Infiniti FX 37
Infiniti FX 37
Bukan hanya tampangnya yang intimidatif. Dapur pacu sebesar 3.700 cc membuat Infiniti FX 37 menjadi sangat agresif. Inilah mobil sport dengan fungsionalitas SUV.

Wajar jika belum banyak yang mengenal lini produk Infiniti FX. SUV Crossover ini baru menyapa pasar Indonesia pada Maret 2011 silam. Ketika mengajak Infiniti FX 37 mengarungi Jakarta-Bandung-Lembang, beberapa kali saya mendapat pertanyaan dari orang. Baik soal harga, ketersediaannya di Indonesia, hingga keterkaitan nama Infiniti dengan Mazda.

Tentu saya jawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan senang hati. Saya jelaskan bahwa Infiniti Indonesia merupakan kolaborasi Indomobil Group dengan PT Nissan Motor Indonesia (NMI).

Infiniti bagi Nissan ibarat Lexus untuk Toyota. Inilah versi mewah Nissan yang bersaing langsung di segmen yang dihuni oleh raksasa Jerman seperti Mercedes-Benz, BMW, serta Audi. Infiniti FX 37 seharga Rp1,150 miliar yang saya coba, misalnya, memiliki lawan tanding Lexus RX 350, BMW X3, Mercedes Benz ML 350, serta Audi Q5.

Tentu seri FX punya perbedaan signifikan dibandingkan rival-rivalnya itu. Selain bodinya yang bongsor, desain bonnet panjangnya juga intimidatif. Ibarat seekor citah bionik yang siap menerkam mangsanya.

Lampu depannya sipit, sedangkan grill lebar dan tegas terlihat seperti sedang menyeringai dan menunjukkan gigi-gigi tajamnya. Velg berukuran 20 inci dan dua knalpot di bagian belakang menambah kesan kekar. Jelas FX 37 bukanlah crossover kebanyakan.
Kesan yang ditonjolkan adalah agresif-sporty dan buas, jauh berbeda dengan kesan urban, elegan, dan luks yang dimiliki oleh Lexus dan BMW. Akibatnya, jangan heran jika mobil ini cepat mencuri perhatian.

Memang, tidak semua suka dengan desain yang ”tidak biasa” ini. Entah Anda akan sangat menyukainya, atau malah benar-benar membencinya. Terus terang, saya termasuk yang suka.

Tentu saja sebagai mobil premium, material, desain, serta bahan yang digunakan sangat berkelas. Sentuhan kayu ditemui di dashboard dan panel pintu. Tombol-tombol di center console cukup banyak dan perlu beberapa menit untuk terbiasa menavigasikannya. Yang unik mungkin keberadaan jam analog yang menambah kesan classy dan eksklusif. Ada juga tombol penghangat/pendingin di kursi.

Tempat duduk pengemudi sesuai ekspektasi. Jok kulitnya nyaman memeluk punggung. Tuas kemudinya mantap, disertai tilt steering elektrik serta pengaturan jok 8 arah. Membandingkannya dengan Mercedes Benz ML 350 atau pun Lexus RX350 yang elegan, perasaan yang saya dapat adalah agresi. Begitu duduk, rasanya ingin cepat-cepat membawa mobil ini melesat.

Sayangnya seperti yang saya duga sebelumnya, visibilitas mobil ini sedikit bermasalah. Visibilitas terganggu oleh bonet yang panjang, bodi yang besar, pilar A yang lebar, serta dinding pintu depan yang tinggi. Harus hati-hati ketika membawa mobil ini di jalanan kota Bandung yang sempit dan macet. Sensor 8 titik dan rear camera memang membantu, tapi kewaspadaan ekstra tetap harus ada.

Menanjak di Cipularang

Saya sengaja menempuh rute agak jauh untuk menjajal performa mesin 3.7L V6 yang mampu memompa tenaga sebesar 320 daya kuda itu. Memang hasilnya sepadan, rute yang jauh membuat kenikmatan berkendara lebih terasa. Terasa nyaman dan percaya diri.

Mesin 3.700 dengan 7 percepatan membuat kaki kanan gatal untuk menginjak gas. Jika butuh putaran mesin dan torsi tinggi, tinggal naik-turunkan saja paddle-shift. Rasakan perpindahan gigi yang amat smooth, nyaris tidak ada sentakan berarti.
Ini yang saya lakukan di tol Cipularang. Mobil memberi kepercayaan besar untuk berakselerasi, mengerem, mengambil jalur, berakselerasi lagi. Nikmat sekali.

Ketika hujan turun dengan derasnya pun, kepercayaan diri tidak ikut menurun karena ada teknologi Intelligent All-Wheel Drive. Teknologi ini mampu menggeser jumlah daya yang dibutuhkan di tiap-tiap poros roda sesuai kondisi mengemudi.
Dalam kondisi biasa, misalnya, hanya dua roda yang bergerak. Tapi, jika mobil merasa kehilangan traksi pada poros utama, daya pun digeser ke roda yang lain, memberikan sensasi 4WD sementara.

Dan tenaganya, ya ampun, mobil seberat 2 ton ini mampu menanjaki bukit-bukit tol Cipularang dengan kecepatan 140 kilometer/jam tanpa ada effort berarti. Luar biasa.

Yang terasa mengganggu adalah suspensi mobil yang sangat keras. Begitu kerasnya hingga melintasi kawasan Lembang yang tidak rata itu dengan kecepatan 40 km/jam sudah membuat tubuh terasa berguncang-guncang.

Memang suspensi yang keras ini membuat pengendalian makin presisi, responsif, sekaligus meminimalisasi gejala limbung di tikungan. Tapi, dibandingkan saat saya mengendari Mercedes-Benz ML350 atau Lexus RX350 yang terkenal lembut itu, kenyamanan jadi berkurang secara drastis.

Tapi, bisa jadi FX 37 adalah mobil yang lebih berorientasi ke pengemudi. Kenikmatan berkendara bagi pengemudi diutamakan, mengoptimalkan kenyamanan untuk berakselerasi dan menukik.

Toh, rasanya pembeli FX 37 sudah terlebih dulu memiliki sebuah sedan atau MPV premium dirumahnya. Inilah mobil kedua atau ketiga yang digunakan untuk ngebut di jalan tol di pagi hari ketika belum padat atau mungkin bertemu dengan relasi bisnis. danang arradian

Infiniti FX 37
Harga on-the-road : Rp1,15 miliar
Panjang/wheelbase: 4.865/2.855 mm
Lebar/tinggi: 2.134/1.680 mm
Mesin/kapasitas: V6/3.696 cc
Tenaga maksimum: 320 dk/7.000 rpm
Torsi maksimum: 360 Nm/5.200 rpm
Transmisi: 7-spd auto/awd
Kapasitas tangki/bagasi/ban serep: 90/410 liter/space saver
Bobot: 2.012 kg
Akeselerasi 0-100 km/jam : 7,12 detik

Kompetitor :
Lexus RX 350, Audi Q5, Mercedes-Benz ML350, BMW X3