</a>Setelah plasma, LCD, dan LED, kini teknologi pada layar televisi masuk babak baru. Dalam pameran Consumer Electronic Show (CES) di Las Vegas, perusahaan TV terbesar dunia seperti Samsung dan LG mengenalkan teknologi layar televisi yang disebut OLED.

OLED atau organic light emitting diode, sebenarnya bukanlah teknologi yang benar-benar baru. OLED sudah banyak digunakan oleh smartphone lantaran konsumsi daya yang rendah, ukuran supertipis, serta kemampuannya menampilkan gambar tajam, warna cemerlang, dan hitam yang sempurna.

Tapi, sebelum CES 2012, belum ada satu vendor pun yang dapat membawa teknologi OLED ini ke layar HDTV yang umumnya berukuran besar-besar itu. Sony sebenarnya sudah melihat potensi OLED sejak 2007. Sayangnya, mereka hanya mampu menciptakan layar OLED untuk HDTV berukuran maksimal 11 inci. Harganya pun teramat mahal saat itu: mencapai USD2,500.

Nah, dalam CES 2012 akhirnya para vendor elektronik menemukan cara untuk membuat OLED bisa mencapai ukuran HDTV yang sangat besar: 55 inci. TV berlayar OLED ini muncul dalam booth milik Samsung dan LG dan langsung mencuri perhatian. Teknologi OLED berbeda dengan LCD, karena setiap piksel bisa menyala dengan sendirinya. Pada teknologi ILCD atau LED-backlit, gambar dibentuk di lapisan liquid crystal. Lantas dinyalakan dengan LED di sisi atau bagian belakangnya.

Nah, OLED tidak memilik backlight. Sehingga piksel-nya sendiri memang hitam. Yang membuat warna hitam layar jadi muncu benar-benar hitam, serta konsumsi dayanya pun semakin berkurang. Tak hanya itu, OLED milik ini begitu tipisnya, hingga ketebalannya hanya 0,6 inci. TV yang jauh lebih jernih dan memiliki akurasi warna presisi itu juga sudah dibekali dengan teknologi smart interaction, Samsung Apps, 3D, serta multitasking. Layar OLED juga memiliki sudut pandang yang lebih lebar, yang tidak dimiliki LCD.

Hanya saja, baik Samsung maupun LG belum mengumumkan soal harga maupun kapan model ini menyapa pasar. LG hanya menyebut bahwa ketersediaan TV ini adalah di kuartal keempat, sedangkan Samsung tidak menyebut waktu pasti. Para analis menilai bahwa harganya bisa mencapai Rp50 juta-Rp100 jutaan per unit.

Yang berbeda justru terasa saat saya berjalan ke booth milik Sony. Vendor TV asal Jepang itu juga memamerkan teknologi TV baru yang menggunakan teknologi layar Crystal LED, bukan panel OLED, walau sebenarnya cara kerjanya kurang lebih sama.

Menurut Sony, teknologi terbaru ini menawarkan kontras 3,5 kali lebih baik, warna lebih baik 1,4 kali, dan waktu respon 10x lebih baik dibandingkan panel LCD. Sayangnya, teknologi crystal LED milik Sony ini masih menjadi prototip dan belum ada jadwal rilis resmi. Yang pasti, para analis memperkirakan bahwa layar OLED ini akan menjadi persaingan baru bagi industri HDTV.

Salah satu eksekutif LG, misalnya, mengatakan bahwa pihaknya menargetkan penjualan sebesar 200.000-300.000 unit TV OLED tahun ini dan 2 juta unit pada 2013 mendatang.

Dalam setiap perhelatan CES, teknologi TV terus menerus mendapat perbaikan. Selain OLED, para vendor juga terus mendorong penjualan 3D TV mereka. Desain TV juga semakin terus dibuat semenarik mungkin, yang misalnya hanya memiliki bezel hanya 1 mm. TV 3D juga semakin diperlebar ukurannya menjadi 60 inci, 72 inci, dan 84 inci.

Tentu saja, yang tidak ketinggalan adalah fenomena Smart TV. Yakni, TV yang bisa sepintar smartphone. Mulai dari mengakses berbagai kontent, mengupdate status dan jejaring sosial langsung dari TV, hingga mengontrol TV dengan berbagai cara seperti gerakan tubuh ataupun perintah suara.