”Lumia” bisa berarti salju, cahaya, serta harapan. Dirilis tepat di musim salju, Lumia berikan harapan baru bagi Nokia untuk kembali bercahaya setelah lama tenggelam di pasar smartphone.

Setahun lalu, tepatnya pada 11 Februari 2011, Nokia mengambil langkah besar: menjalin kerjasama dengan Microsoft Corp. untuk mengembangkan ekosistem ketiga setelah Android dan iOS. Kesepakatan pun terajut untuk menjadikan Windows Phone sebagai sistem operasi utama di lini produk smartphone Nokia.

Mulanya kerjasama ini memang memunculkan skeptisme. Banyak yang ragu apakah ekosistem ketiga ini bisa bersaing dengan Android dan iOS yang begitu digdaya. Namun, setelah Lumia pertama, 710 dan 800, menyapa pasar Eropa pada November dan Amerika di Desember 2011, skeptisme itu berlahan mulai luntur.

Dalam waktu yang sangat singkat itu Nokia mengklaim bahwa lini produk Lumia telah terjual hingga 1 juta unit. Bahkan 22 analis yang diwawancarai Bloomberg memperkirakan angkanya lebih tinggi lagi: mencapai 1,3 juta unit! Tentu angka itu berdampak besar bagi kerjasama Nokia-Microsoft. Bukan hanya menciptakan fondasi yang kokoh. Tapi juga membangun kembali kepercayaan investor yang terlanjur skeptis.

”1 juta unit adalah angka yang menjanjikan,” ujar analis Espen Furnes kepada AFP. ”Jika Nokia bisa mempertahankan momentum ini, maka perusahaan tersebut akan kembali mendapat posisi yang kredibel untuk memenangkan hati investor,” tambahnya. Meski demikian Chief Executive Officer Nokia Stephen Elop, 48, tidak ingin gegabah. Ia merahasiakan target penjualan Lumia. Harapan juga dijaga tetap rendah. Sebab, menurutnya, ”Nokia dan Microsoft saat ini sedang berfokus membangun ekosistem aplikasi bersama para developer”.

Sebuah ekosistem yang utuh adalah modal utama Lumia untuk bisa bersaing dengan Android dan iOS yang ekosistemnya sudah terbentuk sangat solid. Ini adalah perjuangan ekstra keras dan ekstra panjang. Disela-sela itu, Nokia juga makin agresif untuk menghadirkan Lumia-Lumia baru. Pada perhelatan Consumer Electronics Show (CES) 2011 di Las Vegas pada 9 Januari silam Nokia mengenalkan Lumia ketiga : Lumia 900. Model ini di desain khusus untuk meretas pasar Amerika dengan layar yang besar dan jaringan 4G.

Kepada Bloomberg, para analis memperkirakan penjualan Lumia bisa tembus 3,2 juta unit di kuartal pertama tahun ini. Utamanya setelah Lumia masuk ke pasar Asia (termasuk Indonesia). Sedangkan firma keuangan Morgan Stanley memperkirakan total penjualan Lumia selama 2012 bisa mencapai 37 juta unit.

”Putting People First”
Nokia Lumia 710 dan 800 akan resmi menyapa pasar Indonesia pada 17 Februari 2012 mendatang. Namun, sejak 6-16 Februari, pengguna bisa melakukan pre-order dengan iming-iming aksesoris dan paket internet. Selama masa pre-order itu ada bonus Nokia Purity HD Stereo Headset by Monster (WH-930) untuk Lumia 800 dan in-ear Nokia Purity Stereo Headset by Monster (WH-920) khusus Nokia 710. Masing-masing juga mendapat paket data XL Internet Unlimited selama 12 bulan dari XL Axiata. Harganya? Lumia 710 dipasarkan Rp2.900.000 sedangkan Lumia 800 Rp5.250.000.

Untuk memesan, pengguna bisa mendatangi Nokia Store atau Lumia Store atau situs Nokia.co.id/Lumia. Nokia Store di Senayan City memang beralih nama jadi Lumia Store, dimana pengunjung bisa mendapatkan full experience terhadap Lumia. Disana ada staff yang siap menjelaskan fitur Lumia, ada live demo, serta aksesoris resmi. Dalam waktu dekat 11 Lumia Store lainnya akan dibuka di Jakarta, Surabaya, serta Makassar.

Product Manager Nokia Lumia Anvid Erdian menegaskan bahwa Lumia punya kans besar untuk bisa bersaing di Indonesia. Terutama dengan slogan ”putting people first”, dimana pengguna bisa dengan mudahnya mengakses menu tiles (persegi) untuk berhubungan dengan orang lain. Menu lain, People (phonebook), memberikan akses ke Facebook, Twitter, LinkedIn, email, serta memberikan live update terhadap sesama pengguna di jejaring sosial itu. ”Fitur ini sangat cocok untuk pasar Indonesia yang sangat antusias terhadap sosial media. Twitter, Facebook, dan jejaring sosial lainnya berada dalam satu hub,” katanya.

Nokia Lumia 800 menggunakan layar AMOLED 3,7 inci, prosesor Qualcomm Snapdragon S2 1,4 GHz, beterai 1450 mAh, kamera 8MP yang mampu merekam video HD 720p, serta kapasitas simpan 16 GB. ”Bodi Nokia 800 terbuat dari polikarbonat yang kuat dan ringan, juga menganut desain unibodi yang tidak memiliki sambungan sehingga lebih kokoh,” ujar Anvid.

Sementara Nokia 710 menggunakan layar 3,7 inci dengan ClearBlack Display, Prosesor Qualcomm 1,4 GHz, kamera 5 MP yang mampu merekam video 720p, baterai 1300 mAh, serta memori internal 8 GB. Yang menarik, back casing Lumia 710 bisa diganti-ganti warnanya, mulai hitam, putih, biru muda, fuschia, dan kuning.

2012, Smartphone Jadi Unggulan Prinsipal

Tahun ini smartphone akan menjadi market driven, yakni produk yang diminati karena mampu menjawab kebutuhan pasar. Hal tersebut diungkapkan oleh Djatmiko Wardoyo, Direktur Marketing dan Komunikasi PT Erajaya Swasembada, distributor dan peritel produk layanan komunikasi selular di Indonesia.

Menurut Djatmiko, pertumbuhan smartphone di Indonesia pada 2011 mencapai 120 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jika pasar smartphone di Indonesia ada sekitar 4,5 juta, maka di 2011 diperkirakan mencapai 9-10 juta unit. ”Pada 2012 smartphone menjadi market driven karena harga jual rata-rata (average selling price) per unitnya bisa berlipat-lipat dibandingkan feature phone atau basic phone. Jika ASP basic phone hanya Rp600.000-Rp700.000, maka smartphone bisa 5x lipat lebih besar,” katanya.

Dengan asumsi total pasar ponsel di Indonesia pada 2012 45 juta unit-50 juta unit, menurut Djatmiko, sekitar 20 persen diantaranya adalah smartphone. ”Jadi pertumbuhannya masih sangat besar, masih mencapai tiga digit,” paparnya. Ia mengungkap setidaknya ada tiga hal yang membuat smartphone di Indonesia terus berkembang. Pertama, prinsipal global seperti Nokia, Samsung, dan lainnya telah berinvestasi secara masif pada pengembangan smartphone. ”Maka di pasaran pilihan smartphone luar biasa banyak,” sebut Djatmiko. Masuknya smartphone sebagai barang komoditas (berbasis volume) juga membuat harganya cepat turun dan semakin terjangkau.

Yang kedua adalah karakter market Indonesia sendiri yang menurut Djatmiko memang agak latah. ”Kemungkinan besar jika diluar negeri ngetop, penerimaan di Indonesia juga lebih besar. Lumia sudah membuktikan hipnya di Amerika dan Eropa. Saya yakin mudah di terima di Indonesia,” katanya. Meski demikian, ia mengakui bahwa perlu ada edukasi market yang besar-besar karena memang Windows Phone sama sekali baru di pasar Indonesia.

Yang terakhir, adalah terkait institusi keuangan di Indonesia yang memberikan kemudahan luar biasa. Salah satunya fasilitas cicilan 12 bulan yang menurut Djatmiko mampu men-drive pasar. ”Dengan fasilitas cicilan, minat orang di retail seperti Era Phone lebih dominan ke market smartphone high end,” katanya. ”Sementara feature phone dan basic phone hanya diminati di pasar tradisional atau jalur distribusi,” ia menambahkan.

Karena smartphone menjadi market driven, maka inilah lini yang menjadi brand equity terkuat dari para prinsipal. ”Mereka yang memiliki basis smartphone paling laku di pasar akan unggul. Karena ini tidak hanya perang bisnis, tapi juga perang gengsi,” paparnya.