Lengkap sudah lini produk Nokia Asha hadir di Indonesia. Si bungsu Asha 300 yang diluncurkan PT Nokia Indonesia di Ballroom Hotel Indonesia Kempinski Rabu (25/1), siap menemani dua kakaknya Nokia Asha 303 dan 200 yang sudah dilepas pada akhir 2011 silam.

Bagi Nokia Indonesia, kehadiran jajaran produk Asha ini amatlah penting. Bahkan, melihat kondisi pasar Indonesia saat ini bisa jadi kehadiran Asha justru jauh lebih penting dibanding Nokia Lumia, buah kerjasama Nokia-Microsoft yang sudah ditunggu-tunggu itu. Rencananya Lumia akan diluncurkan Februari ini juga.

Mengapa lebih penting? Sebab, Asha memang dilahirkan sebagai ponsel ”pengganggu”. Inilah ponsel yang dipuji mampu mengaburkan diding pembatas antara smartphone dan feature phone (ponsel standar dengan koneksi internet). Dari fitur, fungsi, desain, sistem operasi, dan harganya, Asha memang dirancang secara spesifik untuk meretas di emerging market seperti Indonesia. Asha 300 yang baru diluncurkan dipatok Rp999.000. Sedangkan Nokia Asha 303 Rp1,475.000 dan Asha 200 Rp799.000.

Memang Bob McDougal, Presiden Direktur Nokia Indonesia, tidak menyebut secara spesifik. Tapi, menurutnya di rentang harga Rp1 jutaan inilah market ponsel terbesar Indonesia berada. Di segmen market inilah Asha akan menjadi proyektil yang mematikan bagi kompetitornya. Tes pasar yang mereka lakukan memberi umpan balik positif. Asha 200 disambut antusias di Medan, Makassar, dan Bekasi. Begitu juga dengan Asha 303 yang diluncurkan dengan harga diskon di Jakarta, Bandung, dan Surabaya. ”Permintaan di segmen ini sangat tinggi,” ujar Bob.

Lini produk Asha memang bagian dari rencana besar Nokia “connecting the next billion”, yakni menghadirkan handset yang terjangkau harganya, mumpuni kemampuannya, serta mudah saat digunakan berinternet. Sebagai catatan, browser Asha terbaru mampu mengkompres halamam web sehingga lebih cepat dan irit bandwith.

Lumia memang menjadi kunci utama dan satu-satunya Nokia untuk bersaing di pasar smartphone di Indonesia. Tapi, yang lebih penting bagi Bob justru bagaimana Nokia bisa menghadirkan portofolio produk untuk semua segmen pasar. ”Kami memiliki 33 device berbeda, katanya,”.

Ekosistem yang Utuh
Siapapun yang membeli Asha 300 bisa langsung memainkan game Angry Birds yang sudah pre-loaded di dalamnya. Nokia dengan Rovio, si pencipta Angry Birds, memang punya hubungan spesial. Tentu, karena keduanya sama-sama berasal dari Finlandia.

Tapi yang lebih penting lagi adalah kerjasama yang keduanya yang terlihat sama-sama menguntungkan. Bagi Nokia, Angry Birds akan menjadi pendongkrak popularitas Asha. Karena hanya di Asha Angry Birds bisa dimainkan di ponsel yang tidak mengusung label ”smartphone”.

Sedangkan bagi Rovio, Asha akan menjadi media untuk mempopulerkan Angry Birds ke segmen baru yang sebelumnya tidak mereka sentuh: emerging market. Ini sesuai dengan rencana besar mereka untuk membawa burung marah itu ke berbagai devais berbeda, ke pasar yang lebih besar tentunya. Tapi, lebih dari itu, Presiden Direktur Nokia Indonesia Bob McDougal menyebut bahwa kerjasama Nokia-Rovio ini akan memberikan fondasi. Untuk menyadarkan masyarakat bahwa dengan ponsel seharga 350 ribu-400 ribuan pun mereka sudah bisa membeli aplikasi.

Dan memang, aplikasi maupun developer adalah hal yang penting. Menurut Bob, saat ini vendor tidak bisa hanya berinvestasi pada hardware saja dan layanan saja. Sekarang vendor harus berpikir untuk menciptakan sebuah ekosistem yang utuh. Misalnya saat konsumen butuh mengunduh aplikasi dari toko aplikasi untuk ponselnya. Dengan apa ia bisa membayar? Bagaimana cara pembayarannya? Nokia, lanjut Bob, sudah menyiapkan hal ini dengan sistem pembayarn operator billing.

Kemudian, kunci sukses lainnya adalah ketersediaan aplikasi yang lokal, yang bisa dengan mudah terhubung dengan penggunanya. Menurut Bob, Nokia juga sudah sangat concern terhadap developer lokal. Saat ini mereka sudah sudah bekerja sama dengan 10.000 developer lokal, menghasilkan 3.000 aplikasi lokal, serta 50 universitas di Indonesia yang tersebar di 12 kota.

Keunggulan-keunggulan seperti inilah yang disebut Bob sebagai kunci pembeda antara Nokia dengan operator lainnya. “Kami adalah vendor ponsel yang memberikan investasi secara nyata dan terbesar untuk Indonesia,” katanya.