Mike Usmar, CEO Computer Clubhouse Trust, New Zealand bersama Veronica Colondam, CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB)
Mike Usmar, CEO Computer Clubhouse Trust, New Zealand bersama Veronica Colondam, CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB)
Mengagregasi benefit teknologi kepada masyarakat luas menjadi tema utama Microsoft Accelerating Asia Pacific 2011 di hotel Royale Chulan, Kuala Lumpur, Malaysia, 6-7 Desember silam.

Dalam konferensi yang sudah kedua kalinya digelar itu Microsoft berbagi cerita dan wawasan tentang program Citizenship mereka, yakni bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memberikan perubahan sosial dan ekonomi yang positif di region Asia Pasifik. Citizenship memang menjadi bagian dari program CSR Microsoft untuk mengatasi masalah sosial sekaligus menciptakan kesempatan ekonomi baik dalam skala lokal maupun global melalui kerjasama dalam bentuk inovasi teknologi.

Hadir dalam konferensi tersebut para pemimpin industri teknologi, pemerintah, serta perwakilan dari sektor non profit sebagai mitra kerja Microsoft dalam bidang seperti pendidikan, perlindungan anak, sosial ekonomi, lingkungan, dan lainnya. ”Kami menunjukkan bagaimana mitra kerja Microsoft di pemerintah maupun kalangan sipil menciptakan upaya nyata terhadap hari esok yang lebih baik,” tandas Clair Deevy, Community Affairs Lead Asia, Microsoft.

Presentasi dari berbagai panelis memperlihatkan bagaimana teknologi Microsoft bisa melebur dan mengakselerasi kebutuhan dari setiap individu, kolektif, komunitas, dalam negara yang berbeda-beda.

Di India, Microsoft Research meluncurkan alat pembuatan konten multibahasa bagi Wikipedia yang disebut WikiBhasha. WikiBhasha adalah aplikasi open source berbasis browser yang memungkinkan para kontributor Wikipedia menemukan sebuah konten, menerjemahkan konten dalam bahasa lain, serta menyusun artikel baru atau memperbaiki artikel yang sudah ada di Wikipedia multibahasa.

Nama WikiBhasha berasal dari istilah ”wiki” yang menunjukkan kerjasama dan ”bhasha” yang berarti ”bahasa” dalam bahasa Hindi dan Sansekerta. ”Kami berhadap dapat menginspirasi publik untuk menciptakan konten multibahasa di Wikipedia,” ujar Edward Cutrell dari Microsoft Research India.

Teknologi lain yang dikembangkan Microsoft Research India adalah CGnet Swara (Chhattisgarh Net Voice), sebuah portal suara untuk mengakomodir jurnalisme warga di India. CGnet Swara memungkinkan penduduk desa di area paling terpencil sekalipun dapat berbicara satu sama lain serta mendapat berita dari dunia luar. Warga bisa bisa melaporkan berita dalam bentuk rekaman suara. Laporan itu lantas diseleksi oleh moderator dan kemudian diunggah kembali lewat web Cgnetswara.org.

Faktanya, sebuah survey yang dilakukan lembaga riset Charkha di New Delhi menunjukkan bahwa hanya ada 2 persen porsi berita di media mainstream yang mengulas isu-isu keseharian penduduk miskin dan terabaikan di India. Dampak dari teknologi Microsoft terhadap masyarakat memang bisa sangat masif.

Engkoo adalah aplikasi penerjemah bahasa untuk membantu warga China belajar bahasa Inggris. Dikolaborasikan dengan Bing, Engkoo dapat menerjemahkan berbagai websiter berbahasa Inggris ke dalam bahasa China. ”Istimewanya, Engkoo tidak hanya menerjemahkan per kata, tapi dapat mengenali suku kata dan kalimat,” ujar Jonathan Tien, Director of Engineering, Microsoft Research Asia, Microsoft Corporation. Saat ini situs Engkoo mendapat 2,9 juta kunjungan per harinya.

Manfaat teknologi terhadap perbuahan hidup ini pula yang dirasakan oleh Tan Siew Ling dari Society for the Physically Disabled (SPD). Melalui program Microsoft Citizenship, gadis tuna netra ini mendapat kesempatan untuk bisa menggunakan komputer. Bahkan, saat ini Tan dapat mengetik dokumen word hingga menulis di Powerpoint seperti layaknya gadis normal.

Anak muda memang menjadi bagian dari target Microsoft Citizenship. Lori Harnick, Worldwide Head of Corporate Citizenship, Microsoft, mengatakan bahwa anak muda adalah masa depan Asia Pasifik.

Melalui anak muda pula Veronica Colondam, Founder/CEO organisasi independen non profit, Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), merasa teknologi merupakan hal penting yang perlu dikembangkan untuk kemajuan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia.

”Dengan teknologi dan edukasi, kami mendorong mendorong kemandirian remaja untuk bisa bersaing di dunia kerja, ataupun merintis usaha kecil bagi mereka yang memiliki bakat wirausaha,” ujar Veronica yang juga menjadi salah satu panelis di Microsoft Accelerating Asia Pacific 2011.

Bersama Microsoft, YCAB meluncurkan Community Technology Center (CTC) yang disebut House of Learning and Development (HoLD) atau Rumah Belajar. CTC yang telah tersebar di berbagai kota di Indonesia ini dibangun untuk memberi pelatihan keterampilan berbasis teknologi informasi bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu atau putus sekolah.

Rumah Belajar memberikan pendidikan komputer dengan materi berbasis program Microsoft (Word, Excel, Powerpoint) dalam tiga tingkatan kelas mulai dari kelas Pre Basic, Basic, dan Intermediate. Sedangkan penerbitan sertifikat kelulusan akan dikeluarkan oleh Universitas Bina Nusantara melalui Binus Center.

Veronica mencontohkan bagaimana salah satu lulusan HoLD bernama Fitri yang tadinya putus sekolah merintis karir sebagai karyawan di sebuah restoran makanan siap saji. ”Sekarang ia sedang menjalani training di Singapura. Itulah yang kami lakukan, memberikan kesempatan dan harapan dengan teknologi,” ujarnya.

Hal ini senada dengan apa yang diungkap oleh Director of Corporate Affairs Microsoft Indonesia Chrisma Albandjar. ”Kami percaya dengan inovasi dan teknologi Indonesia dapat mencapai visi sebagai masyarakat yang berbasis pengetahuan,” tuturnya.