Penjualan smartphone Samsung yang tembus 300 juta di seluruh dunia. Sebagai pemimpin pasar smartphone di Indonesia, Samsung semakin fokus ke pengembang aplikasi/developer lokal. Pengembang diberi ruang, moda pembayaran pun disempurnakan.

Dengan lebih dari 1.000 pengembang aplikasi yang terdaftar di komunitas ID-Android, potensi pengembang aplikasi lokal amatlah besar. Sayangnya, problem yang dihadapi para developer rata-rata serupa: banyak yang memiliki ide cemerlang tapi kesulitan dalam berpromosi serta memonetisasi serta produk mereka.

”Kebanyakan developer bujetnya terbatas. Sulit untuk mengenalkan aplikasi lokal ke user yang jadi target market mereka, mengingat di Android Market sendiri ada ratusan ribu aplikasi,” kata Agus Hamonangan dari komunitas ID-Android.

PT Samsung Electronics Indonesia (SEIN) mencoba menjembatani hal ini melalui SamsungApps. Fitur yang sebenarnya sudah lama ada di handset Samsung ini dimaksimalkan fungsinya.

SamsungApps menjadi sebuah portal atau hub, dimana pengguna bisa langsung mengunduh beragam aplikasi maupun game buatan pengembang lokal Indonesia.

Untuk sementara memang baru ada 20 pengembang lokal yang menyertakan produknya. Seperti Chicken Strip, Urbanesia, Wayang Force, hingga Ngaturduit.com. Tapi tahun depan diperkirakan jumlahnya akan jauh lebih besar.

Kepada saya, SamsungApps Manager PT SEIN Pambudi Baskara Sudirman menjelaskan manfaat ganda yang di dapat pengembang saat menyertakan aplikasinya di Samsung Apps.

Pertama, aplikasi mereka bisa langsung sampai ke pengguna Android Samsung yang terbesar di Indonesia itu. Keuntungan kedua, kini para pengembang bisa benar-benar menjual aplikasi mereka.

Sebab, PT SEIN telah menyiapkan payment gateway yang disebut dengan Samsung Point. Top up Samsung Point ini untuk sementara hanya bisa dilakukan melalui ATM. Namun, tahun depan PT SEIN akan mengintegrasikan Samsung Point dengan kartu kredit, online banking, paypal, dan lainnya.

Harga 1 Samsung Point adalah Rp1.000. Pengguna butuh sekitar 5-10 point untuk membeli sebuah aplikasi. Selain membeli, pengguna juga bisa ”berlangganan” sebuah aplikasi senilai 1 point sehari dengan sistem yang disebut revenue sharing subscription.
Keuntungan ketiga adalah pembagian keuntungan yang 70 persen untuk pengembang. ”30 persen sisanya akan kami putar lagi sebagai bujet marketing,” ujar Pambudi.

Dengan sistem pembayaran yang matang dan tersedianya ruang untuk memasarkan aplikasi, bukan tidak mungkin SamsungApps akan menarik banyak minat pengembang. ”Sayang jika pengembang hanya memasarkan aplikasinya di Android Market. Padahal Samsung sendiri memiliki media yang sangat mendukung mereka,” paparnya.

Yang menarik, Samsung Point ini juga menjadi moda pembayaran bagi e-reading, aplikasi untuk membaca majalah, tabloid, koran, dan buku (e-book) di media tablet dan smartphone Samsung.

Belum lama ini PT SEIN memang bekerja sama dengan Scoop untuk menghadirkan aplikasi e-reading yang lebih baik dari segi fitur dan tampilan. Versi terbaru yang berisi 1.000an konten buku maupun majalah ini baru tersedia secara embbeded di Samsung Galaxy Note. Namun, kedepannya akan tersedia pula di Galaxy Tab 10,1, Galaxy Tab 8,9, dan Galaxy Tab 7.0 plus.

Harga buku atau majalah ini berkisar antara 10-30 point. Sedangkan publikasi terbuka dari application programming interface (Open API) dari Samsung Point baru akan dilakukan Januari depan.

Study yang dilakukan Pew Research dan The Economist Group pada Oktober 2011 silam menunjukkan bahwa 17 persen pengguna tablet di Amerika menggunakan tablet mereka untuk membaca buku. Diperkirakan pada 2012 mendatang membaca buku atau majalah di tablet menjadi sesuatu yang trendi dan banyak dilakukan.

Yoris Sebastian, Chief Creative Office OMG Consulting misalnya, mengaku sangat menggemari e-reading. ”Saya sudah menggunakan Zinio sejak 2006 di komputer. Kemudian beralih ke e-reader untuk membeli majalah seperti Bussinesss Week ataupun Fortune. ”Selain pilihan majalahnya banyak, e-reading juga praktis karena tidak perlu dibawa-bawa,” ujar Yoris.

Menurut SamsungApps Manager PT SEIN Pambudi Baskara Sudirman, tahun 2012 akan menjadi tren menarik bagi pengembang aplikasi Android.
Diprediksi pengembang akan mengarah pada aplikasi-aplikasi yang sifatnya lokal. Misalnya berkaitan dengan kota atau kawasan tertentu. Meski aplikasi game akan tetap dominan, tapi tren lain yang akan muncul adalah banyaknya aplikasi general yang dilokalkan.
”Misalnya aplikasi untuk utilitas, produktifitas, dan lainnya yang hadir dalam bahasa Indonesia dan disesuaikan dengan kebutuhan di Indonesia,” katanya.

Yang paling menarik dan sudah terjadi saat ini adalah banyaknya perusahaan yang menggunakan aplikasi untuk mendukung pemasaran
ataupun promosi. BlueBird Group adalah contoh yang paling menarik. Menggunakan aplikasi Android BlueBird, pelanggan tidak perlu melakukan antri saat memerlukan jasa taksi di berbagai area publik.

Pambudi juga menilai, tahun depan banyak pengembang aplikasi yang akan menikmati pesatnya perkembangan industri ini. ”Akan banyak pengembang yang mendapatkan suntikan data besar dari investor,” katanya.

Saat ini pun sudah ada developer Indonesia yang sukses lewat aplikasi. Contoh yang paling nyata adalah Anton Suharyo, founder Touchten. Aplikasi buatannya yang diberi judul Sushi Chain dan Free Kick di-download ribuan kali.

Di masa depan, smartphone memang bukan hanya soal hardware. Namun, menurut Head of Corporate Marketing PT SEIN Willy Bayu Santosa, justru keberadaan aplikasi bisa meningkatkan dan mempermudah hidup dan aktifitas keseharian para penggunanya.
”Kedepannya apapun dapat dilakukan oleh smartphone. Mulai mengatur jadwal, mencatat pengeluaran dan pemasukan, memesan tiket, memboking tempat di restoran, dan banyak lainnya,” ujar Willy.

Perkembangan penetrasi smartphone Android di Indonesia tahun 2011 ini memang cukup luar biasa. Nielsen memprediksikan bahwa pada 2012 akan ada 67% pengguna smartphone di Indonesia dari total populasi pengguna ponsel. Artinya, akan semakin banyak pengguna meninggalkan feature phone dan beralih ke smartphone.