Model memperlihatkan kamera Samsung NX-200 seharga Rp8,5 juta.
Model memperlihatkan kamera Samsung NX-200 seharga Rp8,5 juta.
Meski masih baru, kamera mirrorless sudah digadang-gadang sebagai kamera masa depan. Inilah kamera yang kualitasnya hampir setara DSLR, namun ukurannya seringkas dan seringan kamera saku.

Deretan foto street photography yang ditunjukkan oleh pewarta foto Beawiharta dalam Media Workshop Samsung Digital Imaging di Kenari Room, JCC, Rabu (2/11) itu sangat dramatis.

Pria yang sudah lebih dari 10 tahun menjadi fotografer kantor berita Reuters itu mengabadikan komposisi cantik dari berbagai kegiatan keseharian warga Jakarta: di dalam KRL, pasar tradisional, hingga pinggiran sungai. Yang tidak disangka-sangka, foto-foto indah itu ternyata tidak dijepret dengan DSLR seharga puluhan juta yang biasa ia gunakan sehari-hari. Namun, melalui mirrorless interchangeable-lens camera (MILC) Samsung NX-200.

Menurut Beawiharta, ukuran NX-200 yang kompak dan ringan membuatnya lebih bebas memotret. ”Kamera besar menakutkan orang yang difoto, kesannya intimidatif,” katanya.

Selain itu, DSLR yang berat amat menyakitkan saat dibawa dalam waktu lama sehingga tidak praktis. ”Kamera besar dan berat itu gagah untuk sementara waktu. Setelah perasaan itu hilang kamera akan kita tinggal di dalam laci. Ketika membawa saja kita merasa enggan, kapan kita akan memotret?” bebernya.

Ukuran memang jadi pertimbangan utama pembeli MILC, kamera digital jenis baru yang berada di posisi antara kamera DSLR dan kamera poket. Dengan membuang mirror, desain kamera MILC bisa dipangkas lebih kecil, bobotnya pun lebih ringan. Ketiadaan mirror juga berdampak besar pada fitur. Kecepatan memotret frame per detiknya bertambah.

Tapi, ada dua alasan utama yang membuat jenis kamera ini sangat menarik bagi para penggemar fotografi. Pertama adalah sensor gambar yang lebih besar dari kamera poket. NX-200 menggunakan Advanced Photo System type-C (APS-C), sensor berukuran 23.4 × 15.6 mm yang juga digunakan oleh DSLR medium saat ini.

Ukuran sensor yang besar berdampak pada banyaknya detail yang bisa ditangkap, berpengaruh pada ketajaman gambar, akurasi warna, serta performa di kondisi pencahayaan minim.

Faktor kedua adalah lensa MILC yang bisa ditukar-tukar. Saat ini Samsung memiliki 9 lensa berbeda yang dapat digunakan oleh NX-200. Mulai dari 60mm Macro, 18-200 mm Long Zoom, 16mm Ultra Wide Pancake, hingga 85mm yang premium. Meski harganya tidak murah, tapi pilihan yang diberikan kepada konsumen sudah sangat beragam.

Dengan keunggulan tersebut, tak heran jika NX-200 handal saat digunakan dalam berbagai kondisi pemotretan.

”NX-200 lebih dari cukup untuk digunakan memotret fashion dan modeling, lansekap, jurnalistik, serta street photography,” tegas Beawiharta.

Street photography, kategori fotografi dokumenter yang mengambil obyek di tempat umum–seperti jalanan, mall, stasiun kereta, pasar–dalam keadaan candid (spotan dan cepat), akan sangat cocok menggunakan kamera MILC ini. ”Reaksinya cepat, setara DSLR terbaru. Tidak menakutkan karena kecil. Dan hasilnya sangat bagus,” ujar Bea lagi.

Ia juga percaya bahwa kamera interchangeable lens seperti Samsung NX200 adalah kamera masa kini dan masa depan. ”Hanya soal waktu saja orang akan beralih dari DSLR ke jenis kamera ini,” tuturnya.

Fakta dilapangan memang menguatkan hal ini. Tahun lalu market share kamera MILC di Indonesia memang masih sangat kecil. Menurut data GfK jumlahnya hanya 1 persen. Masih jauh dibandingkan market share kamera poket yang 90 persen dan DSLR 10 persen. Namun, tahun depan diprediksi MILC secara agresif akan memakan pangsa pasar kamera poket premium, tumbuh hingga 5 persen. ”Jika nanti harga MILC semakin turun, kamera poket premium bakal tergerus,” ujar Febri Rusli, Product Marketing-Digital Imaging Manager PT Samsung Electronics Indonesia (SEIN).

Ia melihat ada dua segmen utama yang menjadi target pasar MILC. Pertama adalah para fotografer profesional yang mencari kamera kedua. Sebuah kamera yang memenuhi standar kualitas profesional, tapi berukuran lebih ringkas.

”Fotografer profesional tidak bisa beralih dari satu merek lainnya. Sebab fotografi adalah investasi mahal. Terutama lensa yang harganya bisa mencapai puluhan juta,” ujar Febri. ”Tapi saya melihat pergeseran dari DSLR ke MILC ini berlahan akan terjadi,” ia menambahkan.

Segmen kedua, lanjut Febri, adalah mereka yang tidak tertarik dengan segmen DSLR, tapi sudah lelah dengan kualitas kamera poket yang kurang baik. ”Segmen ini menginginkan kamera poket yang ringkas tapi berkualitas,” tandas Febri lagi.

Pilihan produk MILC di pasar Indonesia saat ini sudah sangat banyak dan beragam. Samsung meluncurkan produk MILC pada 2010 lewat NX-10, disusul NX-11 dan NX-100. Sebelumnya sudah ada Olympus EP1, EP2, EPL1, dan EPL2, serta Panasonic Lumix DMC-GF1 dan GF2.

Sony juga percaya diri dengan line-up NEX-3, NEX-5, serta NEX-7 terbaru yang belum dirilis. Nikon yang mulanya enggan masuk ke segmen ini juga sudah punya produk andalan, yakni J1 dan V1, walau belum resmi dipasarkan di Indonesia.

Kelebihan dan Kekurangan Kamera Mirrorless:
Kelebihan:
– Ringan dan kompak, praktis dibawa-bawa.
– Lebih kokoh, karena lebih sedikit komponen bergerak.
– Ukuran lensanya lebih kecil, kompak, dan tidak berat.
– Kualitas sensornya besar, hampir menyamai DSLR.
– Kemampuan jepret frame per second-nya tinggi, setara DSLR.
– Sensor besar sehingga menghasilkan kualitas gambar sangat bagus.
– Movie berkualitas HD, dengan mikrofon stereo.
– Shutter lag, atau jeda ketika shutter dipencet sangat singkat.
– Kamera responsif, auto focusnya cepat.

Kekurangan:
– Saat ini harganya masih mahal, sama dengan DSLR.
– Variasi lensa yang bisa digunakan tidak sebanyak DSLR.
– Tidak memiliki optical viewfinder.
– Menggantungkan diri pada LCD/viewfinder elektronik membuat baterai lebih boros.
– Kualitas gambar pada ISO tinggi tidak sebaik DSLR.

Berikut ini adalah hasil jepretan Beawiharta, fotografer Reuters, yang keren banget. Sebagian besar sengaja dibuat hitam putih untuk menegaskan dept of field. Memang, tidak peduli apapun kamera yang digunakan, yang lebih penting adalah “man behind the gun”. Silahkan lihat sendiri :