Saya tidak percaya mengatakan ini, tapi saya memilih Galaxy S II dibanding iPhone 4
Saya tidak percaya mengatakan ini, tapi saya memilih Galaxy S II dibanding iPhone 4
Wajar saja jika Samsung Galaxy S II sudah dibanding-bandingkan dengan iPhone 4 bahkan sebelum smartphone itu dirilis. Inilah ponsel Android yang fiturnya lebih unggul dari smartphone keluaran Apple itu.

Mereka yang mengantri untuk menjadi yang pertama mendapatkan Galaxy S II di Lobi Selatan Mall Pacific Place, 23 Juli silam jelas tidak kecewa. Karena mereka mendapatkan handset Android terbaik di Indonesia saat ini.

Kesimpulan tersebut muncul setelah lebih dari dua pekan menggunakan smartphone ini untuk berbagai kegiatan: mengetik, bermain game, memotret, berinternet, menonton video, menjalankan aplikasi, hingga membaca majalah PDF.

Keunggulan utama Galaxy S II ada pada layar Super Amoled Plus yang mencapai 4,3 inci. Ukuran yang besar ini memaksimalkan semua aktifitas saya lakukan diatas.

Bermain game yang butuh detail tinggi seperti Samurai II: Vengeance THD, Shadow Guardian, ataupun Captain America jadi jauh lebih nikmat. Selain ketajaman grafisnya lebih muncul, kontrolnya juga lebih mudah.

Sebagai catatan, prosesor dual core ARM-Cortex 1,2 GHz dan RAM 1 GB begitu powerful hingga nyaris tidak lag sama sekali dalam memainkan game yang membutuhkan memori besar itu. Hal yang sama terasa ketika digunakan untuk mengetik. Pemilik jempol besar seperti saya tidak akan kesulitan bahkan untuk mengetik cepat.

Dan keasyikan lain adalah saat menggunakan Galaxy S II untuk menonton video melalui YouTube atau yang sudah diunduh sebelumnya. Memang tidak senikmat tablet, tapi dengan luas penampang layar hingga 4,3 inci, lebih dari cukup untuk menikmati video di perjalanan. Buktinya, Galaxy S II adalah teman favorit saya saat comuting menggunakan KRL dari Bogor-Jakarta dan sebaliknya. Bahkan dalam kondisi kereta penuh sekalipun, saya masih bisa mengeluarkan smartphone ini, menonton video, dan memasang earphone tanpa mengganggu orang lain

Yang membuat saya terkesima justru dari ukurannya yang teramat tipis. Tebalnya hanya 8,49 milimeter, lebih tipis dibandingkan iPhone 4 yang sekitar 9.3 milimeter. Beratnya juga hanya 116 gram, ringan sekali. Seperti sedang mengantongi feature phone berbentuk candybar biasa. Tidak ada satu vendor pun yang bisa menyaingi Samsung Galaxy S II di Indonesia untuk kombinasi ukuran dan berat di ukuran layar sebesar ini.

Satu-satunya yang harus dikorbankan dari ukuran yang tipis dan ringan ini adalah kualitas speaker yang keras tapi tidak jernih (cempreng). Ya, untung lah hal ini buat saya tidak terlalu mengganggu. Meski, mungkin saja ada orang-orang yang merasa kualitas sound adalah bagian penting dari sebuah smartphone.

Hal lain yang jadi favorit saya lainnya adalah koneksi Wi-Finya sangat cepat. Menggunakan aplikasi Keepvid, saya bisa mengunduh video berukuran 20 Mbps-30 Mbps hanya dalam puluhan detik lewat jaringan Wi-Fi di kantor saya (yang memang cepat). Kualitas koneksi jelas berpengaruh, tapi saya sudah membandingkannya dengan ponsel Android lain (HTC Desire S) dan hasilnya ternyata tidak secepat itu.

Memori internal 16 GB juga sangat membantu. Artinya, saya tak perlu repot membagi instalasi aplikasi di memori eksternal (SD Card) dan internal. Ataupun melakukan rooting untuk membuat memori internal lebih besar. Semua video, lagu, game dan aplikasi ditampung di dalam flash memori internal. Praktis.

Bagaimana dengan kualitas kamera? Ponsel ini memiliki kamera 8 MP yang mampu merekam full HD 1080p dalam 30fps. Artinya, ini adalah handset yang sangat tangguh dan mumpuni bagi mereka yang gemar membuat film pendek melalui smartphone. Kualitas kameranya “jahat”, karena mengungguli handset Android lainnya ketika dicoba dalam kondisi minim cahaya (low light). Kamera Galaxy S II adalah salah satu yang terbaik yang pernah saya coba.

Hal yang mengganjal buat saya adalah tampilan antar-muka Android Gingerbread (2.3) yang sangat standar. Ini berbeda dengan HTC yang terlihat lebih manis dan sophisticated. Ikon-ikon di HTC lebih unik, flownya lebih fluid, dan tampilannya lebih cantik. Pengalaman untuk mengakses Social Hub di Samsung, misalnya, kurang berkesan dibandingkan FriendStream milik HTC.

Hanya saja, dalam penggunaan yang sama, saya merasakan bahwa Galaxy S II jauh lebih hemat baterai. Bukan tidak mungkin sistem operasi yang telah “dimodifikasi” oleh HTC itu berpengaruh terhadap konsumsi baterai. Tapi, faktor lainnya adalah layar Amoled Plus yang diklaim Samsung dapat menghemat daya baterai hingga 18 persen. Ukuran baterainya pun sudah sangat besar, mencapai 1650 mAh.

Sejauh ini hanya Galaxy S II yang mampu mengimbangi cara konsumsi saya terhadap konten yang cukup masif. Jika Anda ingin membeli ponsel Android high-end yang paling sempurna, Galaxy S II adalah jawabannya. Itu, jika Anda percaya pada saya.

Iklan