Aelke Mariska, Suhendar, dan Desta
Aelke Mariska, Suhendar, dan Desta
Tidak ada alasan bagi Pocari Sweat Indonesia untuk tidak melanjutkan sukses Ionopolis, game interaktif pertama yang menggabungkan tiga layanan sosial media sekaligus: Facebook, Twitter, dan Foursquare itu.

Ionopolis meraih popularitas tinggi dalam waktu relatif singkat. Kurang dari empat bulan sejak diluncurkan pada 25 Oktober 2010 silam, tercatat ada 93.700 pemain yang mendaftar.

Sebagai game online, Ionopolis tampil beda. Tampilannya catchy, menggunakan media komik. Kental dengan unsur fun dan edukatif, serta memiliki cara bermain interaktif. Kehebohan Ionopolis di sosial media menciptakan promosi viral yang cepat menyebar.

Dengan formula yang kurang lebih sama, Pocari Sweat Indonesia melahirkan game kedua, Explorion, yang diklaim sebagai online quest game pertama di Indonesia.

Explorion memang mengajak pemain bertualang. Mereka harus mengesplorasi berbagai negara untuk mencari 9 komponen sepeda milik gadis cantik bernama Aelke. Komponen sepeda milik Aelke yang menghilang itu tersebar di 5 benua.

Jadi, selama 8 minggu game ini berlangsung, pemain harus menggali informasi dengan menjelajahi 30 negara di 5 benua untuk menjawab berbagai pertanyaan. Bisa melalui Google Maps hingga mesin pencari Yahoo! atau Google Search.

Ketika setting game berada di Australia misalnya, peserta akan ditanya soal kota Syndey dan Queensland. Atau ketika berada di Amerika, ada pertanyaan seputar negara Chile dan Bolivia.

Poin akan bertambah jika setiap komponen sepeda berhasil dikumpulkan, serta menyelesaikan tantangan main quest dan side quest. Semakin lengkap komponen dikumpulkan, semakin banyak poin diraih, maka semakin besar kesempatan untuk memenangkan hadiah berupa grand prize liburan ke Jepang.

Explorion dapat diakses secara online melalui komputer di pocarisweat.co.id/explorion atau m.pocarisweat.co.id/explorion. Karena sifatnya terintegrasi dengan sosial media, game ini akan mengharuskan pemain untuk berinteraksi dengan Facebook, Twitter, ataupun Foursquare saat pertama mendaftar, juga untuk mendapatkan poin tambahan. Yakni, dengan cara men-share keberhasilan mereka di Twitter ataupun Facebook.

Senior Product Marketing Manager Pocari Sweat Indonesia Ricky Suhendar menyebut bahwa respon terhadap Explorion bisa jadi melebihi Ionopolis. Betapa tidak, dua pekan sejak peluncuran perdananya pada 26 September silam sudah ada 30 ribu orang yang terdaftar memainkan game tersebut. ”Setiap harinya ada 3.000 hingga 5.000 pemain baru,” ujarnya.

Respon yang di dapat lewat permainan Ionopolis maupun Explorion ini, diakui Suhendar, mengejutkan. ”Karena ternyata masyarakat Indonesia sudah sangat aware dengan teknologi serta kampanye digital marketing,” ujarnya.

Dengan 26 juta pengguna Facebook dan negara pengguna Twitter ketiga terbesar di dunia setelah Amerika dan Brazil, dampak dari sosial media di Indonesia memang luar biasa.

”Sosial media tidak bisa dipisahkan dari anak muda,” ujar Aktor/musisi Deddy Mahendra Desta. ”Dulu ada Friendster, sekarang Facebook dan Twitter. Anak muda cepat sekali mengikuti perkembangan teknologi. Karena kalau tidak ikutan, mereka akan dicap ketinggalan jaman,” tambah pemilik akun Twitter @desta80s ini.

Game yang berinteraksi dengan sosial media, menurut Desta, akan sangat mudah melebur dengan anak muda. ”Penyebaran viralnya cepat sekali. Ketika tahu temannya sedang bermain sesuatu, temannya akan ikutan, begitu seterusnya,” kata Desta.

Kecepatan memang menjadi kekuatan utama kampanye digital marketing. Hal ini juga diakui oleh Suhendar. ”Kecepatan di sosial media sangat membantu perusahaan dalam menyebarkan awarness,” katanya.

Tapi, apakah kampanye digital seperti ini bisa membawa pengaruh besar bagi penjualan? Diakui Suhendar, hal itu tidak bisa dipastikan. Tapi, yang terpenting kampanye yang ingin mereka gaungkan mudah sampai ke konsumen.

”Dalam hal ini, seputar hubungan cairan dan ion tubuh dengan aktifitas keseharian. Misalnya jika berjalan-jalan selama 1 jam di mal bisa menghabiskan cairan tubuh sama dengan bersepeda selama 20 menit,” katanya.

Sebelum 2005, Pocari Sweat memang menguasai pasar minuman isotonik sendirian. Tapi, saat ini kompetitor sangat banyak. Pangsa pasar mereka saat ini menjadi hanya sekitar 50 persen.

Kompetisi yang sengit ini menuntut perusahaan untuk tidak berhenti berinovasi. Salah satunya dengan menggunakan media sosial ini untuk menyasar ke anak muda.

Pocari yang dulunya lebih dikenal untuk segmen pasar usia 25-30 tahunan kini memperlebar target marketnya ke usia 15-25 tahun yang rata-rata adalah pengguna internet dan pemain game.

Merek ibarat sahabat bagi konsumennya. Jika konsumen berubah, maka merek pun harus ikut berubah. Kalau tidak akan ditinggalkan. Hal inilah yang diyakini oleh Suhendar. Menurutnya, kunci keberhasilan merek besar adalah menggunakan strategi yang tepat.

Aelke Mariska dan Suhendar dalam Pocari Sweat Explorion Press Conference
Aelke Mariska dan Suhendar dalam Pocari Sweat Explorion Press Conference
Iklan