Office 365 memang secara khusus diciptakan untuk bersinergi dengan komputasi awan atau cloud. Bukan karena peranti lunak yang sifatnya on premise saja tidak cukup. Namun, karena colud adalah tren dari produktifitas di masa depan.

Ternyata dengan memindahkan software Microsoft yang biasa kita akses sehari-hari ke cloud bisa berdampak begitu besarnya. Mulai dari fleksibilitas hingga biaya operasional yang terpangkas. Bagi perusahaan maupun UKM (dibawah 50 pegawai) yang memang menjadi target utama Office 365, migrasi ke cloud punya dampak besar terhadap penghematan biaya. Mereka tidak perlu lagi membayar lisensi Office yang mahal itu. Cukup berlangganan bulanan yang biayanya bisa disesuaikan kebutuhan perusahaan.

Misalnya untuk berlangganan layanan e-mail standar tarif Office 365 untuk korporasi hanya sekitar USD2 per pengguna per bulan.
Atau, jika ada perusahaan yang ingin solusi lengkap, bisa memilih Microsoft Office Professional Plus dengan biaya sekitar USD24 per pengguna per bulan. Layanan yang di dapat sudah sangat komplit.

Mulai dari e-mail, voicemail, social networking perusahaan, instant messaging, web portal, extranet, video conference, web conference, lisensi on-premise, dan lainnya.

”Karena itu Office 365 dinilai dapat memberi dukungan bagi pebisnis kecil dengan kemampuan teknologi setaraf perusahaan besar,” ujar Fanly Tanto, Cloud Sales Manager Small and MidMarket Solutions & Partners Group.

Dalam hal fleksibilitas, bukan berarti Office 365 hanya bisa di akses dari Desktop PC ataupun laptop yang berbeda-beda. Tapi nyaris ke sembarang perangkat, termasuk smartphone. Salah satunya adalah Windows Phone 7.5 Mango yang hadir lewat handset Nokia Lumia pada 17 Februari mendatang.

Bahkan akan tersedia pula di aplikasi Office 365 untuk iOS dan Android. ”Office 365 ini akan menjembatani Desktop PC dan Mobile,” beber Fanly lagi.

Sementara itu, Solution Specialist PT Microsoft Indonesia Felix Wira Putera mengungkap bahwa Office 365 berisi aplikasi yang sudah jamak digunakan. Seperti Microsoft Office Online, Microsoft SharePoint Online, Microsoft Exchange Online dan Microsoft Lync Online.
”Setiap aplikasi memiliki kata ’online’ dibelakangnya karena memang selalu ter-update atau terhubung dengan internet,” ujar Felix. Walau sudah bermigrasi ke cloud, menurut Felix, tampilan antarmuka-nya tidak berbeda dengan versi on premise.

Dalam kesempatan tersebut Felix juga mendemokan bagaimana penggunaan Office 365 bisa men-drive produktifitas penggunanya. Yang paling menarik mungkin saat ia menunjukkan Microsoft Lync yang memiliki fitur instant messaging dan konferensi video.

Dengan mudahnya Felix meminta salah seorang staf Microsoft yang sedang berada di kantor PT Microsoft Indonesia untuk mengirim file Power Point, lantas mengeditnya secara bersamaan.

Tak hanya itu, fasilitas yang di dapat juga begitu menarik. Misalnya personal email dengan kapasitas hingga 25 GB, akses ke SkyDrive, hingga mengedit file Word, PowerPoint, Excel, dan OneNote hanya dengan bermodal browser saja, Tentu ini akan sangat bermanfaat bagi enterprise ataupun UKM.

Microsoft Office 365 sebenarnya telah dikenalkan sejak Juni 2011. Mulai masuk uji coba sejak November 2011 silam, dan rencananya akan diluncurkan secara resmi di Indonesia pada pertengahan tahun ini. Sekarang pun pengguna bisa mencoba versi trial-nya di http://www.office365.co.id.

Office 365 memang menjadi salah satu andalan Microsoft. Tahun lalu, penerimaan peranti lunak ini 8 kali lebih cepat dibandingkan versi sebelumnya. Bahkan disebut sebagai salah satu layanan Microsoft yang pertumbuhannya paling cepat.
Dan memang, traksi dari Office 365 ini justru ada pada UKM. Bahkan 90 persen dari pelanggan awal Office 365 adalah UKM.

Meski demkian, tak sedikit perusahaan besar yang juga memanfaatkan Office 365 agar memudahkan para karyawannya bisa bekerja secara simultan di cloud. Bahkan, lebih dari 40 persen dari 100 perusahaan Best Global Brands 2011 versi Interbrand menggunakan Office 365 maupun layanan produktifitas dari Microsoft. Lembaga riset Gartner sendiri juga memprediksi bahwa 20 persen dari bisnis tahun ini tidak lagi memiliki aset IT karena sudah beralih ke cloud.