Promo DealKeren di FX Lifestyle X'nter, Sudirman, Jakarta Selatan.
Promo DealKeren di FX Lifestyle X'nter, Sudirman, Jakarta Selatan.
Daily deals semakin menjanjikan. Pemainnya terus bertambah, layanannya juga bervariasi. Bagaimana masa depan layanan ini di Indonesia?

Bukan hanya di Indonesia, di Amerika pun bisnis model daily deals tergolong baru. Layanan itu dipopulerkan oleh startup bernama Groupon, yang sempat menolak pinangan akuisisi Google senilai USD6 miliar itu. Saat ini Groupon menjadi salah satu perusahaan digital tersukses di dunia. Awal November ini mereka baru saja melantai di bursa saham dengan menggelar IPO dan berhasil menjaring dana segar senilai USD700 juta.

Daily deal adalah penawaran diskon untuk pembelian barang ritel, makanan, hingga jasa. Yang membuat model bisnis daily deal menarik adalah diskon yang bisa mencapai 10% hingga 70% dari harga normal. Di Indonesia, layanan daily deal mulai masuk pada pertengahan 2010. Meski sejak itu banyak pemain berdatangan, hanya beberapa situs daily deal/group buying yang menonjol.

Sebut saja DealKeren yang berafiliasi dengan LivingSocial, perusahaan social commerce yang mempelopori layanan group buying di Amerika. Ada pula Disdus yang merupakan kepanjangan tangan Groupon di Indonesia. Sisanya adalah pemain baru yang datang dan pergi. Ada yang rontok ditengah jalan. Tak sedikit yang datang dengan memberikan deferensiasi layanan atau lebih spesifik.

Kindercube misalnya, merupakan situs daily deal yang berfokus pada produk perlengkapan bayi. Startup lainnya memilih untuk menggamit pasar lokal di kota tertentu. Sebut saja Mbakdiskon.com di Yogyakarta ataupun Murahrek.com di Surabaya. Lainnya itu, ada situs agregator daily deal seperti DealGoing.com. Jika ditotal, saat ini ada sekitar 30-an pemain daily deal aktif di Indonesia.

Managing Director DealKeren Adrian Suherman mengakui, banyak yang tergiur untuk masuk ke dalam model bisnis daily deal karena kelihatannya mudah. ”Secara kasat mata, model bisnis ini murah tapi menjanjikan keuntungan besar,” katanya.

”Murah” karena dinilai tidak perlu modal besar. Hanya seperangkat komputer dan koneksi internet. Tapi, nyatanya tidak sesimpel itu. Daily deal justru butuh banyak sales force yang bertugas berhubungan dengan merchant, hingga customer service untuk menjawab pertanyaan pelanggan.

Operasionalnya juga cukup kompleks, salah satu yang tersulit adalah memastikan agar merchant patuh dengan kesepakatan. ”Setelah menjalani, banyak yang menyadari bahwa daily deal adalah bisnis yang kompleks. Tak heran jika banyak pemain baru yang gugur ditengah jalan,” ujarnya.

Terakhir dan terpenting, bisnis daily deal juga membutuhkan fokus dan komitmen jangka panjang, yang berarti modal tidak sedikit.
Tak heran, jika hanya pemain serius saja yang bisa bertahan di bisnis ini. Faktanya, hampir 90 persen market share daily deal di Indonesia dimiliki oleh DealKeren dan Disdus/Groupon Indonesia. Sementara 10 persen sisanya diperebutkan oleh 28 pemain lain.

Setelah diakuisisi oleh LivingSocial, misalnya, DealKeren mencatat kemajuan signifikan. Saat ini mereka memiliki 800 ribu anggota terdaftar dan telah bekerjasama dengan lebih dari 700 merchant. Pertumbuhan pengguna DealKeren perbulannya mencapai 20-30 persen.

Business Strategy Director DealKeren Indonesia Sandra Tristiani mengungkap, daily deal adalah salah satu bisnis yang sangat prospektif di masa mendatang. ”Selama konsumen bisa merasakan diskon dan perbedaan harga, saya yakin dalam 3-4 tahun mendatang daily deal akan terus berkembang,” katanya.

Pada 9-13 November silam, DealKeren juga menggelar acara yang disebut Suprise Dealites di FX Lifestyle X’enter. Pengguna bisa membeli voucher diskon sebesar 50 persen di beberapa tenant di FX. ”Ini adalah aktivasi social commerce di mal pertama di Indonesia,” ujar Sandra, yang menargetkan pembelian 1.200 orang per harinya.

Strategi ini pula mereka gunakan sebagai media edukasi, baik dari konsumen maupun merchant. Kepada konsumen, target mereka adalah mendapatkan konsumen baru yang melakukan frequent buying.

Sementara dari sisi merchant, pihaknya ingin memberi pengertian bahwa daily deal bisa menjadi channel marketing alternatif. Namun, pengetahuan teradap e-commercer bervariasi. Ada yang paham, dan ada pula yang tidak. ”Dengan bujet minim, efek jangka panjangnya akan terasa. Beberapa merchant kita misalnya mendapatkan 80 persen pelanggan baru,” katanya. ”Inilah touch point yang paling gampang untuk mengedukasi pelanggan terhadap daily deal,” ia menambahkan sambil menyebut target 1 juta member hingga akhir tahun.

Iklan