam.

Di tangan Martin dan tim Nokia Indonesia lah masa depan Lumia di Indonesia diarahkan. Dan rintangan yang menghadang begitu berat. Lumia si ”anak kemarin sore” harus berhadapan dengan si pemimpin pasar BlackBerry, si kuda hitam Android, serta iOS yang punya penggemar fanatik.

Namun, kepada jurnalis pria pehobi olah raga ini mengungkapkan optimismenya. ”Ekspektasi saya sangat tinggi,” ujarnya penuh percaya diri.

Bisa jadi kepercayaan dirinya muncul karena kemajemukan karakter penduduk Indonesia bukanlah sesuatu yang asing baginya. Selama ini Martin yang berbasis di Miami, AS, bertugas mengawasi perkembangan distribusi, kinerja, serta strategi di 37 negara di wilayah Amerika Latin yang terdiri dari berbagai ras, suku, dan agama itu, serta mengoptimalkan seluruh channel penjualan untuk menghasilkan keuntungan kompetitif dan berkelanjutan.

Martin pertama kali bergabung dengan Nokia pada 2006 sebagai Director Telefonica South Cone (Argentina, Chile, Peru, & Uruguay) dan selama dua tahun memimpin tim yang sukses dan berkinerja solid dalam menumbuhkembangkan bisnis.

Ia kemudian bergabung dengan tim manajemen atas di wilayah Amerika Latin pada akhir 2008, membuat berbagai perubahan yang berdampak besar. Kememimpinannya di Amerika Latin dinilai sangat baik dalam penjualan serta pertumbuhan market share Nokia.

”Saya terbiasa menangani penduduk yang sangat prural. Mulai dari kebudayaan, agama, dan karakter penduduknya. Seperti halnya pasar di Indonesia,” katanya. Meski, menurutnya pasar di Indonesia berbeda karena dinamismenya begitu luar biasa. ”Orang disini lebih antusias terhadap teknologi baru,” kata pria yang pernah menjadi atlet rugby dan sepak bola ini.

Terkait soal Lumia dan Windows Phone 7.5, Martin menyebut bahwa tujuan utamanya adalah membuat konsumen tahu dan bisa mendapatkan eksperiens Lumia secara langsung di Lumia Store. ”Saya ingin konsumen mendapatkan pengalaman retail yang lengkap,” katanya.

Selanjutnya, seperti juga yang juga pernah diungkapkan Bob McDougall, fokus utama Nokia saat ini adalah membangun ekosistem ketiga. Ia berharap pengembang aplikasi lokal bisa dengan mudah membuat aplikasi lokal yang relevan untuk pengguna di Indonesia. ”Selama setahun kedepan akan saya gunakan untuk belajar. Dan setahun berikutnya adalah implementasi strategi,” kata ayah tiga anak ini.

Lalu bagaimana dengan Bob mcDougall? Ia memutuskan untuk meninggalkan Nokia pada akhir Februari 2012. Setelah itu, Bob mengaku akan berlibur, yakni berlayar bersama istrinya selama sebulan di Yunani. ”Sudah 25 tahun saya saya berkecimpung di industri ini. 9 tahun diantaranya bersama Nokia. Semua selalu terencana. Sekarang saya rehat, berlibur, setelah itu baru saya pikirkan langkah kedepan seperti apa,” katanya tertawa.

Selama tiga tahun menjadi nahkoda Nokia di Indonesia, satu hal yang diingat Bob adalah jangan pernah meremehkan konsumen di Indonesia. ”Mereka (konsumen) menginginkan banyak sekali produk yang berbeda. Jika kita masuk dengan satu produk, artinya kita meremehkan konsumen,” kata kolektor barang-barang antik ini.

Bahkan, menurutnya, konsumen di Indonesia sudah menjadi benchmark bagi strategi Nokia global. Banyak strategi yang Nokia Indonesia yang mendapat pujian dari negara lain. Salah satunya adalah Nokia C3 yang penjualannya mencapai lebih dari satu juta unit dalam waktu 6 bulan.

Apakah ada yang disesali selama berada di Indonesia? Ia mengakui, selama berada disii ia tidak belajar bahasa Indonesia dengan baik. Namun, ada dua hal yang dia rindukan.

Pertama adalah makanan favoritnya, bakso. Dan kedua adalah mengenakan batik setiap Jumat. ”Saya punya sekitar 18 koleksi batik. Saya baru tahu kalau ternyata ada batik untuk siang, batik untuk malam, bataik formal, batik informal, juga batik dari Jawa, batik Sumatara, dan lainnya,” katanya bersemangat.

Karir Bob bersama Nokia sudah dimulai sejak 2003. Sebelum ditempatkan di Indonesia, ia sudah menjabat sebagai Country Manager di India, Thailand, dan Singapura.

Iklan