Smart TV terbaru Samsung memungkinkan pengguna mengontrol TV tanpa perlu remote control. Juga berbagai konten langsung dari TV, tablet, dan smartphone.

Jangan keliru mendefinisikan Smart TV dengan televisi yang hanya bisa digunakan berinternet. Memang televisi yang bisa berinternet masuk kategori “pintar”. Tapi, kata Smart di depan Smart TV ini sifatnya lebih mengarah ke ”smart” pada ”smartphone”. Yakni, sebuah televisi yang multi-guna, yang dapat menjalankan fungsi yang belum pernah dilakukan sebelumnya di dalam sebuah televisi. Sebuah TV yang memiliki kecanggihan smartphone bahkan laptop!

Itulah yang terlihat saat SINDO bertandang mengunjungi booth Samsung Electronics di pameran Consumer Electronic Show (CES) 2012. Booth Samsung yang terletak di Central Hall, Las Vegas Convention Center (LVCC) itu termasuk salah satu yang terbesar, tercantik, juga tercanggih.

Di pameran tahun ini Samsung seolah membawa makna Smart TV ke tahap baru yang meliputi tiga fokus. Yakitu fokus pada interaksi yang “smart”, konten yang ”smart”, serta evolusi yang ”smart”. Yang dimaksud dengan interaksi “smart” secara literal adalah gambaran bahwa Anda benar-benar bisa berinteraksi dengan televisi. Melalui apa? Melalui suara dan gerakan. Rupanya, Samsung ingin membawa teknologi pada televisi ke tahap yang belum pernah dicapai sebelumnya.

Produk terbaru mereka, Samsung ES8000 LED TV, sudah dibenamkan sebuah kamera High Definition (HD) dan mikrofon. Kamera itu bukan saja bisa digunakan untuk video call melalui Skype. Justru fungsinya jauh lebih canggih, karena sudah dibekali sensor gerak seperti yang ada pada Kinect keluaran Microsoft.

Di menu utama gerakan tangan Anda akan muncul sebagai pointer di layar. Jika ingin memilih aplikasi tertentu, misalnya Facebook, cukup katupkan tangan sekali maka aplikasi otomatis akan terbuka. Kamera ini juga dapat berfungsi sebagai “facial recognition” atau mengenali wajah sebagai password untuk log in ke televisi.

”Nantinya Anda bisa mengontrol televisi sepenuhnya tanpa perlu lagi menyentuh remote kontrol,” ujar Boo-Keun Yoon, presiden consumer electronics Samsung. Selain sensor gerak, interaksi pengguna ke televisi juga terjalin pula lewat suara. Mikrofon yang telah dibenamkan pada Samsung ES8000 LED TV sudah begitu canggihnya sehingga bisa mengidentifikasi suara pengguna sebagai sebuah perintah. Ini karena di dalamnya sudah ada prosesor dual core.

Memang interaksinya tidak sealami dan secanggih Siri di iPhone 4S yang bisa membalas pertanyaan. Dalam demonya, staf Samsung memperlihatkan bahwa suara pengguna hanya dapat dikenali sebagai sebuah perintah. Misalnya kita menyebut “Hi TV” maka menu pun akan muncul. Lantas pegguna bisa mengganti channel, menurun dan naikkan volume, atau meniadakan suara di TV dengan berucap “Channel Up”, “Volume down”, dan “mute on”.

Prosesor dual core di televisi tersebut juga berfungsi untuk multitasking. Sehingga bisa saja saya yang sedang menonton film lantas membuka aplikasi Twitter, dan kembali lagi ke film.

Smart Content, fokus kedua Samsung, juga tidak kalah menarik. Bisa jadi Samsung adalah vendor pemilik aplikasi untuk Smart TV terbanyak. Start mereka memang lebih awal, sejak 2009 sudah membangun interaksi dengan developer. Dan sekarang, mereka mengklaim memiliki 25,000 developer dari 140 negara. Sedangkan jumlah aplikasi yang bisa digunakan mencapai 1.400 aplikasi, termasuk Angry Birds atau Discovery Channel.

Dalam CES 2012, Samsung juga meluncurkan SDK 3.0. Fitur ini mengaktifkan AdHub, yakni fitur yang memungkinkan publisher maupun brand mendeliver video, 3D, maupun iklan interaktif ke antar-muka Smart TV. Intinya, fitur ini membuat developer bisa lebih mudah memonetesasi aplikasi untuk Smart TV mereka.

Berbagi Konten dengan AllShare Play

Layanan AllShare yang berbasis DLNA itu memang sudah ada. Namun, dalam Samsung Convergence Press Event yang berlangsung Senin (9/1) silam, perusahaan asal Korea Selatan itu menunjukkan pembaruan DLNA lewat apa yang disebut AllShare Play.

Dengan AllShare Play sebuah konten akan dengan mudahnya diakses di TV, smartphone, tablet, kamera, hingga PC. Kampanye family story Samsung memperlihatkan bagaimana sebuah keluarga menyiman dan membagi kontennya melalui penyimpanan cloud.

”Maka anggota keluarga bisa berbagi foto, menciptakan slide show, atau menjadwalkan event tertentu lewat gadget masing-masing dan di-share lewat AllShare Play,” ujar Yoon Lee, VP Product Innovation Samsung Eletronics America. ”Intinya kami ingin membuat smarter life,” katanya.

Targetkan Tumbuh
Joe Stinziana, vice president of Samsung America menyebut bahwa teknologi baru yang dibenamkan Samsung di lini produk TV mereka ini menjadi langkah besar bagi industri televisi. Saat ini Samsung Electronics Co memang masih menjadi manufaktur televisi terbesar di dunia.

Mereka berharap dengan dikenalkannya teknologi baru di televisi ini membuat pasar televisi global tumbuh 7-8 persen tahun ini. Sementara penjualan TV global Samsung ditargetkan mencapai 50 juta unit, atau dua kali lebih besar dari tahun lalu. TV tersebut kemungkinan baru akan diproduksi pada semester kedua 2012.

Bagaimana dengan pasar Indonesia? Kepada saya CEO Samsung Asia Gregory Lee mengatakan bahwa di Indonesia Smart TV lebih relevan kepada rumah tangga yang memiliki jaringan internet di rumahnya.

”Namun kedepannya, kami ingin memberi benefit smart TV bagi konsumen yang tidak memilikinya. Tim R&D kami sedang mencari cara untuk melakukan itu,” katanya.

Menurut Lee, Smart TV punya market share-nya sendiri, walau kecil. Nantinya ia berjaji akan ada lebih banyak konten lokal Indonesia di Smart TV. ”Kami bekerja sama dengan penyedia layanan TV kabel, kami juga akan membawa konten berupa film atau serial TV. Kami juga akan mengenalkan layanan K-Pop ke Indonesia,” bebernya. (*)