Lini produk Asha yang dikenalkan di ajang Nokia World Oktober 2011 silam punya maksud tegas. Inilah ponsel low-end yang mengaburkan batas antara feature phone dan smartphone.

Asha yang menyasar langsung emerging market di desain untuk menghubungkan semiliar pengguna ponsel berikutnya ke internet. Faktanya, dari 3,7 miliar pengguna ponsel di dunia, 1,2 miliar tidak memiliki peramban web/web browser. Sehingga fungsi ponsel hanya untuk menelpon dan ber-SMS.

China dan India mungkin menjadi emerging market terbesar. Namun, awal tahun ini Chairman dan CEO JP Morgan Chase & Co Jamie Dimon mengatakan bahwa Indonesia adalah negara nomor satu dalam emerging market dunia. Karena itu, Indonesia mendapat kehormatan menjadi negara pertama di dunia yang dapat menikmati Asha 303, seri tertinggi dari lini produk Asha yang terdiri dari model 200, 201, serta 300.

Asha 303, yang menggunakan metoda input QWERTY dan layar sentuh, resmi diluncurkan di Indonesia pada Kamis (24/11) silam di Lobby FX F’Center, Jakarta. Head of Marketing Nokia Indonesia Lukman Susetyo mengatakan, Asha 303 menyasar langsung konsumen muda, dengan mengandalkan fitur chatting (YM, FB, GTalk, dan Live MSN), WhatsApp, sosial media (FB, Twitter), serta musik.

Meski menggunakan sistem operasi S40, fitur-fitur yang dibenamkan dalam Asha 303 tidak kalah dengan smartphone pada umumnya. ”Nokia Asha memberikan pengalaman smartphone,” sebut Anvid Erdian, Product Manager Nokia Indonesia.

Selain itu, Asha juga didukung oleh berbagi layanan dari Nokia, seperti Nokia Maps, Nokia Life Tools, serta Nokia Music. Nokia Maps, misalnya, sudah dilengkapi peta lokal dan bisa digunakan secara offline (tanpa perlu koneksi data). Inilah salah satu fitur peta terbaik di mobile.

Sedangkan Nokia Music untuk kali pertama dihadirkan pada platform S40. Nokia Music merupakan layanan musik dengan bisnis model yang terbaik di indonesia selama ini. Setelah membeli, pengguna bisa mengunduh lagu sepuasnya selama enam bulan.

Dengan berbagai dukungan layanan, pengguna memang dimanjakan. Namun, di lapangan, ponsel dengan harga Rp 1.470.000 ini punya banyak lawan berat. Asha harus bersaing dengan “smartphone” Android low end seperti Galaxy Mini atau Galaxy Y CDMA yang dibanderol dengan harga Rp1,1 juta-Rp1,2 jutaan.

Jika dapat disebut kelemahan, layar sentuh Nokia Asha 303 yang hanya 2,6 inci terbilang kecil dibandingkan misalnya Galaxy Y yang 3 inci. Meski, secara performa Asha 303 berani diadu. Antara lain dibekali prosesor 1 GHz, memori eksternal hingga 32 GB, serta kamera 3,2 megapiksel. Ponsel dengan konektivitas 3G dan WiFi ini tersedia dalam 2 warna yakni merah dan graphite.

Iklan