Research in Motion (RIM) adalah vendor yang dikenal sangat konservatif dalam mendesain handset BlackBerry mereka. Transformasi dari model ke model cenderung stagnan, nyaris tanpa perubahan radikal dan mendasar.

Itu, sebelum mereka mengumumkan kerjasama mereka dengan pabrikan mobil mewah asal Jerman Porsche. Pekan lalu RIM membuat dunia terkejut saat meluncurkan BlackBerry Porsche P‘9881.

Walau jeroannya masih BlackBerry, tapi desain Porsche P‘9881 tidak mirip dengan model BlackBerry manapun. Karena itu ada kelakar yang mengatakan bahwa Porsche P‘9881 adalah 1 persen BlackBerry dan 99 persen Porsche.

Ponsel ini dijual sangat terbatas. Diluncurkan langsung di Dubai pada Kamis (27/10) silam dengan mengundang tamu VIP, orang-orang superkaya disana. Maklum, harga ponsel ini mencapai USD2,000 (Rp17 juta). Walau tidak semahal Vertu, ponsel superpremium asal Inggris itu, namun harganya tetap terbilang mahal.

Dan sayangnya meski satu buah BlackBerry Porsche P‘9881 bisa ditukar dengan 3 buah BlackBerry Dakota (Bold 9900), pengguna tidak akan mendapatkan spesifikasi yang hebat. Fiturnya justru tak berbeda dengan Dakota.

Antara lain prosesor 1 GHz, memori internal 8 GB, serta dukungan microSD hingga 32 GB, kamera 5 MP yang mampu merekam video 720p, menggunakan OS7, serta NFC. Jika diadu fiturnya, mungkin ponsel mahal itu hanya membuat pengguna Samsung Galaxy S II ataupun iPhone 4S tertawa.

Tapi, seperti halnya Vertu pun, yang diunggulkan dari BlackBerry Porsche P‘9881 memang desain, bukan fitur. Sasisnya terbilang mewah. Lekukan desainnya tegas dan tajam. Dengan bezel dan keyboard yang disepuh warna abu-abu, smartphone tersebut terlihat futuristik.

Langkah vendor elektronik berkolaborasi dengan pabrikan mobil mewah memang sudah jamak ditemui. Automobili Lamborghini, produsen supercar Lamborghini menggandeng Asus, vendor komputer asal Taiwan untuk mendesain laptop seri VX. VX adalah laptop gaming dengan harga mahal dan spesifikasi tinggi yang dinilai mampu mewakili ikon “galak” mobil Lamborghini.

Hal yang sama dilakukan oleh Acer dan Ferrari. Kolaborasi keduanya tidak hanya di dalam produk laptop ultraportable dengan spesifikasi tinggi, melainkan juga jajaran smartphone Acer Liquid (edisi Ferrari).

Hanya saja, kolaborasi RIM dan Porsche ini dikomentari nyinyir oleh Marc E. Babej, kolumnis majalah Fortune. Dikatakannya, alih-alih fokus mengejar ketertinggalannya terhadap iOS dan Android, RIM justru membuat langkah yang menurutnya tidak signifikan. ”Bukan dengan cara seperti ini RIM bisa bangkit,” sindirnya.

Iklan