Kim Evangelista dan software ciptaannya
Kim Evangelista dan software ciptaannya
Teknologi natural user interface (NUI) pada Microsoft Kinect ternyata tidak hanya digunakan untuk bermain game. Dalam perhelatan Accelerating Asia Pasific 2011 di Kuala Lumpur, Malaysia, 6-7 Desember silam Microsoft memperlihatkan bagaimana NUI bisa menyentuh bidang-bidang vital seperti pendidikan, kesehatan, hingga public sector seperti keamanan dan terorisme.

Sejak 16 Juni 2011 silam Microsoft memang secara aktif mengajak para pengembang aplikasi, akademisi, ilmuwan, serta publik untuk mengesplorasi teknologi NUI lebih jauh dengan diluncurkannya Kinect for Windows Software Development Kit (SDK).

Kinect yang dikenalkan sebagai salah satu aksesoris dari konsol Xbox 360 dianggap sebagai teknologi yang melebihi zamannya karena mampu mendeteksi gestur dan gerakan pemain menjadi perintah dalam video game.

Maka dalam enam bulan terakhir ini bermunculan aplikasi NUI yang digunakan dalam berbagai bidang. Dalam presentasinya di Accelerating Asia Pasific 2011, Lynne Stockstad, General Manager, Worldwide Public Sector, Microsoft Corporation, memperlihatkan bagaimana dokter menggunakan Kinect untuk melihat hasil rontgen tanpa perlu meninggalkan ruang operasi. Ia memilah-milah foto rontgen dari pasian hanya dengan menggerakkan lengannya dari kiri ke kanan.

Hal ini pula yang dilakukan Kim Evangelista, pengembang aplikasi asal Singapura yang juga memenangkan kompetisi Microsoft Imagine Cup 2011. Terinspirasi neneknya yang meninggal karena stroke, Kim bersama keempat temannya dari Temasek Polytechnic Singapura mencoba untuk mengembangkan aplikasi NUI Kinect Healtcare Solution untuk penderita stroke.

Para penderita stroke mengalami kelumpuhan pada salah satu bagian tubuhnya. Dalam proses penyembuhan, mereka belajar untuk menggerakkan bagian tubuh yang lumpuh itu.

Bermodal sebuah Kinect, laptop, serta monitor LCD Kim mendemonstrasikan bagaimana TARA (Therapy and Rehabilitation) bekerja melakukan analisis terhadap gerakan pasien. Kincet mampu melacak seluruh tubuh, mengukur 13 sendi utama manusia lebih efisien dan akurat. Dalam pengembangannya, Kim mengontak rumah sakit dan pusat rehabilitasi. ”Kami bertanya apa yang mereka butuhkan. Dari input itu kami ubah jadi aplikasi, dan terus mendapat koreksi. Prosesnya repetitif,” bebernya.

Mulanya Kim dan tiga orang rekannya sudah menggunakan webcam, wii dan alat lainnya untuk mengembangkan aplikasi. Namun, mereka akhirnya memutuskan menggunakan Kinect. “Kinect memberi apa yang kami butuhkan,” ujarnya.

Maklum, karena berhubungan dengan kesehatan, maka aplikasi yang dikembangkan harus memenuhi standar keamanan medis. Saat ini TARA sudah final dan sedang menunggu uji klinis untuk mendapat sertifikasi medis.

Pada akhirnya, Kim berharap pasien dapat melakukan rehabilitasi secara remote. Ketika dokter dapat mengontrol pasien mereka dari kantor, sementara pasien dapat menjalani rehabilitasi dirumah. ”Dengan adanya kemajuan teknologi, hal ini sangat mungkin terjadi,” katanya.

Diakui KIM, NUI adalah teknologi yang mengubah bagaimana cara manusia berinteraksi dengan komputer. ”Dimulai dengan keyboard dan mouse, sentuhan, dan sekarang hanya menggunakan tubuh. Ini akan berdampak pada kehidupan manusia,” bebernya. Kim dan Timnya juga sudah punya rencana besar. Bukan tidak mungkin ia bersama timnya akan membuat aplikasi berbeda untuk penyakit yg berbeda pula. ”Jika Kinect sudah terbukti berhasil membantu para penderita stroke, maka akan bisa digunakan di-aplikasi lainnya,” katanya.

Iklan