Tak perlu lagi kuas, cat, atau kanvas. Para seniman digital hanya butuh jari (atau stylus pen) dan sebuah tablet atau smartphone untuk menghasilkan gambar dan karikatur yang indah.

Ternyata menyapukan S-Pen di layar HD Super Amoled Samsung Galaxy Note yang berukuran 5.3 inci itu lebih mengasyikkan dibanding menggores pena di atas kertas. Mungkin tidak semua karikaturis (pembuat gambar karikatur) setuju. Tapi, itulah yang dirasakan Kathy Bailey Rose, satu dari beberapa karikaturis yang memeriahkan booth Samsung Electronics di perhelatan Consumer Electronic Show (CES), 10-13 Januari 2012 silam.

Kathy menggambar karikatur di Samsung Galaxy Note secara cuma-cuma. Namun, jika ingin digambar, Anda harus mengosongkan waktu setidaknya 1 jam. Sebab untuk merampungkan sebuah karikatur Kathy butuh waktu setidaknya 10 menit. Padahal peserta pameran–media, analis, buyer, ataupun business affiliate—begitu antusias hingga membuat antrean panjang.

Walau saya sendiri tidak ikut antre, melihat Kathy bekerja di Galaxy Note ternyata tidak kalah menyenangkan. Karena Kathy membuat aktifitas menggambar terlihat sangat mudah. Mula-mula ia membuat sketsa melalui aplikasi S-Memo yang sudah pre-loaded di Galaxy Note. Setelah sketsa wajah obyek sudah mulai terbentuk, ia mulai menyapukan warna dengan pilihan ”paintbrush”.

Tangan kirinya terlihat nyaman menggenggam ”tablet mini” itu. Sedangkan tangan kanannya bergerak lincah memadu warna, melapis cat. Berlahan tapi pasti gambar karikatur pun jadi.

”Menggores S-Pen di Galaxy Note yang berukuran 5.3 inci ini lebih nyaman dibanding tablet berukuran lebih besar,” ujarnya. Di tablet merek lain, Kathy mengaku harus menggambar menggunakan jarinya yang setelah beberapa lama terasa sangat melelahkan.

Ia juga menyebut bahwa Galaxy Note cocok digunakan karikaturis seperti dirinya karena layarnya memiliki 250 tingkat peka tekanan (pressure sensitive).

Kemampuan peka tekanan penting untuk meniru rasa yang di dapat ketika bekerja dengan kuas, spidol atau pena. Alhasil, Kathy bisa lebih detil dalam mengontrol ketebalan kuas yang disapukan atau membuat efek shading.

Selain ringan (hanya 178 gram), ukuran gadget ini dinilainya juga pas. Tidak terlalu besar ataupun kecil. Toh, kalau memang dirinya ingin mendapatkan lebih banyak detil, ia bisa melakukan zoom in (memperbesar gambar).

Seniman Digital

Kathy adalah salah satu seniman digital yang muncul sejak meledaknya era tablet tiga tahun lalu. Suaminya, Buddy Rose, juga seorang karikaturis. Mereka mendirikan perusahaan di Las Vegas bernama Caricature Cinema.

Lewat Caricature Cinema keduanya sering mendapat order untuk menggambar karikatur di berbagai acara. Belakangan banyak klien yang meminta mereka menggambar lewat media tablet.

Bagi Kathy ataupun Buddy, tablet menjadi media yang memudahkan implementasi seni lukis/gambar yang dulunya hanya bisa dilakukan lewat pena dan kertas/kanvas.

Dan mereka bukan satu-satunya orang yang merasakan hal itu. Belakangan tablet mulai dilirik sebagai media alternatif untuk membuat gambar digital. Tablet disebut-sebut sebagai ”kanvas modern” atau ”kanvas digital”.

Animator Pixar Animation Studios, Don Shank, adalah salah satunya. Shank yang terlibat dalam film seperti Ren & Stimpy, The Incredibles dan Up itu sangat menyukai melukis menggunakan jarinya di iPad. Sebagian besar lukisan abstrak yang dibuat di iPad bisa dilihat donshank.blogspot.com atau bahkan dibeli di donshank.com.

Menurut Shank, dirinya langsung tahu iPad akan menjadi sebuah media yang mengasikkan untuk melukis setelah aplikasi Brushes tersedia di Apple App Store. Brushes adalah aplikasi sederhana yang memungkinkan pengguna menggambar dengan jarinya.

Meski demikian, ia menyebut bahwa melukis di iPad hanya sebagai sebuah hobi. ”Karenaa saya masih membawa buku sketsa setiap bepergian. Saya tidak melihat hal ini sebagai sesuatu yang berorientasi bisnis,” paparnya. ”Sebagai seniman, kami ingin bermain dengan ide untuk menggunakan berbagai media yang dirasa menarik untuk berekplorasi,” ia menambahkan.

Ada beberapa hal yang disukai Shank saat melukis dengan iPad. Pertama, karena aplikasi Brushes memiliki tombol Undo (membatalkan perintah). Kedua, gambar yang sudah jadi bisa dikirim seketika melalui email, atau dicetak dengan ukurang 6 kali lebih besar.

Dan favoritnya adalah ia dapat merekam seluruh aktifitasnya melukis dari kanvas kosong menjadi karya seni yang indah (time lapse). Dan mungkin, fitur time lapse ini juga yang membuat nama David Kassan menjadi semakin populer. Kassan, pria kelahiran Brooklyn, New York, pada 1977, ini dikenal dengan keahliannya membuat lukisan portrait yang realistis.

Suatu saat, ia mengunggah video time lapse dirinya yang sedang melukis seorang pria melalui iPad di YouTube. Video berdurasi selama 7 menit itu ternyata menjadi sangat populer dan semakin melambungkan nama David.

Tapi, mungkin hanya pelukis asal Inggris David Hockney, 74, yang bisa mengkomersialkan lukisan yang dibuatnya melalui iPad. ”iPad art” Hockney sudah dipamerkan ke publik. Salah satunya dalam pameran David Hockney: A Bigger Picture di Royal Academy of Arts, London.

Kurator pameran Marco Livingstone mengatakan bahwa saat ini pelukis legendaris itu lebih sering menenteng iPad dibandingkan cat minyak, kuas, serta pensil warna. ”Anda bisa melukis kapan saja dengan cepat begitu mendapat inspirasi, dan bahkan langsung mengirimkannya ke teman,” katanya.

Meski tidak bisa dibandingkan dengan lukisan kanvas tradisional, Livingstone menyebut bahwa “iPad art” ini memiliki kualitasnya sendiri. ”Begitu dicetak, hasilnya seperti lukisan kanvas tapi dicetak di kertas. Warnanya terlihat seperti cat, tapi lebih tebal,” bebernya.

Bahkan, ”iPad art” ini juga mengilhami startup untuk membuat aksesoris pendukungnya. Ini yang dilakukan Don Lee, yang juga seorang pelukis. Lewat perusahaannya, Nomad Brush, Lee menciptakan aksesoris kuas untuk iPad. Kuas tersebut terbuat dari serat-serat yang bisa menghantar listrik.

Nomad Brush yang juga bisa digunakan untuk iPhone 4 itu bahkan tersedia dalam berbagai ukuran, bentuk, serta segmentasi berbeda. Di situs resmi nomadbrush.com, harga kuasnya dipasarkan mulai USD19 hingga USD40 perbuah.

Lee bercerita bahwa ia mendapat hadiah iPad generasi pertama dari istrinya. Sejak itu ia menyadari bahwa iPad bisa digunakan sebagai buku sketsa serta kanvas digital untuk melukis.

Selain kompak, juga praktis karena tidak perlu membawa cat, kuas, dan lainnya. ”Namun, saya merasakan bahwa menggambar dengan tangan sangatlah canggung. Terlalu banyak friksi dan tidak natural,” ujarnya. Sejak itulah Lee terinspirasi untuk mendirikan Nomad Brush.

Iklan