Hari Kasih Sayang pada 14 Februari mendatang menjadi momen istimewa bagi pengguna Facebook di Indonesia yang gemar bermain Angry Birds. Karena disaat itulah Angry Birds untuk Facebook resmi diluncurkan.

Seharusnya, versi Facebook Angry Birds sudah diluncurkan pada Maret 2011 silam. Ternyata saat itu Rovio Mobile, si pengembang Angry Birds, justru mengenalkan platform game tersebut untuk Google Chrome. Belakangan Chief Marketing Officer Rovio Mobile Peter Vesterbacka memastikan bahwa Angry Birds untuk Facebook bakal dirilis resmi pada 14 Februari mendatang. Yang istimewa, Rovio memilih Jakarta sebagai tempat peluncuran resminya.

Mengapa Jakarta? Sebab Indonesia adalah negara pengguna Facebook terbesar kedua setelah Amerika dengan 45 juta pengguna aktif. ”Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak merilis Angry Birds di Indonesia,” beber Peter yang dijuluki The Mighty Birds itu kepada wartawan di Social House, Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (25/1) silam.

Sekarang pun Angry Birds telah diunduh sebanyak 700 juta kali (ditargetkan mencapai 1 miliar tahun ini). Dengan masuk ke Facebook maka Rovio akan menyasar langsung 800 juta pengguna Facebook yang dikenal gemar bermain game itu. Mungkin juga sudah banyak pengguna Facebook yang sudah memainkan Angry Birds di tablet, smartphone, atau PC-nya. Namun, selain masih begitu besarnya segmen yang bisa diraih, Peter juga menyebut ada banyak fitur baru untuk meraih minat pemain lama.

Misalnya saja opsi memainkan game tersebut secara full screen, mengakses level baru, kompetisi, serta leader chart yang memungkinkan pengguna Facebook melihat posisi permainannya dan adu tinggi poin. ”Motto kami adalah meraih penggemar baru sambil menjaga penggemar lama,” ujar Peter yang didampingi oleh Senior VP Rovio Asia Henri Holm. ”Masuknya kita ke Facebook juga untuk memudahkan Angry Birds dimainkan semua kelompok umur dan kalangan,” tambahnya.

Saat ini Angry Birds telah dikembangkan ke hampir berbagai platform, mulai smartphone, tablet, hingga TV. Sebut saja Samsung yang baru saja memasukkan game tersebut di lini Smart TV mereka. Angry Birds juga hadir di rangkaian Nokia Asha yang menggunakan OS Series 40. Platform lainnya, mulai iOS, Android, Windows Phone 7, PC, Google Chrome, Google+, Blackberry QNX, Symbian, Bada, konsol Sony Playstation 3 hingga Playstation Portable. Meski demikian, Angry Birds untuk Facebook ini pertama kalinya game tersebut dirilis di peramban jejaring sosial.

Potensi Pasar Asia
Saat ini Rovio memang semakin fokus ke pasar Asia. Mereka telah membangun kantor resmi di Shanghai, China, kedua setelah kantor pusat di Finlandia. Maka muncullah Angry Birds Seasons: Year of the Dragon untuk memperingati Imlek. Bagaimana dengan Indonesia? Peter mengungkap bahwa pihaknya sangat terbuka. Bukan tidak mungkin nantinya akan ada Angry Birds dengan unsur batik, ornamen Bali, burung Garuda, maupun Komodo yang dikolaborasikan dalam permainan tersebut. ”Kami sangat tertarik untuk mempelajari budaya Indonesia,” kata Peter.

Bahkan Rovio dan Nokia menggelar kompetisi ide teruntuk pengembang mobile Indonesia. Temanya, apa yang mereka inginkan jika ada Angry Birds versi Indonesia? Para developer bisa memberikan ide apa saja, dalam bentuk tulisan ataupun prototip game hingga akhir bulan ini. Dua pemenang dengan ide terbaik akan diajak magang ke kantor pusat Rovio di Finlandia selama sepekan.

Ashwin Sasongko, Dirjet IT Aplikasi Kominfot menyebut bahwa hal ini akan memberikan dampak positif bagi ekonomi Indonesia. Kesempatan bagi developer untuk bisa magang di Rovio akan memberi benefit yang sangat besar,” bebernya. Angry Birds memang menarik perhatian dengan karakter yang lucu, serta gameplay sederhana: mengetapel burung untuk merobohkan bangunan agar menimpa babi warna hijau.

Keberuntungan justru tidak ada hubungannya dengan kesuksesan Angry Birds. Menurut Peter, karena sedari awal Angry Birds memang diciptakan untuk menjadi sukses. ”Kami berusaha untuk menghilangkan dan menghindari faktor keberuntungan di setiap tahapan prosesnya,” ia menuturkan.

Angry Birds juga bukanlah proyek pertama Rovio. Bahkan, sebelum Angry Birds mereka sudah membuat 51 game yang tidak sukses. Karena itu, Peter menyebut bahwa kesuksesan tidak dicapai oleh Rovio dalam semalam. Dalam memasarkan Angry Birds, Rovio memang tidak menggunakan strategi marketing konvensional. Menurut Peter, Rovio bukanlah sebuah perusahaan game. ”Yang kami kerjaan saat ini adalah membuat sebuah generasi terbaru franchise di dunia hiburan,” paparnya. Mereka berusaha untuk membuat kerajaan franchise hiburan seperti Disney, bukan semata perusahaan yang berfokus pada video game seperti Electronic Arts.

Ia menilai bahwa brand Angry Birds lebih dari sebuah game, tapi bisa di perluas ke area seperti film, animasi, mainan, bahkan taman hiburan. ”Angry Birds bisa seperti Hello Kitty atau Mickey Mouse,” katanya. Rovio dimulai oleh tiga orang siswa, Niklas Hed, Jarno Vakevainen, dan Kim Dikert dari Aalto University School of Science and Technology. Pada 2003, ketiganya berpartisipasi pada aplikasi pengembang game yang disponsori Nokia dan Hewlett-Packard.

Saat itu mereka bertanya pada Peter Vesterbacka, yang menjabat sebagai perwakilan Hewlett-Packard, apa yang dilakukan kemudian. Kata Peter, ”Anda harus membentuk perusahaan dan membuat banyak sekali mobile game,”. Mulanya mereka membuat game untuk perusahaan lain. Hingga akhirnya pada Desember 2009, lahirlah Angry Birds, game ke-52 mereka. Pada Maret 2011, Rovio menerima dana segar sebesar USD42 juta dari firma VC Accel Partners, Atomico Ventures dan Felicis Ventures.

Kabarnya mereka akan menggelar IPO di Hong Kong pada 2013. Pendapatan Rovio pada 2011 mencapai USD100 juta, 10 x lebih besar dibandingkan setahun sebelumnya. Diperkirakan nilai Rovio mencapai USD2,6 miliar hingga USD9 miliar.