Model memperlihatkan produk Ultrabook Acer Aspire S3.Para analis dan lembaga survei sepakat bahwa masa depan PC sudah di-ujung tanduk. Faktanya, penjualan PC dan notebook terus menurun setiap tahun. Kini mereka menumpukan harapan pada subgenre baru yang disebut Ultrabook.

Istilah Ultrabook memang digunakan untuk mendefinisikan komputer jinjing yang dipangkas ukuran dan beratnya, namun justru bertambah fitur dan performanya. Lebih detil lagi, Intel Corp. menggambarkan Ultrabook sebagai notebook PC yang lebih tipis dari 2 cm (0,8 inci), dibekali memori flash (SSD), dapat langsung menyala ketika lid dibuka, serta memiliki daya tahan baterai antara 5-8 jam.

Apa bedanya dengan netbook? Ada beberapa. Selain menggunakan keyboard normal (full sized), prosesor Ultrabook juga setara notebook yang memiliki performa tinggi. Sehingga dapat bekerja dengan sistem operasi terbaru seperti Windows 7. Apple sebenarnya sudah masuk ke subgenre ini sejak empat tahun lalu. Mereka meluncurkan MacBook Air yang supertipis itu pada Januari 2008.

Ternyata, saat ini kebutuhan akan notebook yang powerful dan benar-benar mobile tidak hanya milik Apple fanboy (pengguna fanatik Apple) saja. Kepraktisan dan keringkasan tablet membuat konsumen lebih sensitif terhadap ukuran. Mereka merasa laptop yang ada di pasar sekarang terlalu bulky: besar dan berat. Konsumen menginginkan sebuah laptop yang berkinerja tinggi namun memiliki dimensi sepraktis tablet.

Tentu saja, sudah banyak vendor yang menghadirkan laptop tipis dan punya performa tinggi seperti itu. Tapi, baru sekarang lah laptop tipis dan canggih itu bisa menyentuh harga dibawah Rp10 jutaan, rentang harga dengan market share terbesar. Bahkan pada 2012 nanti harga Ultrabook diperkirakan menyentuh Rp7 jutaan, menciptakan segmen pasar yang lebih besar lagi.

Hal ini yang diungkapkan oleh chairman Acer T.J Wang. Wang berpendapat, jika harga Ultrabook nanti berada di kisaran Rp7 jutaan, maka produk tersebut dapat bersaing dengan produk seperti MacBook Pro, MacBook Air, atau bahkan tablet. karena itu, banyak analis berpendapat bahwa 2012 akan menjadi era baru bagi Ultrabook. Era ketika laptop tebal dan berat mulai ditinggalkan.

Top eksekutif Intel Corp. Sean Maloney memprediksi bahwa pada akhir 2012 nanti 40 persen dari laptop yang ada di pasaran adalah Ultrabook. Pendapat serupa diungkapkan Direktur Marketing Intel Asia Selatan Sandeep Aurora. ”Ultrabook akan mengubah tren komputasi pada 2-3 tahun mendatang,” katanya.

Saat ini pun Intel sedang mendesain mikroprosesor 22-nanometer (nm) untuk Ultrabook yang disebut Ivy Bridge. Ivy Bridge jauh lebih ringkas dibanding Sandy Bridge yang banyak digunakan di Ultrabook saat ini.

Chip yang akan dirilis pada semester pertama 2012 itu di desain untuk memberikan performa setara notebook, namun memiliki konsumsi daya tak berbeda dengan tablet lewat arsitektur transistor 3D Tri-Gate. Intel menyediakan dana sebesar USD300 juta untuk mengembangkan teknologi pendukung Ultrabook ini.

Juru Selamat
Ultrabook dianggap sebagai subenre yang memiliki peranan besar di industri komputer masa depan. Tapi, seberapa masif? IHS iSuppli memprediksi bahwa penjualan Ultrabook bakal mencapai 136,5 juta unit pada 2015 atau merampas 43 persen market share notebook. Padahal, menurut IHS tahun ini saja market share Ultrabook baru mendekati 1 juta unit atau hanya 2% dari total penjualan notebook. Namun pada 2012, market share notebook tipis itu diprediksi meningkat hingga 13%, kemudian 28% pada 2013, dan 38% pada 2014.

Kehadiran Ultrabook ibarat juru selamat bagi industri PC yang permintaannya terus menurun di seluruh dunia. Tablet seperti Apple iPad atau Samsung Galaxy Tab memang tidak secara langsung ”membunuh” pasar PC. Tapi, para analis menilai tablet membuat penjualan laptop jauh menurun, terutama genre laptop kompak seperti netbook.

”Untuk bisa bersaing dengan tablet, notebook PC harus lebih tampil seksi dan menarik bagi konsumen,” ujar Matthew Wilkins, analis IHS. ”Ultrabook menjadi seksi karena memiliki form-factor dan user-interface ala tablet,” ia menambahkan. Bahkan, bukan tidak mungkin tahun depan akan muncul produk Ultrabook berlayar sentuh dan bisa dilepas dari keyboard-nya. Sebuah produk yang akan mengaburkan batas antara PC dan tablet.

Bisa jadi pula, Windows 8, sistem terbaru Microsoft yang bisa bekerja di PC dan tablet itu, mulai menunjukkan tajinya. Windows 8 akan diluncurkan tahun depan, bertepatan dengan booming Ultrabook.

Len Jelinek, direktur penelitian dan analis IHS melihat bahwa Ultrabook akan merubah paradigma industri komputasi. ”PC akan terus menemukan cara agar tetap relevan dengan teknologi yang ada. Dulu ada laptop. Kemudian netbook. Dan sekarang Ultrabook,” katanya.

Kompetitor MacBook Air
Siapa saja pemain besar genre Ultrabook? Brian Marshall dari International Strategy & Investment Group (ISI) melihat bahwa Apple tetap akan memimpin pasar Ultrabook dengan MacBook Air. Diperkirakan Apple akan menjual 6,3 juta unit MacBook Air pada 2011, 8,4 juta unit di 2012, dan 10,4 juta unit pada 2013. Kendati demikian, market share MacBook Air diprediksi akan tergerus dari 89% pada 2011 menjadi 46% di 2012.

Penyebabnya, karena semakin banyak manufaktur komputer yang akan masuk ke lini Ultrabook. Tahun depan, Marshall memprediksi bahwa produksi Ultrabook non-Apple akan mencapai 10 juta unit atau 54 persen dari seluruh pasar Ultrabook global.

Pesaing terbesar Apple di segmen ini adalah Hewlett-Packard (HP) dan Lenovo dengan perkiraan penjualan 2,2 juta unit dan 2 juta unit pada 2012, serta 5,4 juta unit dan 4,3 juta unit pada 2013. Lainnya itu, masih ada vendor seperti Toshiba, Acer, dan Asus.

Bahkan, menurut Marshall, gempuran kompetitor Apple di segmen Ultrabook akan lebih dahsyat dibandingkan serangan Android di iPad. ”Apple akan sulit untuk menjaga kepemimpinannya di segmen Ultrabook,” ujarnya. Prediksi ini mulai terlihat di pameran Consumer Electronics Show (CES) yang akan berlangsung di Las Vegas pada 10-13 Januari 2012 mendatang. Di pameran itu akan diluncurkan 30-50 produk Ultrabook baru. Jika pada 2011 tema CES adalah “Perang Tablet”, bisa jadi tema CES tahun ini adalah ”Perang Ultrabook”.

Di Indonesia, Ultrabook non-Apple sudah beredar di pasaran. Yang terbaru adalah Portege Z830 keluaran Toshiba. Sedangkan Acer sudah terlebih dulu merilis seri Aspire S3, disusul Asus yang meluncurkan Zenbook. Jadi, apakah Anda siap beralih ke Ultrabook?

Ultrabook di Indonesia

Macbook Air
Apple mengenalkan MacBook Air pada 2008. Tapi, Ultrabook ini baru laris setelah harganya dipangkas pada Oktober 2010. MacBook Air populer karena ringan, menggunakan Solid State Drive (SSD), dan daya tahan baterai lama. Pada Juli 2011, MacBook Air kembali disegarkan dengan prosesor baru Sandy Bridge. Pada September, penjualan MacBook Air diperkirakan mencapai 49 persen dari total penjualan notebook Apple di kuartal ketiga.

Toshiba Portege Z830
Menggunakan prosesor Intel Core i5 dan i7 ultra low voltage (ULV) dan RAM 6 GB, ketebalan Portege Z830 hanya 14,99 mm. Beratnya hanya 1,12 kg, memiliki SSD 128 GB. Casingnya terbuat dari magnesium alloy yang ringan dan kuat. Sementara desainnya disebut honeycomb rib yang tahan goncangan dan air. Layarnya 13,3 inci beresolusi 1.366 x 768 piksel. Baterainya diklaim bertahan hingga 8 jam. Dan butuh 2 detik untuk menyala dari posisi mati. Harganya USD1.429 untuk Core i5 dan USD1749 untuk Core i7.

Acer Aspire S3
Aspire S3 diluncurkan di Indonesia pada akhir September silam. Layarnya 13,3 inci. Desainnya dibungkus dengan kerangka magnesium kokoh. Tebalnya hanya 13 mm, sementara beratnya kurang dari 1,4 kilogram. S3 masih menggunakan HDD sebesar 500 GB. Harga Aspire S3 dikisaran Rp7 jutaan.

Asus Zenbook
Asus Zenbook memiliki desain cantik. Beratnya hanya 1,1 kg, dengan ketebalan antara 3 mm (depan) dan 9 mm (belakang). Hadir dalam dua ukuran, 13,3 dan 11,6 inci, masing-masing diperkuat oleh prosesor Intel Core i5. Instan On yang memungkinkan pengguna hanya membutuhkan waktu 2 detik untuk menyalakan. Penyimpanannya memakai SATA SSD dan USB 3.0. Harganya untuk UX31 USD1.199 (13 inci) dan UX21 USD1.099 (11,6 inci).

Iklan